
Namun, di balik itu semua sebenarnya Rio ingin menemui seseorang. Dia mencari ke kamarnya, tetapi tidak ada. Lalu dia mencari di seluruh penjuru rumah, tetap tidak menemukannya.
Sampai akhirnya, pembantu yang memang sudah lama bekerja sama Rio dan di kerjakan untuk menjaga Becca serta Naku. Mencoba untuk memberitahu kepada Rio, kalau orang yang dia cari sebenarnya ada di dekat kolam renang.
Siapa lagi kalau bukan Naku. Ya, dialah orang yang Rio cari. Bagi Rio, walaupun Naku tidak menyukai dirinya tetap saja. Rio ingin mencari tahu, apa penyabab Naku bisa berubah seperti apa yang Becca katakan.
Naku memang bukanlah anak kandung dari Rio, hanya saja dia jauh lebih mengerti atau mengenal karakter Naku dari pada Becca, selaku Ibu kandungnya.
Tidak mungkin ada asap, apa bila tidak ada api yang menyala. Perasaan Rio sangat kencang sekali, ketika mencurigai ada sesuatu yang sudah terjadi pada Naku.
Pembantu serta security yang mengetahui kedatangan Gala, tidak ingin mengatakan apa yang telah terjadi. Mereka lebih memilih diam sesuai atas permintaan Naku, sebab mereka tidak ingin ikut campur masalah majikannya. Selagi majikannya tidak meminta pertolongan padanya. Sama halnya saat merek bekerj bersama Rio dahulum
Perlahan langkah kaki Rio mulai terdengar samar di telinga Naku. Saat suara langkah kaki itu mulai mendekat, Naku spontan menoleh melihat Rio dari jarak 3 meter. Kemudian, kembali menatap lurus ke arah depan sambil memainkan kakinya di dalam air.
Rio tersenyum, lalu duduk tepat di pinggir kolam persis di samping Naku. Tidak lupa dia menggulung celana panjangnya agar tidak basah saat mencelupkan kakinya ke dalam air sama kaya Naku.
"Hai, Boy. Kenapa malam-malam malah main air di sini? Memangnya besok tidak sekolah? Bagaimana kalau nanti kamu masuk angin, kasihan Mommymu loh," ucap Rio, menatap Naku.
"Apa pedulimu? Mommy lagi sibuk dengan anak barunya, lebih baik kau pergi dari sini! Gua ingin sendiri!" titah, Naku.
"Apa kamu cemburu melihat Becca sama anakku, Yola?" tanya Rio, menaik-naikkan alisnya.
"Hahh? Cemburu? Ya-ya, e-enggaklah! Ya, kali gua ce-cemburu sama bocil ngeselin itu. Malas!" seru Naku, terbata-bata.
"Hem, yakin? Kalau nanti aku keluar negeri, terus aku nitip Yola di sini selama sebulan, boleh?" goda Rio, langsung mendapat tatapan tajam dari Naku.
"Kalau sampai beneran itu bocil di titipin di sini, jangan salahkan gua. Kalau anti kau mendengar berita kalau anakmu tewas di makan Hiu di laut!" sahut Naku, penuh penekanan dengan ancaman yang malah membuat Rio tertawa kecil.
"Eleehh, tadi bilangnya enggak cemburu. Bagian sekarang, aku mau menitipkan anakku langsung ngegas begitu nada bicaranya. Aneh, hihi ...."
Naku terlihat gugup, saat Rio terus saja mencoba untuk menggodanya. Mulut memang bisa berbohong, tetapi tidak dengan sikap Naku yang terlihat tidak nyaman kalau Yola berada di dekat Becca.
"Ke-kenapa kau tertawa, hahh? Apa ada yang lucu?" tanya Naku, tegas.
Mendengar perkataan Rio, seketika mata Naku hampir saja terlepas. Dia tidak menyangka Rio bisa mengatakan itu padanya.
"Hyaakk ... Dasar pria jahat!"
"Ya, aku jahat 'kan belajar darimu. Toh, tadi kamu sendiri yang bilang ingin menjadikan anakku makanan ikan Hiu. Jadi, biar impas, bukan?"
"Arrghh ... Tahulah! Bodo amat!"
Naku terlihat kesal atas ulahnya sendiri, sementara Rio terkekeh ketika dia berhasil memenangkan perdebatan itu.
Ternyata, tidak sulit bagi Rio untuk bisa menyaingi kerasnya Naku. Dia hanya bermodalkan sedikit candaan tanpa keseriusan sudah bisa membuat Naku berasa kalah saing olehnya.
Baru Rio, satu-satunya pria yang berhasil membuat Naku tidak berkutik. Rasa keras kepalanya, bisa di tandingi olehnya tanpa harus meninggikan suaranya.
Setelah itu, barulah Rio meminta maaf pada Naku atas segala kesalahannya tadi. Niat dia hanya bercanda, tidaklah serius. Dan tidak lupa juga, Rio meminta maaf atas kehadirannya dan Yola sudah membuatnya merasa tersaingi.
Naku hanya terdiam membisu, sesekali melirik ke arah Rio yang sedang serius untuk meminta maaf padanya. Ingin rasanya Rio menanyakan kepada Naku, keributan apa yang telah terjadi di antara Becca dan Naku. Akan tetapi, Rio masih memberikan ruang agar Naku tidak merasa tertekan. Jadi, dia mengurungkan niatannya dan menunggu momen yang pas.
Untuk beberapa menit mereka terdiam tanpa obrolan satu sama lain, Rio pun segera meminta Naku agar mereka masuk ke dalam karena hari sudah semakin larut dan juga angin-angin malam mulai terasa dingin.
Hanya saja, ketika Rio baru mengangkat kakinya dari air lalu ingin berdiri. Tiba-tiba Naku mengubah posisinya menyamping dalam keadaan kaki melipat dan mata menatap intens ke arah Rio. Sehingga Rio mengurungkan niatnya untuk berdiri dan malah ikut menyamakan posisi Naku.
Tatapan kedua mata mereka benar-benar sangat mendalam. Wajah mereka pun terlihat begitu datar penuh keseriusan. Entah apa yang akan Naku tanyakan pada Rio, sampai-sampai suasana berubah menjadi tegang.
.......
.......
.......
...***💜💜>Bersambung