
Kebahagiaan mereka memang terlihat begitu simpel, meski sering kali Naila dan ayahnya bersikap seperti anak kecil. Akan tetapi, mereka memiliki kasoh sayang yang sanhat besar terhadap satu sama lain.
Mungkin, jika bukan karena dorongan semangat dari Naila, saat ini kedua orang tuanya tidak bisa memiliki anak separang yaitu perempuan dan laki-laki.
Meski perbedaan umur yang cukup jauh, mereka tetap merasa bahagia. Di usia yang terbilang cukup tua sang bunda masih bisa melahirkan anak kembali dalam keadaan normal tanpa kekurangan satu apapun.
Naila dan Naku sudah tidak lagi satu sekolah. Mereka terpisah karena memiliki pilihan sekolah tersendiri. Apa lagi keluarga Naila tidak bisa menyekolakannya di tempat elite seperti Naku. Sehingga, mereka harus terpisah dengan perasaan sedih.
Namun, di sini bukan Naku yang sedih. Melainkan Naila, dia benar-benar merindukan Oppa kesayangannya yang sudah lama tidak dia lihat kembali.
Ingin rasanya suatu saat nanti Naila kembali bertenu Naku, walaupun dalam keadaan berbeda. Akan tetapi, Naila bisa menumpahkan rasa rindu yang dia pendam. Sayangnya, Naila tidak tahu di mana rumah Naku. Sedangkan Naku yang tahu rumahnya, tidak sedikit pun mengunjunginya setelah mereka berpisah.
Jangan salah, Naku dan Naila sedikit memiliki perbedaan. Di mana Naku langsung loncat ke kelas 2 SMP karena dia memiliki kepintaran di atas rata-rata. Jadi, saat ini Naku sudah kelas 3 SMP yang sebentar lagi akan menghadapi ujian kelulusan. Sementara Naila, akan menghadapi ujian kenaikan sekolah ke kelas 3 SMP.
...🌟🌟🌟🌟🌟...
Kembali, ke keluarga Naku. Saat ini Naku sedang menikmati hari liburnya dengan beristirahat di rumah tanpa gangguan Yola. Dikarenakan Yola sedang berpiknik dengan teman sekolahnya.
Berbeda sama Rio dan Becca. Mereka sedang pegi ke suati tempat yang cukup rahasia. Untungnya Rio mendapatkan izin dari anaknya, jika tidak rencananya akan menjadi sia-sia.
Tidak lupa, Naku pun harus tetap belajar walaupun dalam keadaan libur. Semua demi bisa mengejar impian Naku yang ingin menjadi pengusaha sukses melebihi Gala ataupun Rio.
Dengan begitu, Naku bisa membalas semua jasa Becca tanpa harus membiarkan Becca kelelahan untuk mencari nafkah seorang diri demi membesarkannya.
Ketika di dalam perjalanan, Becca selalu membahas soal pekerjaan. Akan tetapi, Rio mencoba untuk menghentikan pembahasan tersebut, dan meminta Becca untuk fokus pada mereka berdua. Di mana Becca terdiam penuh syok, saat Rio hanya menginginkan pembahasan seputaran mereka.
Bagaimana tidak syok, toh Becca baru kali ini mendengar Rio mengatakan hal yang sangat serius. Awalnya suasana baik-baik saja, dan sekarang malah menjadi tegang dan tidak nyaman setelah perkataan Rio.
"Loh, kenapa diam? Tadi perasaan rame, kok jadi sepi?" tanya Rio, menoleh ke arah Becca.
"Akhh, e-enggak kok. Ohya, ini kita mau ke mana?" tanya Becca kembali, demi menutupi rasa gugupnya.
"Rahasia, kamu lihat saja nanti. Pasti kamu akan suka, " jawab Rio, tersenyum.
"Kok perasaanku enggak enak ya? Jangan-jangan kakak mau ngerjain aku ya?" ucap Becca, langsung menuduh Rio begitu saja.
"Ya enggaklah, aneh kamu itu. Udah sih, lihat aja nanti. Kalau terbukti aku ngerjain kau, silakkan hukum aku. Kalau tidak, aku yang hukum karena kamu sudah menuduhku. Gimana? Deal?" ucap Rio, menjulurkan tangannya sesekali menoleh ke arah Becca.
"Ishh, apaan sih. Dahlah enggak jadi, mainnya hukum-hukuman mulu, udah kaya Yola aja," jawab Becca, kesal. Dia langsung menoleh berlawanan arah dalam kondis pipi mengembung bagaikan ikan buntal.
Ingin rasanya Rio tertawa, tetapi dia mencoba untuk tetap menahannya. Walaupun berulang kali Rio mengalihkan wajahnya ke samping untuk bisa tersenyum, ketika melihat wajah Becca yang sangat lucu. Persis seperti anak kecil yang sedang mogok makan.
"Nga-ngapain kita ke sini, Kak? Ja-jangan bilang kakak mau macem-macem sama aku? Kok bisa kepikiran di sini, kenapa tidak di hotel?"
Pertanyaan Becca langsung mendapatkan satu jeweran kecil dari tangan Rio. Bisa-bisanya Becca berpikir sekotor itu mengenai dirinya yang selalu berusaha untuk menghormati wanita.
"A-awwsshh, sa-sakit, Kak. Ampun, ampun!"
"Ya, terusin aja nuduhnya. Biar ini kuping melar kaya karet!"
"Hihi, ma-maaflah, Kak. Habisnya ngapain kakak ngajak aku ke hutan coba, 'kan masih ada tempat bagus. Mall, Pantai, Restoran atau tempat wisata lainnya. Kenapa juga harus---"
"Ssstt, diamlah. Jangan bawel! Ayo turun, atau mau aku naikin, sekarang?"
"Hyaaakk, kakak!"
"Bhahaha ...."
Rio tertawa geli ketika melihat ekspresi wajah Becca yang sangat terkejut atas ucapannya. Lagian berani-beraninya Becca memancing singa jantan lebih dulu, saat pancingannya dibalikin Becca langsung ngereok bagaikan kucing.
Saking kesalnya, Becca keluar dari mobil langsung berjalan ke arah depan membuat Rio segera menghetikan tawanya dan mulai mengikutinya dari arah belakang.
Setelah Becca mengikuti jalan setapak itu, dia tidak menemukan apa-apa di sana. Lalu, berbalik menatap Rio yang saat ini hanya berdiri sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Mana? Katanya mau bawa aku ketempat rahasia, terus kenapa tidak ada apa-apa di sini? Bahkan ini hanya hutan doang, dasar aneh!"
Rio tersenyum lebar, padahal sebenarnya tempat tersebut ada di hadapan Becca. Hanya saja, Becca tidak bisa melihatnya. Namanya juga rahasia, pasti Becca tidak akan mengtahuinya sebelum Rio memberitahunya.
Perlahan Rio mendekati Becca lalu dia mengajak Becca berjalan sedikit ke arah semak-semak, lalu tangannya menunjuk ke arah sesuatu yang berhasil membuat kedua mata Becca langsung membola besar.
Mata Becca tidak berkedip sedikitpun. Dia benar-benar syok atas apa yang di lihatnya saat ini. Hanya berselang beberapa detik perlahan mata Becca mulai berkaca-kaca.
Becca tidak menyangka Rio bisa memperlakukannya semanis ini, meskipun terlihat sederhana. Becca tetap sangat menyukai sesuatu yang Rio berikan padanya.
.......
.......
.......
...💜💜>Bersambung<💜💜...