Jangan Renggut Kebahagiaanku!

Jangan Renggut Kebahagiaanku!
Merasa Tidak Tega


Di dalam mobil Gala merasa kesal dan juga maeah kepada dirinya sendiri. Dia tidak menyangka sebuah emosi yang ada di dalam dirinya bisa keluar, hingga melukai orang yang dia cintai.


"Aarghh ... Ada apa denganku! Kenapa aku malah menyakiti istriku sendiri dengan tanganku, di saat aku tidak terima kalau Becca mengatai anak itu. Padahal aku sendiri pun tidak mengakuinya, sebelum anak itu terbukti adalah anakku!"


"Terus kenapa saat Becca mengatakan perkataan itu seakan-akan hatiku sangat hancur? Apakah ini yang di namakan hati nurani seorang Ayah, meski aku sendiri belum tahu tentang kebenarannya?"


Gala berbicara di dalam mobil dalam keadaan mobil melaju cukup kencang menerobos kegelapan malam yang sangat sepi.


Pikiran kacau dan juga hati yang tidak karuan membuat Gala tidak tahu harus pergi kemana lagi. Saat ini dia hanya mengikuti kemana pun mobil itu membawanya pergi.


Mata Gala hanya terpokus pada jalanan sambil menggigit jarinya sendiri. Sementara pikirannya selalu berpacu kepada kondisi Becca yang entah bagaimana setelah dia tinggal pergi.


20 menit berjalan, tidak terasa mobil Gala malah membawanya ke sebuah Apartemen miliknya yang Becca tidak ketahui.


Gala membeli Apartemen itu demi Lola dan juga anaknya, agar mereka tidak tinggal di rumah yang kurang nyaman. Semua Gala lakukan bukan karena dia mencintai Lola, melainkan dia hanya tidak tega. Terlepas itu anaknya atau bukan, Gala tetap akan memperlakukan mereka dengan baik.


Jadi, suka tidak suka. Gala tetap harus membuat mereka nyaman sampai waktunya tiba nanti. Dimana Gala bisa mengetahui kebenaran sesuai fakta nyatanya.


Rencana ini hanya Gala yang tahu, Lola sendiri pun tidak tahu jika sikap Gala yang baik ini hanya demi menutup sesuatu yang akan dia rencanakan di kemudian hari.


"Astaga, kenapa aku malah pergi ke sini sih? Bukannya tadi aku sudah berada di jalan ke arah kantor?" tanya Gala pada dirinya sendiri.


Wajahnya terlihat linglung saat mobilnya terpakir rapi di parkiran Apartemen yang sangat sepi. Tanpa basa-basi lagi, Gala kembali menyalakan mobilnya sambil tergesa-gesa untuk memutar arah menuju kantornya.


Namun, sayangnya. Pintu kaca depannya di ketuk oleh seseorang yang sangat dia kenal. Siapa lagi kalau bukan istri sirih yang berhasil merenggut kebahagiaannya.


"Tuan, buka kacanya!" ucap Lola, mengetuk kaca beberapa kali.


Gala yang sudah sangat bingung dan terlihat gugup, perlahan mulai membuka kaca mobilnya sambil menatap wajah Lola yang tersenyum ke arahnya.


"Aku seneng Tuan bisa ke sini, pasti Tuan kangen ya sama aku?" ucap Lola, sedikit membungkukkan tubuhnya dan memasukan wajahnya menatap Gala.


Perlahan Gala mulai memundurkan wajahnya dalam keadaan yang gelisah. Bibirnya bergetar, tidak tahu harus menjawab apa. Sementara tangannya sudah terasa dingin saat mencekram setir mobil.


"Tuan? Tuan kenapa, kok mukanya kaya ketakutan begitu? Apa Tuan ada masalah sama Nyonya?" tanya Lola berusaha ingin mengusap wajah Gala, tetapi langsung di tepis olehnya.


"E-enggak, a-aku gapapa. Udah sana kamu masuk, ngapain malam-malam keluyuran di luar Apartemen?" tanya Gala, mengalihkan pembicaraan.


"O-oh, ya-ya sudah sa-saya balik du---"


"Eiits ... Mau kemana, Tuan? Sudahlah, aku tahu Tuan lagi ada masalah sama Nyonya, bukan? Jadi, dari pada Tuan bingung harus kemana. Lebih baik, di sini sama aku dan anak kita. Kapan lagi 'kan dia bisa merasakan pelukan Ayahnya."


Tangan Lola menahan tangan Gala, lalu mencabut kunci mobilnya sambil memainkan di jari telunjuknya. Gala berusaha keras menyangkal semua itu, kemudian keluar untuk mengambil kunci mobilnya.


Sayangnya, tanpa di sengaja tubuh kekar Gala membuat tubuh Lola kehilangan keseimbangan dan terjatuh tepat di atas rerumputan kecil.


"Aawsshh ...." keluh Lola, memegangi perutnya sambil meringis.


Gala yang merasa bersalah langsung berusaha untuk menolongnya, sambil meminta maaf bila dia tidak sengaja melukainya.


"Ma-maaf, aku--"


"Tidak apa-apa, Tuan. Anakmu kuat kok, hanya kaget sedikit saja. Kalau memang Tuan ingin kembali pergi, ya sudah. Aku tidak akan memaksakannya, walaupun anak ini sangat menginginkan Ayahnya."


Lola berusaha berdiri perlahan sambil mengambil belanjaannya di bantu oleh Gala. Kemudian dia mengelus perut yang sedikit membuncit, sambil memasang wajah yang sangat sedih.


Semua itu untuk menarik rasa simpati Gala kepadanya, karena Lola sangat tahu Gala tipikal pria yang memang tidak tega saat melihat seorang wanita kesakitan ataupun bersedih.


Di tambah saat ini Lola pun sedang hamil muda, jadi pasti Gala akan sangat menjaga moodnya supaya tetap stabil. Agar kelak anaknya bisa lahir dalam keadaan sehat.


Terbukti, bukan? Gala langsung menurunkan egonya demi menuntun Lola yang berjalan sendiri memasuki Apartemen.


Satu sisi Gala memang ingin mengakhiri semua ini, tetapi di sisi lain Gala juga masih memikirkan bayi yang ada di dalam perut Lola. Sebab, jika terbukti kalau itu anaknya. Kemungkinan besar Gala memang akan menerima kesalahannya, tetapi jika tidak.


Maka, Gala akan menyudahi semua sandiwara Lola dan kembali memperbaiki hubungan rumah tangganya bersama Becca. Hanya saja, sepertinya Gala sudah mulai kecolongan. Sehingga Becca telah mengetahui hubungannya dengan Lola yang di tutupi rapat-rapat.


.......


.......


.......


...***💜💜>Bersambung