
"La, i-itu pe-perutmu?" Gala terlihat syok saat melihat sesuatu yang di luar ekspetasinya.
"Ada apa sama perutku? Huhh, ya deh, iya. Aku tahu, kok. Semakin hari, aku semakin kelihatan jelek dan gendut, 'kan? Ya, aku tahu, tapi---"
"Bukan! Cobalah lihat itu!"
Lola langsung melihat ke arah perut depannya, tetapi tidak menemukan apa pun. Kemudian, Gala menunjuk ke arah perut samping sebelah kanan. Di mana ada sebuah garpu menancap jelas di perut Lola, tanpa menimbulkan reaksi sedikit pun darinya.
Jelas-jelas garpu tersebut tertanam di perut Lola, hanya saja Lola tidak merasakan apa-apa. Dia terlihat tenang dan juga biasa saja.
Setelah melihat perutnya, Lola langsung syok. Dia segera mencabut garpu tersebut dengan perlahan, sambil wajah kembali berubah. Ini di luar dugaan Gala, beberapa menit lalu Lola terlihat biasa saja. Akan tetapi, setelah garpu tercabut Lola langsung duduk dan mengelih sakit.
"Awws ... A-astaga, pantas saja dari tadi perutku rasanya tidak enak. Aku kira, ini hanya kontraksi biasa seperti yang di katakan oleh dokter pada saat itu."
Lola berbicara sambil mengusap perutnya beberapa kali, nadanya terdengar sedikit meringis lantaran dia seperti merasa ngilu akibat tusukan garpu tersebut.
"Ma-maafkan Mamah, sayang. Mamah hampir saja membahayakanmu. Lain kali Mamah akan jauh lebih hati-hati lagi. Kamu gapapa, 'kan di dalam perut Mamah?"
"Huhh, syukurlah. Sehat-sehat ya sayang, sebentar lagi kita akan bertemu. Mamah sudah rindu sekali sama kamu, ingin deh rasanya segera meluk kamu biar nanti saat Daddymu kerja, Mamah ada temannya deh."
Gala menatap Lola secara intens agar lebih memastikan, apakah istrinya adalah orang biasa atau orang yang luar biasa.
Namun, Gala yang masih tidak percaya atas apa yang di lihatnya. Hanya bisa terdiam sesaat, kemudian dia kembali bertanya menggunakan logikanya dalam keadaan bingung.
"Ko-kok bisa ada garpu tertusuk di perutmu, reaksi pertama yang aku lihat kamu hanya diam tanpa menyadari keanehan di perutmu. Mungkin jika aku tidak memberitahukanmu, sampai kapan pun garpu itu akan terus tertanam di perutmu,"
"Hanya satu yang aku bingungin, kenapa bisa tidak ada sedikit reaksi kesakitan di wajahmu saat pertama, kamu malah terlihat biasa saja. Padahal jelas-jelas garpu itu sudah menempel di perutmu, loh!"
"Ehh, bukan menempel sih. Akan tetapi, menusuk atau tertusuk entahlah. Pokoknya seperti itu, cuman aku heran aja a-apakah perutmu sekebal itu sampai ma*ti rasa? Ba-bagaimana jika yang tertancap adalah pisau? Apakah reaksinya akan sama?"
Gala terus menanyakan hal-hal yang mustahil kepada Lola dari pikirannya. Dia masih tidak habis pikir dengan istri sirihnya itu, semua ini di luar nalar orang hamil pada umumnya
Jangankan tertusuk garpu, ketika dulu Becca lagi hamil Naku perutnya sama sekali tidak bisa di sentuh, meski pun sekedar mengusap menggunakan tangan. Dikarenakan perutnya akan merasa geli, dan bisa di pegang ketika memang Becca yang memintanya.
Akan tetapi, berbeda sama kehamilan Lola yang sangat-sangat mengejutkan. Seakan-akan perutnya kebal terhadap benda membahayakan yang ada di dekatnya.
"Entahlah, aku juga tidak tahu. Mungkin bajuku ini berbahan tebal. Jadi, ketika tadi aku ingin mengambil sesuatu tiba-tiba tanpa aku sadari ada garpu yang menancap di perutku. Pantas saja, dari tadi aku mencari garpu kok tidak ada. Tahunya dia bersembunyi di sini, astaga. Untung saja perutku tidak meledak, hihi ...."
Lola menjelaskan kepada Gala dengan memberikan candaan. Walau, tidak terdengar lucu. Setidaknya Lola bisa mengalihkan pikiran Gala yang mulai berkeliaran ke mana-mana.
Gala hanya menggelengkan kepalanya, ketika melihat reaksi istrinya yang terbilang sangat aneh ini. Lalu menerima sebuah jeruk yang sudah Lola kupaskan untuknya.
Di balik senyuman yang Lola berikan pada suaminya, terdapat jantung yang ingin copot saat dia menyadari atas kebo*dohannya sendiri.
"Udah, cukup. Aku mau ke ruang kerja dulu, ada sesuatu yang harus aku bereskan. Kamu duluan aja istirahat di kamar, jaga kesehatan dan tidur yang teratur. Aku tidak ingin, ada sesuatu pada anakku. Paham?"
"Iya, sayang. Habis ini aku akan istirahat di kamar sambil nunggu kamu, nanti kalau ngantuk aku tidur duluan kok, tenang aja. Oke?"
"Hem, terserah kau saja. Aku pergi dul---"
"Etts, no! Jangan pergi sebelum mencium keningku terlebih dahulu,"
"Hahh? Se-sejak kapan kau meminta hal itu?"
"Sejak detik ini, hari ini dan selamanya aku ingin. Saat kamu meninggalkanku, kamu harus mencium keningku sebagai bukti bahwa kamu sedang berusaha mencintaiku dan tidak lagi mengharapkan kehadiran Becca!"
Saat mendengar kalimat itu dari mulut Lola, Gala terdiam mematung dalam keadaan sudah berdiri dari kursinya. Gala tidak tahu ingin menjawab apa, rasanya dia takut apa bila perkataannya akan menyakiti hati Lola kembali.
Jadi, suka tidak suka. Gala melakukan semua itu, membuat Lola tersenyum lebar penuh kebahagiaan. Setidaknya Lola mendapatkan apa yang dia inginkan, meski secara perlahan.
Gala pun pergi meninggalkan Lola di ruang makan, mungkin saja Gala melakukan itu karena dia memang ingin belajar mencintai Lola sepenuhnya. Hanya saja, saat mencium Lola yang ada di dalam bayangannya adalah Becca. Sehingga yang Gala cium bukanlah Lola, melainkan ilustrasi Becca.
Selepas perginya Gala, Lola langsung duduk menyandar dalam keadaan lega. Seolah-olah, beban yang dari tadi dia pikul runtuh semua.
"Hahh ... Si*al! Hampir saja Gala curiga sama aku\, untung aku ada 1000 cara untuk kembali membuatnya percaya\, kalau tidak. Hem\, ma*ti aku!"
"Selamat, selamat, selamat! Lain kali aku harus lebih hati-hati lagi, supaya Gala tetap percaya denganku. Apa pun akan aku lakukan, asalkan Gala bisa menjadi milikku selamanya!"
Lola berbicara di dalam hati kecil tersenyum miring, matanya menyorot lurus ke arah depan dengan pandangan seseorang yang sedang menantang sesuatu.
Selesai mengatakan apa yang ingin Lola katakan, dia segera memanggil pembantu rumah untuk membersihkan meja makan.
.......
.......
.......
...***💜💜>Bersambung