
"Aku tahu, mungkin saat ini kamu tidak enak padaku atas kejadian tadi. Jujur, kalau boleh aku mengatakan pada saat kejadian aku memang terkejut, sangat terkejut. Tiba-tiba saja kamu menciumku tanpa memberikan aba-aba terlebih dahulu, untungnya tubuhku ini tidak refleks memberikan reaksi yang akan menyakitimu. Kalau saja aku menyakitimu, mungkin aku tidak akan pernah lagi berani menunjukkan wajahku tepat di hadapanmu atas kesalahan yang aku perbuat padamu."
"Namun, aku bisa memaklumin itu semua karena apa bila aku ada di posisimu mungkin aku akan melakukan hal yang sama demi membuat masa laluku percaya, kalau aku sudah tidak lagi mengharapkannya. Aku paham, perasaanmu saat ini. Aku tahu, sebenarnya kamu masih menyimpan rasa padanya, tetapi kamu tetap pada pendirianmu untuk tidak kembali dengan seseorang yang telah mengkhianatimu. Itu bagus, aku sangat hormati keputusanmu."
"Akan tetapi, alangkah baiknya kalau memang hubungan kamu dengan Gala bisa di perbaiki, maka perbaiki. Mungkin, semua kejadian ini telah membuat Gala belajar banyak, jadi dia tidak akan kembali mengulang kesalahan yang sama. Sehingga, kamu dan Naku bisa hidup bahagia. Di mana impian Naku akan kembali terwujud setelah padam beberapa waktu, dan kamu juga tidak lagi menyiksa dirimu untuk menghidupkan Naku susah payah seperti ini!"
Nasihat yang Rio sampaikan memang ada benarnya, tetapi semua itu tidaklah mudah bagi Becca. Rasa sakit yang Gala goreskan di dalam hatinya, tidak akan pernah sembuh meski beribu-ribu cara di obati. Bekas luka itu akan selalu ada, tidak mungkin hilang begitu saja.
Gelengan kepala Becca mewakilkan semua penolakan dari lubuk hatinya. Walaupun matanya berkaca-kaca untuk menahan rasa cintanya pada Gala, tapi hatinya selalu meminta Becca untuk tetap tegas pada pemilihan jalan yang sudah di lalui sejauh ini.
"Tidak, Kak. Itu tidak akan pernah mungkin terjadi, lebih baik aku menyiksa diriku sendiri sampai cinta ini hilang, dari pada aku harus kembali pada pria yang sudah mengkhianatiku dan telah menodai janji suci pernikahan kami!"
"Ingat, Kak! Seseorang yang sangat mencintai pasangannya, dia akan melakukan segala cara demi menjauhkan diri dari apa pun yang akan bisa membuatnya menyakiti pasangannya. Tidak seperti dia, yang sengaja telah menghancurkan orang yang dia cintai dengan caranya sendiri!"
"Kakak pernah dengar, tidak? Apa bila seseorang sudah memilih jalan untuk berkhianat, sampai kapan pun dia akan tetap ada di jalur itu. Sebaik apa pun dia, kalau sudah salah memilih jalannya maka semua kebaikannya sudah tidak ada artinya lagi! Sekali berkhianat, selamanya akan seperti itu!"
"Jadi, stop memaksaku untuk meyakinkan hatiku sendiri agar bisa kembali dengannya. Aku sudah menentukan jalanku seperti ini, maka aku harus menjalaninya sendiri. Entah nantinya aku akan mendapatkan jodoh kembali atau tidak, seenggaknya hidupku ini hanya aku berikan kepada anakku satu-satunya!"
"Sekarang aku kembalikan, jikalau seandainya Ibunya Yola masih hidup lalu dia mengkhianati cinta kalian. Apakah kau akan tetap bertahan dengannya? Atau memilih untuk menghindarinya, meski Kakak harus hidup berdua dengan Yola mulai dari nol?"
Perkataan Becca serta pertanyaan yang keluar dari mulutnya. Benar-benar membuat Rio terdiam sejenak, karena apa yang di katakannya itu memang benar.
Rio menggelengkan kepalanya perlahan, pertanda kalau dia juga tidak ingin bertahan dengan pasangan yang sudah berani menodai cinta mereka.
Ya, walaupun tidak mudah menjalaninya. Tetap saja, memilih berpisah adalah jalan satu-satunya untuk menjaga agar hati dan juga pikiran bisa selalu waras tanpa merasakan tekanan batin.
Namanya juga pengkianat apa pun bentuknya, tujuannya, dan juga kebaikannya, tetap akan menjadi pengkhianat. Mungkin dia bisa berubah, tapi sewaktu-waktu rasa itu akan kembali muncul dengan membawa kata-kata bijak yaitu khilaf.
"Maaf jika perkataanku barusan telah menyinggung perasaanmu, tapi jujur, Ca! Aku tidak ingin melihatmu menderita seperti ini, aku tidak tega. Kamu harus berusaha memadamkan rasa cinta di dalam hatimu, tanpa peduli dengan rasa sakit yang kamu rasakan sendiri," jawab Rio, wajahnya terlihat begitu serius saat menatap wajah Becca.
"Tenang saja, Kak. Aku akan selalu baik-baik saja, selama Kakak bersamaku. Saat ini yang aku miliki adalah Kakak, jadi bantu aku untuk melewati semua ini agar kelak aku bisa membuktikan padanya. Kalau aku bisa menjadi wanita mandiri, serta menjadi wanita yang bisa membahagiakan anakku dengan caraku sendiri. Dan tidak akan menyakiti Naku, seperti dia yang sudah menghancurkan impian anaknya sendiri!"
Becca tersenyum, meski bulir-bulir air sudah menetes perlahan di pipinya. Segera mungkin Rio langsung menghapusnya tanpa menggunakan apa pun. Dia hanya mengandalkan tangannya untuk mencegah air mata itu kembali menetes.
"Kamu tidak perlu khawair, tanpa kamu minta pun aku akan tetap selalu ada untukmu dan juga Naku. Aku akan menjadi super hero yang kelak akan bisa menolong semua masalah yang menimpa kalian, semua aku lakukan karena aku aku sayang banget sama kamu. Aku tidak ingin melihat kamu selalu menangis seperti ini. Apa pun aku lakukan, asalkan aku bisa menggantikan setiap tetesan air mata ini dengan senyuman yang lebar."
Dari sekian banyak obrolam yang mereka bicarakan. Hanya satu kalimat yang berhasil membuat Becca terkejut bukan main. Becca terdiam mencerna setiap kata yang Rio sampaikan, tetapi kalimat terakhir itu mampu mengajak pikirannya mulai terbang entah ke mana.
Rio sendiri saja tidak menyadari, kalau perlakuannya terhadap Becca ini sudah jauh dari kata pertemanan. Mungkin di awal mereka kembali bertemu masih bisa di katakan sebagai pertemanan.
Namun, saat melihat semua ini. Sudah sangat jauh keluar dari jalan yang seharusnya. Di tambah lagi, tanpa di sadari Rio malah mengucapkan kalimat yang berasal di dalam hatinya sendiri.
Intinya, apa yang Rio lakukan saat ini semua itu bukan merupakan dasar mencari kesempatan di dalam kesempitan. Melainkan, tubuh serta perkataannya yang keluar dari Rio, semuanya telah di kendalikan oleh perasaan atau suara hatinya sendiri.
.......
.......
.......
...***💜💜>Bersambung