
Tatapan dari sang anak benar-benar menusuk ke dalam hati, mereka tidak menyangka kalau Joey bisa mendengar perkataan dari Rani yang tidak mengenakkan.
"Jo-joey?" ucap Rani dan Ragil secara bersamaan.
"Kenapa? Mamih sama Papih kaget, terus mau jelasin kalau semua ini salah paham, iya?" tanya Joey, masih setia mengukirkan senyuman yang dari tadi terpaksa dia ukir untuk membuktikan bahwa Joey tetap akan kuat menghadapi keegoisan kedua orang tuanya.
"E-enggak, bu-bukan ... bukan begitu, Sayang. Ma-mak---"
Baru saja Rani ingin menjelaskan pada Joey, tangan Joey malah terangkat ke atas untuk memberikan sinyal kalau dia tidak ingin mendengar apapun dari mereka.
"Joey minta, setelah Joey lulus dari SD. Joey ingin sekolah SMP di luar negeri, jadi tugas Mamih dan Papih harus mendaftarkan Joey di mana pun sekolahnya Joey akan terima. Anggaplah semua ini sebagai bakti Joey kepada orang tua, supaya kalian tidak repot untuk merawat Joey!"
"Kalian paham 'kan, apa yang Joey katakan ini. Joey tunggu kabar baiknya, semoga aja dalam waktu dekat Joey bisa sekolah di luar negeri biar gak terlalu lama menjadi beban kalian. Joey ke kamar, permisi!"
Joey berlari menuju kamar, membuat Sus Rini refleks mengejar anak asuh yang selama ini sudah dia anggap sebagai anak sendiri. Akan tetapi, Joey menghentikan langkah ketika mendengar Sus Rini terus memanggil. Joey meminta waktu untuk sendiri dan tidak ingin diganggu oleh siapapun.
Sus Rini mencoba untuk mengerti, walaupun merasa kasihan lantaran mata Joey sudah sangat memerah menahan air mata yang ingin jatuh. Kemudian Joey kembali pergi memasuki kamar dan Sus Rini segera kembali berjalan menuruni tangga ke arah belakang rumah. Di mana tempat itu merupakan tinggal Sus Rini bersama pembantu lainnya.
Mata Sus Rini sudah mulai berlinang, sebab dia sangat tahu banget bagaimana perasaan Joey saat ini. Dia pasti sangat terpukul, padahal baru beberapa menit lalu merasakan kebahagiaan karena melihat begitu sayangnya orang tua Yola terhadap anak-anak mereka. Tidak seperti Joey, anak kandung berasa anak pungut.
Selama di perjalanan pulang Joey selalu bercerita pda Sus Rini, kalau dia merasa heran. Kenapa bisa Becca begitu menyayangi Yola, sedangkan Yola anak dari Rio. Begitu juga sebaliknya, Rio yang menyayangi Naku sama seperti menyayangi Yola.
Berbeda sama Joey, dia seharunya menjadi anak kesayangan lantaran dia adalah anak tunggal, anak semata wayang yang pasti akan mendapatkan kasih sayang jauh lebih melimpah dari anak-anak lain yang memiliki saudara.
Nyatanya tidak sama sekali, malah lebih beruntung Naku dan Yola bisa mendapatkan orang tua sambung yang sangat menyayangi bagaikan anak sendiri. Sementara Joey, dia lebih seperti anak yang tidak diinginkan keberadaannya.
Itulah keegoisan yang dimiliki keluarga Joey, hampir sama dengan Naku dulu. Hanya saja, di sini Joey lebih beruntung meskipun orang tuanya sering bertengkar, mereka tetap saling mencintai. Tidak seperti orang tua Naku yang saling mencintai, tetapi malah menyakiti.
Rani sendiri yang tidak sengaja melontarkan kata tersebut pada suaminya, tidak bermaksud untuk menyakiti hati sang anak. Rani hanya ingin Ragil berpikir bahwa tugas mengurus anak tidak hanya berlaku untuk seorang Ibu, Ayah juga akan tetap ikut campur karena semua itu demi membangun keluarga yang bahagia.
Selepas perginya Joey, Ragil menatap sang istri. Lagi-lagi dia kembali menyalahkan Rani atas apa yang terjadi barusan, berkat perkataan Rani sang anak jadi beranggapan kalau dia adalah beban keluarga.
"Ini semua gara-gara kamu, lihatlah Joey sekarang! Dia kembali meminta kita untuk mengasingkan dia di negeri orang, jelas-jelas dia itu punya kita. Cuman, apa? Karena ulahmu lagi-lagi Joey kecewa sama kita, orang tuanya sendiri!"
Air mata Rani runtuh untuk pertama kali setelah sekian lama dia jarang menangis, bahkan ketika bertengakar oleh Ragil juga Rani tidak pernah nangis. Meskipun mereka pernah sekali bertengkar hebat sampai pisah ranjang kurang lebih 2 hari, dalam artian Rani dan Ragil ingin sendiri supaya mereka bisa menjernihkan pikiran satu sama lain.
Dalam keadaan seperti itu Rani tetap kuat, tidak setetes air mata bisa membasahi pipi tirusnya. Terkahir Rani nangis ketika hamil Joey, di masa-masa begitulah Rani bisa dikatakan cengeng yang selalu ingin dimanja oleh Ragil.
Akan tetapi, melihat Rani menangis seperti ini membuat Ragil terdiam membisu. Wajah Rani terlihat sangat khawatir karena sang istri menangis setelah dia bentak, tidak seperti biasanya.
"Sa-sayang, ma-maafkan aku. A-aku ...."
Rani langsung menangkis kasar tangan Ragil yang ingin menggapai pipi tirus sebelah kiri. "Sudah cukup, kau salahkan aku terus, Gil! Kalau kamu merasa jauh lebih sempurna dalam hal mengurus anak, kenapa bukan kamu saja yang memperhatikan Joey?"
"Atau, kamu juga bisa cari penggantiku yang sesuai sama apa yang kamu inginkan untuk menjadi istri yang paling sempurna. Mungkin sekarang aku sudah terlalu buruk di matamu, sampai-sampai kamu tidak pernah berkaca. Apakah kamu sudah benar menjadi kepala rumah tangga, suami sekaligus ayah, hah?"
"Kamu pun juga sama, Gil! Kamu belum becus jadi ayah apa lagi suami, kerjaanmu hanya sibuk di kantor. Pernah gak, sekali kamu tanyain anakmu udah makan apa belum, gimana sekolahnya dan masih banyak lagi. Walaupun aku sibuk kerja, aku juga selalu menanyakan semua itu pada Sus Rini, dia yang selalu kasih informasi padaku. Hanya hari ini aku tidak mendapatkan informasi apa-apa tentang Joey, seenaknya kamu menyalahkan aku. Dasar suami egois!"
Rani berlari meninggalkan suaminya yang masih terdiam mematung. Apa yang Rani katakan memang benar, di sini yang salah bukan hanya sati pihak. Melainkan kedua pihak yang terlalu sibuk kerja sampai melupakan untuk memperhatikan kondisi sang anak.
Entah, sampai kapan mereka akan bersikap seperti ini. Dikarenakan, mereka beberapa kali sadar kesalahan tetap saja diulang kembali. Itu yang membuat Joey merasa kalau dia memang tidak dianggap. Walaupun semua kebutuhan Joey terpenuhi tanpa kekurangan, tetap saja bagi Joey itu kurang.
Dia rela hidup serba berkeculupan asalkan kedua orang tuanya bisa selalu bercanda dengan Joey, bermain bahkan tertawa bersama setiap hari seperti keluarga Yola yang terlihat bahagia.
Ragil yang baru menyadari perkataannya terlalu kasar pada sang istri, segera berlari untuk mengejar Rani ke dalam kamar. Semarah apapun Rani, dia tidak pernah mengunci kamar kecuali dia ingin sendiri di kamar tamu.
Ragi langsung masuk ke dalam kamar, lalu menguncinya dan tidak lupa menyalakan kedap suara agar Joey tidak mendengar kembali pertengkaran antara kedua orang tua yang kamarnya saling bersebelahan.
.......
.......
.......
...💜💜>Bersambung<💜💜...