
Seseorang duduk di samping Naku tanpa permisi, sehingga membuat Naku pun terkejut ketika dia mengenali orang yang saat ini tersenyum.
"Hai, kenapa kamu ada di sini, hem?" tanyanya, membuat Naku kembali menatap ke arah depan dalam keadaan wajah yang sudah biasa saja.
"Ngapain Om Rio ada di sini? Kenapa tidak langsung ke rumah!" seru Naku, cuek.
"Sepanjang persidangan tadi, Om selalu memperhatikan gerak-gerikmu. Om tahu, satu sisi kamu pasti membela Mommymu. Akan tetapi, satu sisi lagi kamu masih belum siap bukan, kehilangan semua yang sudah lama kamu rasakan?" tanya Rio, menatap wajah Naku.
"Jangan so tahu deh, lagian ngapain sih Om ngikutin aku sama Mommy terus. Apa Om suka sama Mommy, iya?" tanya balik Naku. Matanya melirik ke arah Rio, di mana Rio malah terlihat tertawa kecil saat mendengar kata-kata itu terucap dari bibir Naku.
"Kenapa ketawa? Enggak ada yang lucu!" ucap Naku, mengalihkan pandangannya dan kembali menatap ke arah depan.
"Ya, kamu itu yang lucu. Om dan Mommymu itu udah kaya Kakak sama Adik, sama halnya seperti kamu dan Yola. Jadi, mana mungkin Om bisa suka sama---"
"Buktinya, dulu sebelum Mommy nikah sama Daddy. Om suka 'kan sama Mommy? Jadi, kenapa sekarang tidak bisa? Aneh!"
Rio tidak henti-hentinya tersenyum saat Naku kembali mengingatkan tentang masa lalunya bersama Becca.
"Jika kita membicarakan masalah masa lalu, ya memang. Om akui, Om suka sama Mommymu. Suka banget! Berbeda sama sekarang, kita sudah punya kehidupan masing-masing. Mommymu fokus untuk membesarkan kamu, begitu juga Om yang fokus mendidik Yol--"
"Kalau misalkan semua itu kejadian lagi, gimana?Apakah Om akan tetap suka sama Mommy? Terus Om pasti akan menggantikan posisi Daddy, ya?"
Tatapan tajam dari Naku, tidak gentar membuat Rio menjadi takut. Dia malah tersenyum, karena sifat Naku benar-benar persis seperti dirinya ketika kecil. Maka dari itu, Rio selalu terlihat tenang bila di hadapkan dengan kerasnya batu seperti Naku.
Rio menarik napasnya panjang, dan menghembuskannya secara perlahan. Lalu dia duduk santai sambil menatap ke arah depan, senyumannya tidak pernah memudar membuat Naku menjadi penasaran.
"Jika Om boleh memilih, Om juga tidak ingin berada di posisi seperti ini. Om tidak tega melihat Yola menjalani kesehariannya tanpa seorang Ibu, tetapi Om tidak bisa melawan takdir Om sendiri. Jadi, Om hanya bisa menerimanya dan memikirkan bagaimana caranya Yola bisa tumbuh dewasa tanpa sedikit pun merasakan kekurangan kasih sayang."
"Om tahu, bagaimana perasaanmu ketika di hadapi ujian seberat ini. Kehidupan yang awalnya terlihat bahagia, seketika sirnah begitu saja hanya karena badai lewat. Sama seperti Om ketika masih seusia dirimu, bahkan jauh lebih kecil darimu. Di mana pada waktu Om berusia 7 atau 8 tahun, kedua orang tua Om sudah bercerai karena hal yang sama. Yaitu, perselingkuhan."
"Perselingkuhan adalah salah satu obat yang ampuh untuk memecah hubungan seseorang, tetapi apa bila orang tersebut tidak berpengaruh dengan obat tersebut. Maka, sampai kapan pun hubungan akan tetap baik-baik saja tanpa adanya perpisahan. Malah, orang yang akan menghancurkannya yang menyerah karena tidak bisa menghasut pasangan tersebut."
"Namun, sayangnya. Seorang pria kebanyakan susah untuk menahan hawa napsu yang ada di dalam dirinya sendiri. Apa lagi ketika bertemu dengan wanita yang jauh lebih sempurna dan juga cantik dari istrinya, maka rasa ingin memiliki itu secara tiba-tiba muncul dengan sendirinya. Itulah yang terjadi, apa bila kita kurang bersyukur dalam memiliki pasangan hidup."
"Kamu harusnya masih beruntung, ketika Mommy dan Daddymu bercerai, kamu masih mendapat hak atas kekayaan Daddymu sendiri, begitu juga Mommymu yang mendapatkan sebagian dari harta suaminya. Berbeda sama Om dan Mamah Om, kami berpisah tanpa sedikit pun mendapatkan harta dari Papah Om. Padahal semua harta yang Papah Om miliki itu adalah harta dari Mamah Om, hanya saja di balikan nama atas namanya tanpa sepengetahuan Mamah Om."
"Dari situlah hidup kami mulai tersiksa, Om dan Mamah Om pergi menjauh dari semuanya tanpa membawa apa pun kecuali baju yang kami gunakan terakhir kalinya. Bisa di bilang Om dan Mamah Om adalah gembel yang tidak punya apa pun. Kami bertahan hidup di bawah kolong jembatan dengan mengais rezeki melalui pekerjaan sebagai pemulung. Jijik? Kotor? Ya itulah, udah makanan kami sehari-hari. Kurang lebih, Om bertahan hidup di sana selama 1 tahun."
"Di usia Om yang masih kecil harus di tuntut untuk bekerja membantu Mamah Om hanya sekedar mendapatkan sesuap nasi, itu pun dalam seminggu kami hanya bisa makan kurang lebih 4 sampai 5 kali. Atau bisa juga 1 bungkus nasi yang berisi nasi dan tempe serta tahu kami makan berdua itu hanya sekali makan. Selebihnya kami seperti orang berpuasa yang menahan lapar dan terkadang kami minum mengandalkan dari aliran air yang bersih."
"Sulit bukan? Itulah perjalanan hidup Om, sebelum Om bisa berada di posisi ini. Di mana Mamah Om menemukan seorang pria yang sangat baik, dan juga jauh lebih kaya dari Papah Om. Seiring berjalannya waktu mereka dekat, dan melangsungkan pernikahan. Dari situ hidup Om kembali berubah drastis, Om tidak menyangka bisa ada di posisi saat ini. Padahal dulu Om dan Mamah Om hampir saja menyerah, kami hanya mengandalkan doa dan kepercayaan bila suatu saat nanti kami akan berada jauh di atas orang-orang yang telah menyakiti kami."
"Terbukti bukan? Kami bisa berada di atas mereka. Sayangnya, Mamah Om mengidap penyakit sampai meninggal, sedangkan Ayah sambung Om, dia meninggal karena sebuah kecelakaan 3 hari setelah Mamah Om meninggal dunia. Bisa di katakan kalau cinta mereka memang murni cinta, maka dari itu Om tidak mau mencarinya. Biarkan Tuhan yang mengirimkan orang baik untuk menemani hidup Om dan Yola, jika tidak maka Om tidak akan memaksakan takdir!"
"Sekarang, kamu tidak perlu takut, tenang saja. Om yakin, hubungan Om dan Mommymu hanya sekedar sahabat, tidak akan lebih. Om tidak akan melangkahimu apa pun yang terjadi nantinya, Om percaya kelak kamu bisa menjaga Mommymu sendiri tanpa bantuan Om."
.......
.......
.......
...***💜💜>Bersambung