
Di rumah, seorang wanita sedang tersenyum lebar saat mendapatkan kabar baik tentang perkembangan usaha barunya yang sudah mulai menunjukkan kemajuannya. Usaha itu bernama Ecca Sweet Cakery.
Artinya, usaha ini adalah usaha milik Becca. Di mana Becca membuka toko sederhana yang tidak terlalu besar dan juga tidak kecil untuk menjual berbagai macam cake. Mulai dari cake ulang tahun, cake pesta atau yang lainnya. Intinya berhubungan sama sesuatu yang terbilang manis, enak serta mengenyangkan.
Di sini Becca sudah memperkerjakan beberapa karyawan. Salah satunya seorang chef yang menjadi kepala koki di sana, sebagai pemandu untuk menuangkan resep yang Becca berikan ke dalam adonan kue tersebut.
Semua ini tidak lepas dari bantuan Rio yang selalu ada di belakang Becca, sebagai penguat di saat dia sedang terpuruk. Apa lagi salon kecantikannya juga, makin ke sini semakin menunjukkan kemajuannya walau pun sedikit demi sedikit. Setidaknya, usaha Becca berjalan lancar tanpa adanya hambatan.
Sering kali Becca datang ke toko cake untuk sekedar mengecek semua produksi kue yang ada, tidak lupa dia sesekali mencoba beberapa kue agar bisa mengetes rasanya, apakah sesuai dengan resepnya atau tidak.
Dan, ya. Rasanya itu memang begitu sempurna, sesuai sama apa yang dia inginkan. Meskipun, Becca tidak turun tangan secara langsung setiap harinya. Akan tetapi, sesekali dia masih suka membantu usahanya baik di cake atau pun di salon.
Apa lagi, Becca tidak pernah berhenti untuk melakukan hal-hal baru di rumahnya untuk mencoba resep-resep yang baru. Sehingga pada akhirnya dia jatuh sakit, dalam kondisi badan yang kurang stabil.
Becca hanya bisa duduk, bahkan merebahkan badannya sendiri di atas ranjang. Untuk makan pun, Becca tidak bisa turun dari ranjang karena rasa pusing dan lemas masih menyelimuti badannya. Itu juga, hanya masuk beberapa suap saja ke dalam mulutnya tidak sampai habis.
Saat ini Becca sedang duduk menyandar di ranjangnya sambil menonton televisi. Tiba-tiba suara ketukkan pintu terdengar, membuat Becca segera mempersilakan masuk.
"Masuk saja, Bi!" titah Becca, suaranya terdengar seperti serak basah.
"Permisi, Nya. Maaf menganggu istirahatnya, di depan ada Tuan Rio ingin menjenguk Nyonya Becca. Akan tetapi, kalau Nyonya masih ingin istirahat Tuan bisa menunggu sampai keadaan Nyonya sudah jauh lebih membaik. Tuan tidak mau memaksakan untuk bertemu Nyonya dalam kondisi seperti ini," ucap Bibi, sedikit memberikan penghormatan pada Becca selaku majikannya.
"Suruh masuk aja ke sini, Bi. Kalau untuk turun, sepertinya saya masih kurang mampu soalnya kepala sama badan rasanya masih tidak karuan," jawab Becca memegangi kepalanya.
"Baik, Nya. Saya akan sampaikan pada Tuan dulu, permisi!"
Becca mengangguk perlahan sambil melihat pembantunya mulai meninggalkan kamarnya untuk menyampaikan pesan dari Becca.
Hanya selang beberapa menit, suara ketukan pintu terdengar kembali membuat Becca menatapnya dan mempersilakan orang tersebut untuk masuk.
"Hai, apa aku mengganggumu?"
Rio tersenyum bersamaan dengan pintu yang di buka lebar. Semua itu sengaja Rio buka, agar tidak membuat salah paham apa bila pintu tertutup rapat.
Becca membalas senyuman Rio, dan mempersilakannya untuk duduk di tepi ranjang sambil menatap satu sama lain.
"Sudah aku bilang, bukan? Jangan terlalu memporsil tenagamu untuk mewujudkan semuanya dalam sekejap mata, karena semua itu butuh proses tidak ada yang instan."
"Sekarang, lihatlah! Kamu jadi jatuh sakit, kan? Makannya, kalau di bilangin itu jangan bandel, jangan ngeyel. Kalau udah begini barulah tahu rasa, hem!"
"A-awsshh ... Sa-sakit, Kak! Astaga, orang sakit bukannya di manja malah di jewer. Dasar menyebalkan!"
Tangan Rio berhasil menjewer telinga sebelah kanan Becca, sampai dia kesakitan. Bukan karena Rio tidak kasihan, tetapi ini sebagai hukuman kecil untuknya agar tidak terlalu memaksakan semuanya sendiri.
Wajah Becca langsung cemberut kesal, membuat Rio malah semakin gemas dan beralih untuk mencubit kedua pipinya sampai Becca kembali menunjukkan taringnya.
Berdebatan kecil itu pada akhirnya berubah menjadi tertawa, wajah mereka berdua terlihat bahagia. Sampai akhirnya tangan Rio mengusap pipi Becca penuh kasih sayang, Becca sedikit terkejut atas perilaku yang saat ini Rio lakukan padanya.
"Aku tahu, kamu pasti lagi senang-senangnya merintis semuanya dengan hasil yang memuaskan. Hanya saja, ingatlah! Ada kesehatan yang harus kamu selalu jaga, aku tidak tega melihatmu seperti ini. Wajah yang biasanya aku lihat segar dengan make up tipis nan cantik. Sekarang terlihat pucat, lemas dan juga lesu. Rasanya aku tidak tenang saat mendengar adikku sendiri sakit seperti ini, jadi kalau kamu menganggap aku sebagai Kakakmu. Maka, aku mohon jangan ulangi semua ini."
"Aku sama sekali tidak melarangmu untuk bekerja, tetapi aku hanya mengingatkanmu kalau kamu harus menjalani semua mengikuti prosesnya. Karena, apa bila kita melakukan semuanya dalam keadaan tergesa-gesa, itu hasilnya tidak akan baik. Kamu paham 'kan, apa yang aku bicarakan ini?"
Becca yang tidak kuat menahan rasa sedih di dalam hatinya, spontan langsung memeluknya begitu erat. Becca sangat-sangat berterimakasih pada Rio, karena dia hadir di saat yang tepat.
Mungkin jika tidak ada Rio, Becca tidak akan bisa ada di titik seperti ini. Pasti dia akan sangat-sangat terpuruk, dan tidak tahu harus bagaimana lagi bangkit di saat semuanya sudah menghancurkannya.
Di saat Rio ingin membalas pelukan Becca, tiba-tiba seseorang masuk ke dalam kamar hingga berhasil mengejutkannya mereka. Rio dan Becca segera melepaskan pelukannya, lalu melihat ke arahnya. Di mana dia malah langsung memarahi Rio dalam keadaan kesal.
.......
.......
.......
...***💜💜>Bersambung