Jangan Renggut Kebahagiaanku!

Jangan Renggut Kebahagiaanku!
Perubahan Becca


3 hari telah berlalu, kondisi Becca pun sudah jauh lebih membaik. Akan tetapi, Becca sedikit menunjukkan sikap yang lebih dingin kepada suaminya.


Apa lagi sekedar di sentuh saja, Becca masih berusaha untuk menghindar dengan berbagai alasan. Sehingga membuat Gala merasa beberapa kali merasa curiga.


Becca yang baru saja selesai dari acara mandinya, segera duduk di depan cermin rias untuk sedikit mempoleskan wajahnya.


Namun, tidak lama terdengar suara pintu yang terbuka. Dimana Gala baru saja kembali ke kamarnya, dari ruangan kerja.


Langkah kaki Gala seketika terhenti saat indra penciu*mannya langsung di suguhkan oleh aroma wangi sabun yang sangat menyengat.


Kurang lebih 1 Minggu ini, Gala belum menyentuh istrinya. Padahal biasanya mereka hampir melakukannya setiap hari walaupun dalam keadaan lelah.


Semua itu memang telah menjadi perjanjian mereka di awal pernikahan, karena mereka tidak akan menyia-nyiakan waktu kebersamaan yang hanya tercipta di malam hari.


Hanya saja, kali ini berbeda. Semenjak Becca telah mengetahui kebusukan suaminya di belakangnya, seakan dia sangat jijik untuk mendekat. Jika bukan karena rasa sakit yang harus terbalaskan, mungkin saat ini Becca sudah tidak akan lagi tinggal serumah bersama suaminya.


Beberapa kali Gala berusaha untuk mendekat, Becca yang selalu menjauh. Sama halnya seperti sekarang, Gala mencoba untuk memeluk Becca dari arah belakang dalam posisi masih duduk di depan cermin. Akan tetapi, Becca malah sangat terkejut dan langsung berdiri tepat di hadapannya.


Tanpa di sengaja tangan Becca refleks menampar Gala dan membuatnya sangat bingung atas perubahan istrinya saat ini.


"Sa-sayang? Ka-kamu---" Gala menatap istrinya sambil memegangi pipi kirinya.


"Ma-maaf, a-aku refleks." ucap Becca, tetap berusaha tenang walau jantungnya sudah berdebar tidak karuan.


Satu kalimat itu benar-benar membuat kecurigaan Gala semakin kuat. Sebab, Becca yang dia tahu tidak akan pernah melakukan hal seperti itu sekalipun dia sedang marah.


Dari sorotan yang di berikan Becca, Gala berhasil menangkap ada sesuatu yang tidak beres dengannya. Baru kali ini Gala bisa melihat adanya sebuah amarah atau pun emosional yang begitu besar terhadapnya dari tatapan istrinya.


"Ada apa sama tatapanmu, Becca? Kenapa semua berubah setelah melihatku?"


Kedua mata Gala menatap instens istrinya, sambil mencari apa yang sedang Becca sembunyikan darinya.


"E-enggak, a-aku biasa saja." jawab Becca, mengalihkan pandangan.


"Tidak. Ini bukan sifat Becca yang aku kenal!" sahut Gala, saat melihat Becca kembali fokus merias wajahnya.


Becca sengaja melakukan itu demi menutupi rasa amarah di dalam hatinya yang hampir saja meluap. Apa lagi saat dia menatap wajah suaminya dalam jarak yang sangat dekat.


"Apaan sih, Gal! Jangan ngaco deh, kalau aku bukan Becca terus aku siapa? Lola?"


Degh!


Satu nama lolos dari bibir Becca dengan sedikit menyindir suaminya. Sikap Gala pun seketika langsung berubah drastis. Dia terlihat sangat gugup dan juga salah tingkah.


"Please, Becca! Jangan mulai lagi, deh. aku capek di tuduh yang tidak pernah aku lakuin, berapa kali sih aku bilang sama kamu. Aku ini tidak selingkuh!"


Gala menekankan kata-katanya dengan menunjukkan wajah yang begitu gugup. Keringat dingin perlahan membasahi kening Gala, hingga Becca pun segera berdiri dan menatap suaminya dengan tatapan penuh arti.


Bella tahu, saat ini pasti suaminya sedang ketakutan. Apa bila Becca mengetahui perselingkuhannya dengan sekretarisnya.


"Kalau memang kamu tidak merasa melakukannya, terus kenapa wajahmu terlihat panik?" tanya Becca melipat tangannya di dada, sambil mengukir senyuman.


Kegelisahan Gala semakin tidak karuan, dia terus berusah mencari cara untuk mengalihkan Becca. Sampai akhirnya Gala langsung menarik Becca, walaupun dia terus memberontak.


"Sekarang lihat aku, Sayang lihat!" ucap Gala. Matanya menatap tajam, lalu kedua tangannya memegang pundak istrinya.


"Lep--"


"Aku tidak akan melepaskan, sebelum kamu mendengarkan perkataanku. Kalau aku--"


"Kalau aku apa? Aku selingkuh?"


"Kamu itu ngomong apa sih, Becca! Kenapa selalu saja mengaitkan semuanya dengan perselingkuhan, perselingkuhan, perselingkuhan terus!"


"Aku ini benar-benar sayang banget sama kamu, aku cinta sama kamu. Jadi, mana mungkin aku melakukan hal itu sama kamu, Sayang. Kamu harus percaya sama aku, pokoknya kamu harus percaya!"


Gala menggoyangkan tubuh Becca sambil menatapnya. Rasanya Becca seperti sedang di intimidasi oleh suaminya agar dia terus mempercayainya.


Sayangnya, Becca malah mendorong Gala sampai dia terjatuh tepat di atas ranjang. Perdebatan itu kembali terjadi sepanjang malam, di kamar Becca dan juga Gala.


Untungnya Naku tidak mendengar semua pertengkaran antara kedua orang tuanya, karena kamarnya telah di aktifkan kedap suara tidak seperti biasanya.


Sekeras apapun suara yang berasal dari sebelah kamarnya, semua itu tidak akan mempan untuk menembus kamar Naku.


Niatnya, Naku hanya sekedar untuk memfokuskan diri supaya besok bisa menyelesaikan ujian yang cukup menegangkan di dalam hidupnya. Akan tetapi, tanpa di sadari semua itu malah berfungsi sangat baik agar Naku tidak bisa mendengar kembali keributan tersebut.


.......


.......


.......


...***💜💜>Bersambung