Jangan Renggut Kebahagiaanku!

Jangan Renggut Kebahagiaanku!
Kondisi Vivi Setelah Operasi


Hampir 10 menit berlalu, akhirnya lampu operasi ma*ti. Semua orang langsung berdiri untuk menunggu dokter yang akan keluar untuk menjelaskan tentang hasil operasi Vivi.


Semoga istriku selamat, Tuhan. Aku mohon, jangan ambil dia. Anak-anak masih sangat membutuhkannya, apa lagi aku. Jadi, aku minta dengan segala kelemahanku. Tolong selamatkan istriku, jangan sampai dokter memberikan kabar buruk tentangnya. Aku percaya kuasamu, Tuhan. Tolong jangan kecewakan kami dengan hasil yang tidak sesuai harapan.


Leon berdoa di dalam hati sambil menunggu dokter keluar dari tempat persembunyiannya. Apa yang diharapan Leon, juga sama seperti haraoan mereka. Leon sangat senang, ternyata dia tidak sendirian untuk menghadapi masalah yang sangat rumit pertama kali di dalam hidupnya.


Tuhan, Naila mohon. Ketika dokter keluar nanti, semoga membawa berita yang menyenangkan, bukan kesedihan. Naila takut kehilangan seorang ibu lagi, Naila takut! Kali ini Naila janji, Naila akan menjaga Bunda dan Ayah seperti orang tua Naila sendiri. Naila tidak lagi membenci atau marah pada mereka karen masa lalu Naila. Sekarang Naila paham, dibalik apa yang Naila pikirkan tentang mereka ternyata Naila termasuk orang yang beruntung. Naila bisa memiliki pengganti orang tua yang jauh lebih baik.


Harusnya Naila bersyukur, bukan malah marah pada mereka. Maafkan Naila ... Naila tahu, Naila salah. Jadi, hukum saja Naila jangan hukum Bunda. Naila tidak mau kehilangan mereka, Naila mohon Tuhan, berikan kabar baik untuk kami semua. Semoga Bunda tetap dalam keadaan sehat, aamin ....


Hati Naila bergetar hebat, gadis itu belum siap untuk menerima kenyataan jikalau Vivi tidak lagi bisa membuka mata. Intinya, mereka semua berharap semoga kabar baik segera datang dari Tuhan melalui mulut dokter sebagai pelantara.


Perlahan pintu terbuka sedikit demi sedikit bersamaan dengan munculnya dokter yang masih mengenakan pakaian operasi lengkap. Wajah berkeringat menandakan, bahwa kerja keras mereka tidak sekedar memakan gaji buta.


"Dok, bagaimana istri saya? Keadaannya baik-baik aja setelah operasi, 'kan? Terus, operasinya lancar juga, 'kan? Pasti istri saya udah bangun sekarang, saya mau lihat ke dalam. Boleh? Saya kangen lihat dia, izinkan saya masuk, Dok. Saya mohon!"


Tiada henti-hentinya Leon terus menanyakan kondisi sang istri pasca operasi. Rio segera menenangkan Leon agar tidak terbawa suasana hati yang terus mengkhawatirkan tentang Vivi.


Sang dokter memuka masker mulut, lalu tersenyum kecil menatap semuanya secara bergantian. Kemudian, menjelaskan secara perlahan setelah Leon dan Naila sudah jauh lebih tenang berkat adanya Rio sama Becca di samping mereka.


"Tenang dulu, Tuan. Saya akan jelaskan secara rinci tentang keadaan Nyonya Vivi saat ini. Kalau untuk operasinya semua berjalan lancar tanpa kendala, saat ini tekanan da*rah korban juga cukup stabil. Sayangnya ...."


Dokter menggantungkan perkataannya, memastikan apakah mental mereka sudah cukup kuat untuk menerima keadaan apa pun yang akan disampaikan. Jika belum, dokter harus lebih berhati-hati lagi dalam berbicara agar tidak membuat kondisi mereka semua langsung drop.


Namun, kejanggalan yang dojter berikan malah semakin mempekeruh keadaan. Jantung mereka pun kembali terasa sesak ketika menyaksikan wajah sang dokter sedikit putus asa atas apa yang ingin dia sampaikan selanjutnya.


"Sayangnya apa, Dok? Bundaku pasti baik-baik aja, Bunda tidak mungkin ninggalin Naila. Bunda pasti selamat! Katakan, Dok. Katakan. Ada apa dengan Bunda? Please ... Jangan buat kami panik!"


"Saya akan melanjutkan perkataan saya, asalkan Nona dan Tuan harus tenang terlebih dahulu. Kabar yang akan saya sampaikan sedikit berat untuk bisa diterima, jadi saya mohon. Kalian berdua tenang, tarik napas. Baru saya berani menjelaskan semuanya. Saya paham, ini semua berat untuk kalian. Cuma, melihat kondisi kalian yang seperti itu membuat saya menjadi bimbang. Saya hanya takut, kabar ini akan---"


Perkataan dokter langsung terhenti saat Leon langsung membentaknya hingga menarik kerah dokter tersebut yang sangat lama untuk mengatakan semuanya.


Rio berusaha keras untuk memisahkan Leon, begitu juga Naila yang ikut menenangkan sang ayah. Mereka sangat tahu, saat ini keadaan hati dan pikiran Leon betul-betul terganggu. Jadi, suka tidak suka. Rio meminta dokter agar berkata jujur mengenai keadaan Vivi.


"Baik, Tuan. Saat ini operasi berjalan dengan lancar, detak jantung dan tekanan da*rah sudah mulai aman. Hanya saja, melihat dari perkembangan pasien ternyata Nyonya Leon mengalami koma dalam waktu yang tidak bisa kami tentukan. Semua itu karena benturan di kepalanya, dan perkiraan kecelakaan ini kemungkinan kecil akan selamat."


"Namun, kuasa Tuhan. Nyonya Leon masih bisa selamat, tetapi dia harus mengalami koma. Kami tidak bisa menentukan kapan dia akan sadar dan kemungkinan besar, akibat benturan itu sedikit mengganggu syaraf otak Nyonya Leon. Kalaupun Nyonya Leon kembali bangun, semoga tidak ada bagian dari tubuh atau ingatannya yang mengalami lumpuh. Apa sampai sini kalian paham? Jika tidak saya akan menjelaskannya kembali, di mana yang tidak kalian pahami."


Tubuh Leon langsung terjatuh di lantai saat mendengar semua penjelasan yang diberikan oleh dokter. Tangis Naila kembali pecah ketika tidak kuat membayangkan betapa sakitnya Leon saat ini dan bagaimana nasib si kecil yang masih membutuhkan pelukan hangat dari ibunya.


Naku dan Yola terdiam menyaksikan kedua orang tua mereka sedang memberikan pengertian kepada Naila sama Leon. Dokter hanya bisa memperhatikan mereka yang sedang berjuang untuk menstabilkan emosi di dalam diri mereka masing-masing.


Kabar yang dokter sampaikan sama saja seperti kema*tian. Mungkin jika Vivi meninggal rasa sakitnya tidak akan berlarut-larut. Akan tetapi, jika Vivi hidup hanya bisa berdiam diri di atas kasur dalam keadaan tidak ingat apa-apa sama halnya seperti patung tidak bernyawa.


Lantas, bagaimana cara mereka bisa menghadapi ujian sebesar ini untuk ke depannya? Sementara itu, si kecil masih sangat membutuhkan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Ditambah lagi dengan rasa penyesalan Naila yang sangat mendalam atas kejadian yang menimpa sang bunda akibat ulahnya.


Sang dokter kembali berbicara apabila semua itu masih dalam dugaan mereka, tetapi kembali pada tangan Tuhan. Jika Tuhan tidak mengizinkan Vivi sepertiitu apa yang mereka takutkan saat inu, tidak akan pernah terjadi. Mereka hanya perlu berdoa, merendah pada Tuhan agar bisa diberikan sedikit keringanan atas musibah yang menimpa Vivi.


Naila memeluk Leon saling berpelukan sambil menangis. Mereka berdua sudah tidak bisa berpikir, sehingga Rio harus mengambil jalan terbaik.


Rio meminta pada sang dokter untuk memindahkan Vivi ke rumah sakit terbesar yang akan direkomendasikannya. Rio lakukan itu karena dia memiliki akses maksud yang cepat, sebab dia salah satu donatur dari rumah sakit tercanggih itu.


Semua akan Rio persiapkan jika rumah sakit di sini memberikan akses Vivi untuk pindah. Di sana Rio bisa menjamin 100 persin jika Vivi akan mendapatkan penanganan ekstra lebih baik lagi berkali-kali lipat dari pada di sini agar kondisi Vivi segera membaik. Tidak lupa Rio akan memanggil profesor terbaik yang akan menangani khasus Vivi sampai Vivi bisa sembuh total.


Mereka hanya perlu bersabar dan ikhlas karena proses penyembuhan Vivi pasti akan banyak memakan waktu, jadi mereka tidak boleh sampai menyerah, ataupun putus asa.


.......


.......


.......


...💜💜>Bersambung<💜💜...