
Becca berpikir bahwa kamar ini merupakan kamar yang banyak kenangan bagi istri pertama Rio, tapi tanpa Becca sadari sebenarnya kamar itu sudah Rii renove sebeda mungkin. Sehingga, Becca akan merasa nyaman ketika menempati kamar utama di rumah sang suami.
Ini merupakan gambaran dari kamar Rio dengan mendiang istri pertamanya. Desain kamarnya terluhat sederhana, tapi sangat elegan persis seperti penampilan mantan istri Rio.
Mommy Yola, merupakan wanita yang penuh dengan kesederhanaan juga keramahan akan sikapnya yang sangat baik. Kebaikan semua itu tidak luput dari isi hati mommy Yola, sehingga Rio selalu menempatkan kenangan indah itu di memorinya tersendiri agar tidak akan mengganggu masa depan Rio.
Ini merupakan gambar dari kamar baru Rio yang dia renove 1 bulan lalu. Meskipun terlihat sama, tetapi tema yang di pilih untuk benar-benar merubah suasana baru untuk pengantin baru.
Rio sengaja mengambil tema abu-abu karena istrinya tidak terlalu menyukai warna-warna megitu terang, gelap atau menyolok. Jadi, tema ini merupakan tema yang menyejukkan untuk mereka. Walapun terlihat tidak semewah kamar pertamanya, tetapi kamar ini akan menjadi saksi bisu cinta mereka yang terus tumbuh.
Suasana yang adem dan nyaman itu membuat Becca langsung menyukai desain dari kamar Rio. Ini yang pertama kali Becca melihat isi kamar Rio, sampai dia bingung harus berkata apa lagi.
Ingat rasanya Becca bertanya, tapi dia urungkan karena tidak enak apa bila pertanyaan itu akan membuat masa lalu yang sudah lama dikubur kembali digali oleh Becca.
"Ay, kamu mau bersih-bersih duluan atau aku?" tanya Rio, membuat Becca berbalik menatapnya.
"Kakak duluan aja, sekalian aku hapus make up sama ganti gaun dulu. Kalau di kamar mandi takut ribet," jawab Becca, diangguki oleh Rio. Kemudian Rio berjalan mengambil baju tidur, setelah itu pergi memasuki kamar mandi.
Becca duduk di kursi rias sambil melihat wajahnya. Bayangan masa lalu Rio mulai terlihat membuat Becca sedikit tidak nyaman. Padahal, dia sendiri memiliki masa lalu. Akan tetapi, Rio tidak pernah merasa tidak nyaman lantaran yang dia lihat sekarang masa depan bukan lagi masa lampau.
Berbeda sama Becca, maklum saja. Wanita akan seperti itu, ketakutan sama ketidak puasan Becca untuk melayani suaminya pasti membuat perasaan dia mulai goyang.
Bisakah aku memuaskan, Kak Rio? Apa lagi usiaku sudha tidak muda lagi, pasti ada bagian tubuhku yang tidak sesempurna ketika masa muda. Apa dia bisa menerimanya, atau dia akan merasa tidak nyaman dengan bentukan yang tidak seperti milik mantan istrinya?
Suara hati Becca terus bergejolak, di usia yang tidak lagi muda pasti akan membuat hasrat berhubungan badan berkurang. Ditambah, Becca juga tidak bisa memungkiri kalau bentuk dari miliknya tidaklah sebagus saat dia masih muda.
Kepercayaan diri Becca mulai terganggu oleh pikiran negatif yang ada di dalam isi kepalanya sendiri. Becca yang sudah mengganti baju, langsung menaruh gaun tersebut di sofa agar besok bisa dia kemas kembali setelah di laundri di tempat khusus.
Becca melanjutkan duduk di kursi rias, mengoleskan sesuatu untuk menghapus make up yang menutupi wajah cantik alaminya. Meskipun, usia Becca terbilang sedikit lagi kepala empat, wajah tetap terlihat awet muda. Dikarenakan Becca selalu merawat kulit tubuh di salon milik dia sendiri, sehingga semuanya terawat tanpa tertinggal. Tidak lupa dia juga sering konsultasi tentang kewanitaan bersama dokter khusus.
Jadi, seharusnya. Becca tidak boleh minder seperti ini. Dia harus yakin pada dirinya sendiri, kalau dia bisa memuaskan Rio sebagai istri. Mungkin, fisik boleh lemah, tapi tidak dengan service yang Becca miliki.
Perlahan Becca memegang foto tersebut, lalu jarinya mulai mengusap bingkai foto itu sambil tersenyum. Hanya saja, tiba-tiba kehadiran Rio mengejutkan Becca yang hampir saja memecahkan bingkat foto yang ada di tangan.
"Ada apa sama foto itu, hem? Kenapa kamu terlihat bahagia?" tanya Rio, memeluk Becca dari arah belakang.
Kedua tangan Rio melingkar di perut Becca, lalu dagunya menempel di pundak sebelah kanan. Kenyamanan yang sudah lama tidak Rio rasakan benar-benar membuat candu. Apa lagi aroma wangi yang berasal dari tubuh Becca selalu bisa menarik perhatiannya.
"Astaga, kakak! Huhh, untung aja enggak jatuh. Kalau jatuh bisa bahaya, tahu!" seru Becca, kembali mengembalikan foto tersebut.
"Ya, maaf, Sayang. Habisnya kamu serius banget, jadi ya, sudah aku peluk aja. Lagi pula kita sudah sah, bukan? Jadi, tidak apa-apa dong, kalau aku meluk istriku sendiri? Lagian cuman meluk kok, tidak lebih. Aku juga paham, pasti kamu butuh waktu untuk menyesuaikan. Jadi---"
"Ssstt ...." Becca menutup bibir Rio, lalu berbalik sambil mengalukan kedua tangan di leher. "Siap, atau tidaknya itu tetap tugasku sebagai seorang istri. Aku akan melayani kakak sebaik mungkin, hanya saja aku akan meminta maaf jika nanti apa yang aku miliki tidak sesuai dengan apa yang ada di bayangan kakak."
"No, no, no!" Rio menggelengkan kepalanya, lalu tangan Rio juga ikut mengalungi leher Becca. Tatapan mata mereka mulai mendalam sambil sesekali menggerakkan badan seperti orang berdansa.
"Dengarkan aku baik-baik ya, Sayang. Mau bagaimana pun bentuknya, aku tidak peduli. Apa yang ada dimilikmu, itu sudah menjadi milikku mutlak tidak bisa di ganggu gugat. Jadi jangan pernah berpikir seperti itu, percayalah pada dirimu sendiri kalau suamimu ini mencintaimu karena hati, bukan fisik. Jika aku memilih yang sempurna, seleraku bukan kamu lagi, Sayang. Sampai sini paham?
"Bagaimana kalau milikku tidak seindah milik mendiang istrimu. Apa lagi rasanya tidak senyaman saat kalian berhubungan. Bagaimana kalau milikku kendor dan sebagainya. Pasti kamu enggak puas, 'kan? Pasti nanti kamu bosen sama ak---"
"Udah ngomongnya? Terus, gimana? Puas bicarain kejelekan dirimu sendiri di depan suamimu yang tidak pernah mempersalahkan itu? Apa harus membandingan dirimu dengan mendiang istriku? Kamu lupakah, mendingan istriku itu sangat ingin bertemu dengan dirimu. Lalu, kamu malah tega mengatakan seperti itu?"
Rio menjauhkan tubuhnya dari Becca, lalu dia berbalik duduk di tepi ranjang dalam keadaan wajah terlihat berubah. Tidak ada senyuman, juga kesenangan di wajah Rio membuat Becca langsung menyadari kesalahannya.
Seharusnya di pernikhan yang seperti ini dia tidak boleh mengungkit yang sudah berlalu. Itu pasti akan menyakitkan di dalam perasaan suaminya. Entah apa yang terjadi, Becca benar-benar merasa kesal. Baru juga mereka kembali bahagia, lagi-lagi Becca melakukan kesalahan yang cukup fatal.
Tanpa rasa ragu, Becca langsung duduk tepat di samping Rio. Tangan Becca menggenggam tangan Rio sambil menatap wajahnya. Semarah apapun Rio, dia tidak pernah menghindar untuk di sentuh oleh Becca. Inilah yang Becca sukai dari sifat Rio, saat marah Rio hanya akan memilih berdiam diri. Berbeda sama Becca yang malah ngambek tidak karuan.
.......
.......
.......
...💜💜>Bersambung<💜💜...