
"Permisi semuanya, maaf mengganggu. Apakah suami pasien sudah datang? Jika sudah, dokter meminta untuk suami pasien segera menemuinya karena ada sesuatu hal penting yang akan disampaikan."
Semua orang langsung menatap suster itu dengan tatapan panik, apalagi wajah suster benar-benar meyakinkan sekali jika sesuatu telah terjadi pada Vivi.
"Saya, suaminya, Sus. Di mana saya harus menemui dokter yang menangani istri saya, tolong antarkan saya sekarang juga!"
Dengan sigap Leon segera berdiri memasang badan untuk bergegas menemui sang dokter, tetapi ketika suster ingin mengantarkan. Naila langsung menahan Leon membuatnya segera berbalik menatap sang anak.
"Ayah, tunggu!" ucap Naila berusaha ingin turun dari bangkar, cuma ditahan oleh om baik hati.
"Jangan bergerak, Nak! Kakimu masih sangat sakit loh, tunggu sedikit lagi pasti suster yang mengambil kursi rodamu akan segera kembali. Sekarang biarkan ayahmu duluan menemui dokter, Om akan mengantarkanmu ke sana. Oke?"
"Tapi, Om----"
"Ayah mohon mengertilah, Sayang. Ayah harus buru-buru melihat kondisi bundamu, kamu harus nurut sementara waktu dengan Om itu. Setelah kursi rodamu datang, kamu bisa menemui Ayah di sana."
"Baiklah, Ayah. Cepat temui Bunda, jangan biarkan Bunda kenapa-kenapa. Naila tidak ingin kehilangannya, Ayah janji!"
"Ya, Sayang. Ayah janji, Ayah pergi dulu!"
Naila menganggukan kepala melihat kepergian Leon bersama suster yang akan menunjukkan di mana keberadaan Vivi.
Leon berlari sekuat tenaga bersama suster. Setelah sampai di sana, suster meminta Leon menunggu sebentar di luar karena dia akan memanggil dokter untuk menjelaskan apa yang ingin dikatakan pada keluarga pasien.
Dalam waktu kurang lebih 2 menit, dokter keluar bersama suster dengan wajah yang terlihat begitu khawatir.
"Apakah Tuan benar suami pasien bernama Vivilia Emeline Leonid, korban kecelakaan?" tanya dokter memastikan, jika dia tidak salah orang dalam menerangkan kasus Vivi.
"Ya, Dok. Saya suaminya, ada apa dengan istri saya? Dia baik-baik aja, 'kan? Tidak akan terjadi hal buruk padanya 'kan, Dok? Katakan, Dok. Katakan!"
Leon benar-benar tidak bisa mengontrol emosi di dalam kepanikan yang saat ini dirasakan. Dokter bisa memaklumi yang terjadi pada Leon karena melakukan sesuatu masih dalam batas wajar. Siapa sih, yang ingin orang tersayang terluka? Pasti tidak ada, bukan. Ya, sama. Leon juga tidak mengharapkan itu terjadi, pria itu hanya ingin mendengr kabar baik mengenai istrinya.
"Saya tidak tahu harus menjelaskan menggunakan bahasa seperti apa lagi supaya Tuan bisa tetap tenang, meskipun nanti hasilnya tidak sesuai dengan harapan. Tuan harus bisa mengendalikan diri karena apa yang akan saya sampaikan mengenai kondisi pasien pasti akan sangat membuat Tuan terpukul."
"Ma-maksud dokter apa? Sa-saya tidak mengerti. To-tolong jelaskan sama saya sebenarnya, apa yang telah terjadi pada istri saya di dalam?"
Pria itu sungguh tidak paham apa yang dokter sampaikan. Kata-katanya sangat penuh teka-teki, sehingga Leon meminta dokter untuk berterus terang mengenai kondisi Vivi tanpa harus bertele-tele memberikan keterangan.
"Baiklah, jadi begini Tuan. Sebelumnya saya minta maaf jika kabar yang akan saya sampaikan akan membuat Tuan menjadi sedih. Saat ini kondisi Nyonya Vivi sedang dalam keadaan kritis, dan harus segera mendapatkan donor darah kurang lebih 2 sampai 3 kantong da*rah. Setelah itu, kami akan melakukan operasi besar karena kecelakaan itu membuat Otak Nyonya Vivi menjadi bengkak. Untuk itu saya hanya menyarankan dalam waktu kurang lebih 1 jam ke depan kota harus segera menemukan 3 kantong da*rah sesuai golongan darah korban."
Serasa disambar ribuan petir, tubuh Leon langsung melemas dan hampir terjatuh ketika om baik hati tidak langsung menahan tubuh Leon tepat pada waktunya.
"Ayah ... Ada apa ini? Kenapa Ayah terlihat syok, apa yang terjadi sama Bunda? Bunda baik-baik aja di dalam, 'kan? Bunda tidak ninggalin kita, 'kan? Bunda masih selamat 'kan, Ayah? Jawab Naila, Ayah. Jawab!"
Naila yang baru saja sampai langsung terkejut ketika mengetahui keadaan Leon lemas tak berdaya, bahkan duduk juga diarahkan oleh om baik hati. Melihat kondisi Leon seperti itu, hati Naila semakin berdebar tidak karuan.
Gadis malang itu sangat takut seandainya Vivi tidak akan selamat, maka hidupnya akan semakin tidak ada artinya. Kehilangan dua ibu sekaligus pasti akan membuat Naila sangat terpukul, hingga air matanya kembali terjatuh tanpa henti.
Sang dokter kembali menceritakan semua kondisi sang bunda pada gadis malang yang saat ini duduk dikursi roda. Naila tidak kuat mendngar tentang kondisi Vivi yang sangat menyedihkan.
Naila sungguh menyesali perbuatannya yang melarikan diri ketika ada masalah, hingga membuat Vivi terjebak di dalam situasi antara hidup dan ma*tinya.
"Tenanglah, Tuan, Naila. Kalian harus tetap berpikir positif, kita tidak tahu maksud dari ujian yang Tuhan berikan saat ini apa. Akan tetapi, kita harus tetap berdoa dan berharap semua jalan akan dipermudah oleh-Nya. Aku akan bantu kalian untuk mencarikan donor itu secepatnya, kita bisa menggunakan sosmed sebaik mungkin. Tidak ada waktu untuk menangisi keadaan, sekarang waktunya kita menemukan pendonor terbaik buat Nyonya Vivi!"
Om baik hati terus memberikan semangat, serta suport bagi mereka berdua akan bisa melakukan segala sesuatu, meskipun dalam keadaan terpuruk sekali pun.
Kegigihan yang diperlihatkan oleh om baik hati tersebut, sangat-sangat membantu membangunkan gairah di dalam hati Naila dan Leon. Mereka semua langsung membuka sosial media masing-masing, kecuali Naila yang tidak membawa ponsel.
Sang dokter segera meminta suster untuk menghubungi para bantuan dari seluruh rumah sakit, serta PMI berharap mereka semua memiliki stok da*rah yang cocok untuk Vivi.
Naila hanya bisa memanjatkan doa di dalam hati serta menanamkan pikiran positif supaya tidak menjadikan ucapan sebagai doa buruk bagi kesehatan Vivi saat ini.
Hampir 45 menit mereka semua berpacu satu sama lain untuk mwminta pertolongan, sayangnya belum ada kabar mengenai stok da*rah itu. Tidak ada cara lain, dokter harus segera mengambil tindakan untuk melakukan operasi secepatnya karena kondisi Vivi semakin menurun.
Semua resiko harus dokter ambil.dnegan persetujuan keluarga, terutama tanda tangan Leon selaku suami dari Vivi. Meskipun, mereka mengambil resiko yang sangat besar tetap saja tidak berhenti di situ. Mereka terus berusaha sekuat tenaga untuk meminta bantuan ke mana pun demi mendapatkan 2 kantong da*rah sebagai cadangan, apabila stok darah yang sudah masuk masih sangat kurang menstabilkan tekanan darah Vivi yang jauh di bawah rata-rata.
...Siapa pun yang memiliki golongan da*rah yang cocok untuk Vivi, segeralah daftarkan ke PMI atau rumah sakit terdekat supaya Vivi bisa segera di selamatkan. Waktu yang kami butuhkan tidak banyak, hanya 1 jqm dan tersisa beberapa menit lagi. Untuk itu, kalian akan mendapatkan imbalan kurang lebih 10 juta sebagai tanda terima kasih. ...
Begitulah kira-kira isi pesan singkat yang disebar luaskan di sosial media sebagai bentuk pertolongan yang dibutuhkan secepat mungkin. Ayo, siapa yang ingin daftar? Hihi..
.......
.......
.......
...💜💜>Bersambung<💜💜...