
Pria bernama Joey Christian Damanik merupakan pria tampan berusia 10 tahun. Dia berasal dari kalangan keluarga cukup terpandang, hanya saja Joey tidak merasakan kasih sayang kedua orang tuanya secara penuh.
Semua itu disebabkan oleh kesibukkan kedua orang tua Joey yang terlalu mementingkan pekerjaan masing-masing, dari pada harus menemani anaknya. Maklum saja, Joey terlahir dari keluarga yang cukup gila akan kesuksesan. Sehingga, kasih sayang kedua orang tuanya harus tergantikan oleh kasih sayang pembantu serta babysitternya.
Loh, kok bisa diusia yang sudah bisa melakukan semuanya serba sendiri, Joey masih mengandalkan babysitter? Ya, itulah jawabannya.
Hanya dengan cara menyewa babysitter untuk bisa menjaga serta memperhatikan Joey, sudah membuat kedua orang tuanya tenang. Padahal tanpa di sadari, hal seperti itu malah membuat Joey merasa sedikit iri sama teman-temannya yang selalu mendapatkan kasih sayang begitu melimpah. Sementara dirinya, di hari libur saja masih harus bermain seorang diri tanpa merasakan liburan bersama keluarga.
Perlahan Joey mulai menggesekkan kartu milik Yola ke mesin, setelah lampu-lampu kembali menyala. Artinya mesin tersebut sudah siap untuk di mainkan. Tangan Joey mulai mengarahkan mesin capit sesuai sama permintaan Yola.
"Ya, ya. Dikit lagi, Kak. Ayo, semangat, semangat, semangat!"
"Nah, ya. Aku mau boneka itu, Kak. Lucu 'kan? Iya dong, makannya ambil yang itu, Kak. Ayo, cepat. Aku tidak sabar haha ...."
Yola begitu antusias saat melihat capitan itu mengenai badan boneka yang dia inginkan. Saking senangnya, Yola melompat penuh kegirangan karena dia berpikir sebentar lagi boneka tersebut akan jatuh ke dalam pelukannya.
Namun, sayangnya. Boneka itu terjatuh dari capitan tersebut ketika dikit lagi sampai ke lubang yang akan membawanya keluar dari kotak tersebut.
"Yaaahhh ... Kok jatuh sih, harusnya 'kan dia udah ada di tanganku. Terus kenapa pakai jatuh segala sih!" ucap Yola, ngomel-ngomel layaknya ibu-ibu kurang jatah bulanan.
"Ya, gimana enggak jatuh orang mulutmu berisik banget. Jadi, konsentrasiku buyar saat mendengar suara cemprengmu itu!" seru Joey, menoleh ke arah Yola.
Begitu juga Yola, langsung menatap ke arah Joey dengan tatapan kesal, "Loh, kenapa Kakak nyalahin aku? Emangnya mulutku ini sebawel itu apa, hahh?"
"Suuttt, diam!"
Joey menaruh jari telunjuknya di bibir, saat melihat Yola kembali terdiam. Joey langsung mengulang semuanya, baginya ini adalah permainan yang sangat mudah.
Tanpa Yola ketahui, sudah hampir semua mainan Joey taklukkan. Hanya saja, entah mengapa baru kali ini dia gagal kembali setelah sekian lama mencobanya.
Yola mencibirkan bibirnya berulang kali, rasanya dia benar-benar kesal. Tangannya hampir saja mencekram kepala Joey, tetapi tidak jadi lantaran Yola harus bersabar sesuai dengan janninya tadi.
Wajah Joey refleks menoleh, dalm posisi tangannya masih mencekram tombol mencapit boneka. "Sekali lagi kamu mengumpat di belakangku, maka aku tidak lagi mau menolongmu. Mengerti?"
"Heheh ... Ya-ya maaf, Kakak. Jangan marah ya, nanti kalau menang juga, pasti aku kasih hadiah kok. Piss!"
2 kali Joey gagal membuat Yola selalu meledeknya menggunakan kata-kata yang malah membuat semangat Joey semakin membara.
Di capitan ketiga, di situlah mata Yola membelalak sangat lebar ketika boneka yang dia inginkan berhasil dia ambil oleh Joey menggunakan capitan.
"Nahkan, sudah aku bilang! Jangan remehkan aku, hampir semua permainan di sini bisa aku taklukan hanya beberapa menit. Jadi, jangan lagi meremehkan aku. Bisa?" ucap Joey, memperlihatkan gaya coolnya.
"Wa-waw? I-ini seriskah?" tanya Yola yang masih syok. Tanpa menunggu lama, Yola langsung berjongkok di dekat lubang. Setelah suara yang ada di dekatnya berhenti, tangan Yola langsung segera mengambil boneka tersebut.
"Yeey ... Berhasil, hore, hore! Haha ...."
"Akhirnya kamu ada di dalam pelukanmu juga, kuda poniku sayang. Muach hihi ...."
Melihat kebahagiaan di raut wajah Yola, membuat Joey tersenyum. Yola terus berjingkrak-jingkrakan sambil memeluk boneka serta mengangkatnya ke atas udara.
Dari kejauhan Becca dan Rio pun ikut merasa senang saat melihat Yola sebahagia itu ketika dia bisa menaklukan permainannya. Hanya saja Becca sedikit khawatir saat Yola berdekatan sama pria tidak di kenalinya.
"Kak, i-itu siapa? Kenapa dia menolong Yola? Apa jangan-jangan dia bagian dari komplotan penculikkan anak? Jika benar, aku harus segera---"
"Sudahlah biarkan saja, ini Mall tempat terbuka. Apa lagi di sini juga tempat mainan. Jadi, jelas akan ada banyak teman-teman buat mereka. Selagi aman, kita pantau dari sini aja. Kalau kita banyak melarang, anak malah tumbuh menjadi kurang baik. Hitung-hitung ini pelajaran bagi mereka, agar bisa berteman dengan siapapun di mana-mana tanpa rasa takut."
Penjelasan Rio cukup membuat Becca paham. Lalu dia menganggukan kepalanya meski di dalam hatinya masih kurang nyaman. Walau Rio membebaskan Yola, tetapi Becca masih kurang nyaman.
Kembali lagi ke Yola dan Joey, terlihat sekali kalau Yola begitu bahagia. Sehingga suaranya behasil menggelegar di sekitarnya, serta membuat Naku yang ada di ujung langsung menoleh melihat sang adik.
Wajah Naku begitu bingung ketika melihat Yola sangat antusias saat mendapatkan apa yang di inginkannya. Di mana Yola masih melompat-lompat penuh kesenangan bersama pria yang menjadi sorotan matanya.
.......
.......
.......
...💜💜>Bersambung<💜💜...