
"Aku sudah menceritakan semuanya sama kamu, jadi aku mohon kasih kesempatan aku sekali saja untuk memperbaiki semuanya. Aku janji, bila nanti anak yang ada di dalam kandungan Lola itu bukan anakku. Maka aku akan segera menceraikannya. Itu sumpahku, dan kita bisa melanjutkan hidup bahagia bersama-sama!" ucap Gala, menatap manik mata Becca.
"Lantas, bagaimana jika anak itu adalah anakmu? Apakah kamu tetap akan menceraikannya atau bertahan pada pernikahan konyol itu?"
Pertanyaan Becca benar-benar mampu membungkam mulut Gala. Wajahnya terlihat linglung dan juga gelisah. Harusnya Gala bisa menjawab semua itu dengan cepat, apa bila apa yang di katakannya memang benar adanya. Akan tetapi mulutnya terasa begitu kaku, seakan-akan ada lem yang merekat di bibirnya. Becca hanya bisa tersenyum dan mencoba menghempaskan tangan suaminya.
"Bagaimana, hem? Tidak bisa jawabkah? Jadi, sudah cukup semua sandiwaramu, Gala. Aku sudah lelah mendengar penjelasanmu, apa yang kamu katakan semua tidak masuk akal. Jika memang kamu mengalami semua keterpurukan itu, kenapa tidak bilang denganku? Memangnya kamu anggap aku ini siapa? Orang lain? Jadi seenaknya kamu mengambil tindakan bo*doh seperti itu, mentang-mentang kamu memiliki peran penting di rumah tangga ini!"
"Terus setelah semuanya terjadi, dimana sikap tegasmu yang semena-mena itu? Kenapa malah kamu meminta maaf padaku? Aneh!"
"Jika memang kamu ingin membuktikan itu anakmu atau bukan, yang jadi pertanyaanku. Kenapa kamu sampai menikahinya sebelum menemukan titik terang atas kejadian itu, hem? Sementara kamu saja belum yakin, bila itu adalah anak kalian. Kok bisa ya, udah langsung melangsungkan pernikahan begitu saja tepat di belakangku? Menjijikkan!"
"Andaikan pada saat itu kamu berkata jujur tentang kejadian itu, mungkin aku masih bisa memaafkanmu dan berusaha untuk menerima semua kenyataan itu. Dan kalau benar anak itu adalah anakmu, kita bisa merawatnya bersama-sama tanpa harus menikahinya secara diam-diam seperti ini!"
"Huhh, sudahlah. Itu semua adalah keputusanmu dan aku tidak berhak mencampuri urusan kalian. Toh, kamu juga mengambil semua keputusan itu sendiri tanpa aku 'kan? Jadi, seharusnya aku juga bisa bukan mengambil keputusan tanpa harus meminta persetujuan darimu!"
"Namun, kejadian ini benar-benar sudah sangat fatal untuk kesehatan hubungan kita. Jadi, aku sudah memantapkan hatiku sendiri untuk berpisah darimu! Terlepas kamu suka atau tidak suka, aku tetap akan mengajukan semua pada pengacara. Cepat atau lambat, surat itu akan sampai ke tanganmu!"
"Untuk itu, aku sangat-sangat berterima kasih sama kamu atas10 tahun lebih pernikahan kita. Tanpa kamu sadari, di hari ini adalah hari pernikahan kita yang ke-13 tahun. Sayangnya, di hari ini juga pernikahan akan kandas. Dan aku mohon, jangan persulit jalan kebahagiaanku dan Naku!"
"Jika awal pertemuan kita di mulai secara baik-baik, maka kita akhiri pun harus secara baik-baik. Kamu tidak perlu khawatir, aku tidak akan mengambil apapun yang bukan hakku. Jadi, mulai besok aku sama Naku akan segera pergi dari rumah ini!"
Meskipun bibir Becca tersenyum menatap Gala, dengan bahasa yang tidak meninggi tetapi penuh penekanan. Berbeda sama isi hatinya yang sangat sedih. Dia tidak menyangka, jika pernikahannya telah kandas di usia yang ke-13. Padahal mereka sudah saling berjanji akan sehidup sema*ti. Akan tetapi, takdir telah berkata lain.
Gala yang masih sangat-sangat syok mendengar semua penjelasan dari Becca, berhasil membuatnya terdiam mematung. Hatinya langsung hancur berkeping-keping, ketika dia lupa hari jadi pernikahannya.
Becca yang rasanya tidak kuat lagi menahan rasa sakit di hatinya, segera berdiri lalu pergi meninggalkan kamar mereka. Gala yang melihat itu bergegas berlari dan mencoba menahannya.
Gala bersimpuh di kaki Becca dengan cara memeluknya dari arah belakang. Gala tidak lagi memandang apapun, bahkan dia rela menurunkan harga dirinya di depan Becca hanya demi menahannya untuk tidak sampai meninggalkannya.
Becca sontak terkejut dan menghentikan langkah kakinya sambil menatap lurus ke arah depan. Perlahan air mata yang sudah berusaha dia tahan, menetes satu persatu akibat tidak kuat saat menyaksikan perlakuan Gala.
Isak tangis Gala terdengar begitu nyaring, dia berusaha keras meminta maaf supaya Becca bisa kembali bersamanya. Gala pun rela meninggalkan Lola dan anaknya, asalkan pernikahannya tetap bertahan. Akan tetapi, dia malah tidak mendapatkan respon sedikit pun dari Becca.
Becca langsung menghapus air matanya agar tidak sampai terlihat oleh Gala. Di sinilah ada sedikit keraguan di hati Becca tentang perasaannya pada Gala.
Satu sisi dia sangat mencintai suaminya dan jika boleh jujur, Becca sebenarnya tidak ingin berpisah dengannya. Di sisi lainnya Becca tidak terima akan rasa sakit yang sudah Gala lakukan padanya dan juga Naku. Sehingga itu benar-benar berbekas di dalam lubuk hatinya.
Bagi Becca yang namanya perselingkuhan ataupun sakit hati adalah sebuah penyakit yang tidak bisa di obati. Sekali orang itu sudah berani melakukannya, maka di kemudian hari pun dia akan kembali melakukannya apa bila yang dia lakukan tidak mendapatkan efek jera.
Akan tetapi, setelah melihat reaksi Gala sampai seperti ini. Entah mengapa, hatinya mulai menggoyangkan. Rasa kasihan seakan mulai terlindas di pikirannya. Akankah, Becca akan memaafkan Gala selaku suaminya ataukah dia akan tetap pada pendiriannya?
.......
.......
.......
...***💜💜>Bersambung