Jangan Renggut Kebahagiaanku!

Jangan Renggut Kebahagiaanku!
Tidak Terima


"Semuanya jadi, Rp 355.000,-00. Ini belanjaan, Dek. Semua sudah ada di dalam tas ini sesuai pesanan."


Seorang penjual bersama asistennya menaruh 4 kantung tas belanjaan yang ditaruh tepat di atas meja. Naku spontans berdiri dalam keadaan syok, sedangkan Naila hanya bisa tersenyum. Dikarenakan gadis itu sudah tidak terkejut dengan jumlah nominal dari harga makanan tersebut.


"Hahh? Kok, mahal banget, sih. Perasaan di Restoran bintang 5 aja gak semahal itu. Masa iya, cuma mesen kaya gitu doang harganya udah kaya makan steak mahal. Astagaa ...."


Naku benar-benar tidak menyangka, ternyata harga makanan di sana sampai mengalahkan harga makanan Restoran.


Ibu-ibu yang menjual makanan tersebut merasa tidak terima dan langsung membantah apa yang Naku ucapkan. Meskipun hatinya dongkol, tetapi sebisa mungkin ibu itu menjaga perkataannya.


"Maaf ya, Dek. Saya tidak terima jika kamu membandingkan makanan yang saya jual dengan makanan di Restoran. Saya tahu, makanan saya mungkin tidak seenak di Restoran, tetapi harga yang kami berikan itu sudah standar. Kami tidak mengambil untung banyak dari dagangan yang kami jual. Apalagi, kami di sini mencari uang untuk menafkahi keluarga, jadi tidak mungkin kami pasang harga seenak jidat."


"Jikalaupun, harga-harga makanan yang kami jual terlalu mahal itu bukan keinginan kami sebagai penjual. Sebab, kami setiap bulannya harus membayar lapak. Itu juga sudah menghabiskan setengah dari pendapatan kami, terus gimana caranya kami bisa mendapatkan untung kalau tidak pintar dalam memperhitungkan semuanya?"


"Kalau kamu tidak percaya, coba saja telusuri kantin rumah sakit ini dari ujung ketemu ujung. Saya yakin 100 persen, hanya lapak saya yang memiliki harga standar. Cuma, kalian tenang saja. Bagi kami, ada harga ada kualitas. Kami lebih mengutamakan rasa, daripada harga. Jadi, kalau kamu bilang ini mahal, menurut saya salah."


"Ini rumah sakit besar, rumah sakit elite dengan fasilitas tercanggih. Sehingga, orang yang sakit atau dirawat di sini semua berasal dari kalangan menengah ke atas, bukan ke bawah. Bahkan, orang kaya sekali pun jika ada rumah sakit di bawa ini dengan fasilitas terbaik pun tidak akan mau di rawat di tempat ini. Cuma, gimana? Hanya di rumah sakit inilah dokter-dokter terbaik dengan bayaran setimpal berada, bahkan berbagai macam penyakit bisa ditampung di sini asalkan kuat biaya."


"Nah, sekarang yang jadi pertanyaan saya. Apakah adik-adik semua dari kalangan menengah ke bawah? Tidak, bukan! Maka dari itu, kerabat kalian bisa sampai dirawat di sini. Ehh, jangan salah. Walaupun, kalian orang kaya, hanya orang tertentu yang bisa masuk ke sini. Terus, sekarang gimana? Apakah kalian masih ingin mempermasalahkan harganya? Kalau memang begitu, tidak apa-apa. Makanan ini saya bawa kembali, kalian bisa membelinya di Restoran saja. Harga dan rasa mungkin jauh di atas masakan saya."


Penjual tersebut memberikan senyuman kecil kepada ketiga bocil menyebalkan itu. Walaupun, hatinya sedikit tercubit atas perkataan Naku yang asal berbicara tanpa dipikir, tetap saja sebisa mungkin dia harus bersikap ramah kepada pembeli.


Kemungkinan besar, ibu itu sudah banyak mengalami hal seperti ini. Sehingga, dia bisa mengontrol emosi dengan terus bersikap baik dan berbicara menggunakan kata-kata yang tersusun rapi.


Yola melirik sang kakak. Naku terdiam tanpa bisa berkata apa-apa setelah mendengar semua penjelasan itu. Naila terus tersenyum ketika melihat Naku sudah tidak punya keberaniaan untuk membalas perkataan sang penjual.


"Gimana, Dek? Apakah semua ini masih mau dibayar, atau saya ambil lagi?" tanya penjual sambil memberikan senyuman kecil.


"Tidak perlu, Bu. Saya tetap akan mengambil makanan ini. Sebelumnya saya minta maaf apabila perkataan sahabat saya melukai hati Ibu. Dia memang begitu mulutnya asal jeplak, tapi hatinya baik kok, Bu. Sekali lagi maafkan sahabat saya, ya ...."


"Oh, ya, Bu. Maaf, tadi semuanya jadi berapa, ya? Saya lupa karena keasyikan dengarin Ibu baca dongeng buat sahabat saya hihi ...."


Naila terkekeh kecil untuk mencairkan suasana yang sedikit menegangkan akibat perkataan Naku. Untung saja ibu-ibu itu tidak mengambil hati, sehingga dia membalas senyuman Naila dengan sangat ramah.


"Tidak apa-apa, Dek. Saya bisa memakluminya, namanya juga anak-anak pasti begitu. Untung saja saya sudah bisa menghadapi hal ini, jadi tidak kaget lagi hehe ...."


"Ehh, iya ... Saya sampai lupa. Semua jumlah total pesanan jadi, Rp 355.000,-00. Apakah masih kemahalan, Dek? Atau, mau saya kasih harga Rp 250.000,-00?"


Naila langsung melambaikan tangannya sambil menggelengkan kepala, "Tidak usah, Bu. Itu sudah cukup murah untuk saya. Makannya, setiap saya mau beli makanan untuk Ayah selalu di tempat Ibu karena harga terjangkau dan rasanya juga tidak terkalahkan kaya di Restoran. Cuma, setiap saya beli biasanya sama Mbaknya, bukan sama Ibu jadi, pasti Ibu tidak mengenal saya hehe ...."


Wajah sang ibu segera menatap ke arah asistennya. Dia tersenyum menganggukan kepala pertanda bahwa, apa yang dikatakan Naila memang benar adanya.


"Loh, loh ... Kok, kamu gak bilang saya kalau gadis ini biasa belanja di sini. Hem, dasar pelupa!" ucap ibu penjual makanan, membuat asistennya hanya tertawa kecil menggaruk kepalanya.


"Sudah, Bu, tak apa. Maklum saja, Mbaknya banyak melayani pembeli jadi, suka lupa-lupa hehe ... Oh, ya, ini uangnya, Bu."


"E,ehh ... Kenapa, Yola?" tanya Naila, bingung.


"Isshh, apa Kak Nainai lupa. Semua ini 'kan, aku yang mau traktir. Terus kenapa Kakak malah bayar sendiri, menyebalkan! Udah masukin uangnya, biar aku yang bayar."


Naila terkekeh melihat wajah Yola yang kesal. Kemudian, dia kembali memasukan uang ke dalam tas kecilnya. Setelah itu, Yola mengambil dompetnya dan mengeluarkan uang kerta beberapa lembar dengan jumlah nominal Rp 50.000,-00.


"Cihh, punya uang segitu aja pakai acara mau traktir segala. Uangmu tidak sebanding dengan harganya, makannya jangan sok jadi bocil."


Sindir Naku, membuat Naila mengusap kepala Yola dengan lembut, "Sudah, tak apa. Biar aku saja yang bayar, masukkan uangmu. Nanti traktir aku es krim aja ya, oke?"


"Sssttt ...." Yola menempelkan jari telunjuk ke bibir sambil menatap Naila. "Tenang, Kak. Walaupun, uangku dikit, tapi aku masih punya ATM berjalan. Qiwqiw hihi ...."


Mata Yola mengedip ke arah Naku, dalam artian memberikan kode. Naku tidak paham sama apa yang Yola katakan, apalagi mata Yola terlihat seperti kelilipan.


"Kenapa matamu? Kemasukan uang?" tanya Naku.


Yola menggelengkan kepalanya, lalu memasang wajah cemberut disertai kesedihan, "Apa Kakak sayang padaku?"


"Ck! Apaan sih, gaje banget!" seru Naku, bingung.


"Kakak sayang 'kan, sama aku?" tanya Yola, memastikan.


"Ya, sayanglah. Aneh banget!" sahut Naku.


"Sayang banget apa sayang aja?" tanya Yola kembali.


"Ya, bangetlah. Apaan sih, pertanyaan konyol!" jawan Naku, kesal.


"Nah, kalau Kakak sayang sama aku biar silaturahmi kita tidak terputus bolehlah, pinjam lima ratus ribu buat bayarin semua pesanan Kak Nainai. Bye, haha ...."


Yola langsung kabur menarik tangan Naila sampai-sampai belanjaan pun tertinggal. Hanya cara itulah yang membuat posisi Naku terjebak. Satu sisi Naku masih tidak enak sama ibu-ibu itu karena sudah mengatainya, sementara sisi lainnya Naku harus membayar apa yang tidak dia pesan sama sekali.


Suka tidak suka, walaupun hatinya dongkol. Naku segera membayar semua makanan itu menggunakan kartu ATM yang dimilikinya. Sesudah pembayaran selesai, Naku meminta maaf ke pada penjual tersebut dan membawa belanjaan sampai tangannya penuh.


Naku berjalan menuju kamr Vivi dalam keadaan wajah datar sambil mencak-mencak di dalam hati atas sikap Yola yang begitu menyebalkan. Baru kali ini Naku dikerjai habis-habisan oleh Yola hingga tidak berkutik sama sekali.


.......


.......


.......


...💜💜>Bersambung<💜💜...