
Joey memberikan salah satu boba brown sugar yang sudah dia beli dari salah satu toko beserta cemilan churros isi 4 dengan toping cream juga strawberry diatasnya.
Dia tersenyum menerima minuman dari tangan Joey sambil memasukkan ponsel ke dalam tas kecil yang selalu di selempangkan di tubuh Yola. Baru saja Joey duduk tepat di samping Yola, Sus Rini datang menghampiri mereka berdua.
"Maaf, Den. Sus terlalu lama ninggalin kalian di sini, soalnya tadi di toilet ngantre banget jadi sedikit lama. Maaf ya, Den, Non."
Sus Rini merasa tidak enak lantaran dia sudah cukup lama meninggalkan mereka berdua, karena begitu padatnya pengunjung membuat toilet sangat penuh.
"Gapapa, Sus. Sini duduk," ucap Yola tersenyum menepuk bangku sebelahnya.
"Ohya, ini minuman buat Sus, jangan lupa cemilannya biar perut Sus Rini tidak sakit. Ayo, ambillah!" titah Joey sambil memberikan semua itu kehadapan Sus Rini.
"Lohh, ti-tidak usah, Den. Sus bisa beli sendiri kok, udah Den Joey makan sama bareng aja Non Yola. Sus mau----"
"Ambillah, rezeki tidak boleh ditolak. Lagian juga setiap jalan-jalan kita selalu jajan bareng, 'kan? Jadi, kenapa harus malu. Ayo, Sus, ambil!" Berulang kali Joey menyodorkan es boba dan churros ke depan wajah Sus Rini, sampai akhinya Sus Rini menerima semua itu dalam keadaan tersenyum.
Yola tidak menyangka, betapa baiknya pria yang saat ini ada di samping Yola. Dulu saja, saat Yola masih bersama perawatnya dia tidak pernah membelikan apapun hanya sesekali. Itu juga kalau Yola ingin jajan malah dia yang memintanya, bukan Yola yang memberikan jajan seperti apa yang Joey lakukan pada Sus Rini.
"Terima kasih, Den. Sus makan di sebelah sana ya, nanti kalau mau ke mana-mana bilang. Sus jaga dari situ, oke?"
Joey menganggukkan kepalanya perlahan, kemudian Sus Rini berpamitan lalu pergi menjauh dari mereka dengan jarak yang tidak terlalu jauh. Paling hanya sekitar 5 meter saja, itu pun mereka masih bisa saling menatap satu sama lain.
Seperginya Sus Rini, Joey kembali menawarkan Yola untuk mengambil cemilan yang ada di sampingnya. Yola langsung memakan cemilan tersebut dalam keadaan mulut belepotan cream, lalu kepala serta badan spontans bergoyang ke kanan dan ke kiri. Semua itu pertanda jika cemilan yang Joey beli tidak bisa diragukan lagi, kalau rasanya benar-benar enak.
"Oh, ya, tadi siapa yang nelpon? Apa orang tuamu?" tanya Joey, penasaran.
"Oh itu, biasa Kak Naku. Dia posesif banget sama aku," ucap Yola kembali menikmati cemilannya.
"Memangnya kau ke sini sama Kakakmu?" tanya Joey, kembali.
"Ya, dia lagi nyari buku. Habisnya lama, ya sudah aku tinggal aja gara-gara haus, ehh ... Malah ketemu Kakak hihi ...."
Yola sedikit berbohong karena tidak ingin pertemuan ini segera berlalu. Joey hanya menganggukan kepalanya saat mendengar jawaban dari Yola. Setelah itu, Joey melihat ke arah Yola yang sedang asyik memakan churros membuat dia tersenyum.
"Gimana, apa rasanya enak?"
"Hem, enak banget, Kak. Makasih ya, udah beliin aku. Aku suka banget, sumpah!" jawab Yola begitu antusias.
"Syukurlah jika kamu menyukainya. Ya, sudah habiskan, nanti aku belikan lagi kalau memang kamu kurang," ucap Joey, tersenyum.
"Boleh juga tuh, secara kalau gratis 'kan aku tidak bisa menolaknya hihi ... Ehh, tu-tunggu dulu, harusnya aku yang mentraktir kakak karena aku masih punya hutang 3 permintaan sama kakak waktu itu, ya 'kan?"
Joey selalu tersenyum melihat tingkah lucu Yola yang benar-benar persis seperti anak balita. Tanpa disuruh, Joey mengangkat tangannya untuk mengusap sisa cream yang ada di sudut bibir Yola.
"Lain kali belajar makan yang benar ya, jangan sampai menyisakan makanan di bibirmu. Kasian nanti kalau ada semut yang datang, bisa-bisa bibirmu jadi jontor saking manisnya."
Setelah selesai membersihkan sisa cream, Joey kembali menikmati minuman segar itu sambil matanya menatap segala arah. Berbeda sama Yola, dia hanya terdiam mematung tanpa mengalihkan pemandangan dari wajah Joey.
Lidah Yola mulai menjilat ke arah sudut bibir sebelah kiri sampai ke sudut kanan. Yola tidak menyangka kalau apa yang Joey lakukan padanya benar-benar terasa sangat manis. Padahal tanpa disadari, rasa manis itu berasal dari sebuah cream bukan sentuhan tangan Joey.
"Kakak enggak mau?" tanya Yola.
"Makanlah, habiskan nanti kita beli lagi kalau kurang." Joey menoleh sambil tersenyum kecil.
"Oh, tidak bisa! Pokoknya kakak harus makan, ayo buka mulutnya. Aaa ...."
Yola membuka mulutnya sambil menyodorkan churros ke depan mulut Joey, persis seperti ibu-ibu yang lagi memperagakan untuk menyuapkan anak kesayangannya.
Berulang kali Joey menggelengkan kepala, tetapi Yola tetap memaksa untuk menyodorkan churrss tersebut ke mulut Joey. Jadi, tidak ada pilihan lagi selain Joey membuka mulut untuk menerima apa yang Yola berikan.
"Gimana enak 'kan? Woo, jelas dong, suapan Yola memang is the best. Mommy bilang suapan Yola itu bikin nyaman jadi bikin mommy tidak mau berhenti makan. Kakak juga kan? Hihi ...."
Joey tersenyum menganggukan kepala sambil mengunyah. Lebih tepatnya sih, bukan nyaman, hanua saja suapan Yola malah bikin nagih Joey lantaran Yola melakukannya penuh kasih sayang juga kelembutan hati bukan paksaan.
Siapa sangka ketika Yola sedang asyik menyuapi Joey, tiba-tiba seseorang datang dari arah belakang dan langsung menjewer telinga Yola. Mereka berdua terkejut sama sepertu Sus Rini yang langsung menghampirinya.
"Bagus ya, masih kecil udah pacaran. Mana suap-suapan lagi, kakak bilangin mommy tahu rasa!" Ancam seseorang yang tidak lain adalah Naku, dia sudah selesai membayar buku yang Yola butuhkan dan langsung mencari keberadaan adik tersayang.
Namun, apa daya. Naku malah melihat pemandangan yang sangat menyebalkan, di mana Yola sedang menyuapi Joey cemilan sambil duduk di sampingnya.
"Maaf, ini ada apa ya, Den? Kenapa dia menjewer telinga Non Yola, apa yang terjadi?" tanya Sus Rin khawatir melihat kondisi Yola yang meringis kesakitan.
"Ehh, kakak hehe ... A-ada apa, Kak? Kok kakak di sini?" tanya Yola cengengesan sambil menengok ke arah belakang menatap Naku dalam keadaan wajah sangat dingin.
"Enak ya asyik duduk disini makan minum, sedangkan aku pusing nyari buku untuk sekolahmu. Dasar menyebalkan! Udah ayo, pulang. Sekarang!" ucap Naku penuh penekanan di setiap kalimatnya.
"Yaaa, jangan dong, Yola belum mainan loh, masa udah pulang aja sih, enggak seru nih, kakak!"
"Ya, terus aja gitu. Dari tadi ditelponin gak diangkat ternyata lagi pacaran di sini, mana sama pria jelek ini lagi. Udah, udah, ayo pulang!"
Naku segera menyudahi jeweran di telinga sang adik, kemudian menarik keras tangan Yola sampai dia keseret. Akan tetapi, Yola malah menjerit sambil menangis karena kakinya yang terkilir terasa sangat sakit.
"Akhhh ... Sa-sakit, Kak. Kakiku sakit!" pekik Yola membuat Naku menghentikan langkah kakinya karena merasa terkejut melihat reaksi Yola.
Sus Rini dan Joey yang tadinya terdiam karena tidak ingin ikut campur urusan mereka, tetapi ketika melihat Yola kesakitan mereka langsung merebut Yola dari tangan Naku. Kemudian Sus Rini membawa Yola untuk duduk, lalu Sus Rini berjongkok di hadapan Yola untuk melihat kembali kaki yang beberapa menit lalu sudah diurut.
"Apa ini sakit, Non?" tanya Sus Rini diangguki oleh Yola.
"Banget, Sus. Padahal tadi sudah enakan, cuman pas kakak langsung narik begitu aja membuat kakiku jadi tambah sakit hiks ..."
Melihat Yola menangis, Joey mencoba untuk menenangkannya. Berbeda sama Naku yang masih berdiri 1 meter dari mereka dalam keadaan syok parah. Naku tidak menyangka atas keegoisan yang dilakukan berhasil melukai Yola sampai salah satu kaki sang adik terasa sangat sakit ketika dibuat jalan.
.......
.......
.......
...💜💜>Bersambung<💜💜...