Jangan Renggut Kebahagiaanku!

Jangan Renggut Kebahagiaanku!
Kehamilan 4 Bulan


Hari demi hari telah berganti, begitu juga denhan bulan. Saat ini usia kandungan Becca sudah memasuki 4 bulan, perutnya mulai terlihat membuncit membuat Rio semakin gemas melihat bumil yang bertambah lucu.


Becca benar-benar bersyukur lantara dikehamilan trimester 1 tidak pernah mengalami ngidam-ngidam yang aneh seperti ibu hamil lainnya. Sehingga tidak permah merepotkan sang suami.


Sejauh ini, kasih sayang Becca terhadap anak-anaknya tidak ada perubahan sedikit pun. Semua masih terlihat sama seperti Becca sebelum mengandung, semoga ketakutan Naku waktu itu hanya pikiran negatif semata tidak sampai terjadi.


Tepat di hari Minggu, Becca diantar oleh sang suami beserta kedua anaknya untuk mengecek kehamilan secara rutin setiap bulannya untuk menjaga atau mewanti-wanti supaya tidak ada kejadian yang tidak diinginkan.


Selama di perjalanan, Becca selalu mengemil buah demi menjaga kesehatan sang baby yang sangat membutuhkannya. Sementara Yola dan Naku memakan jajanan lain yang mereka bawa dari rumah untuk mengganjal perut.


"Ada yang mau buah? Mommy bawa banyak nih," tawar Becca menoleh ke arah anak-anak yang lagi sibuk main games sambil memakan chiki.


"Enggak, akhh ... Yola, mau makan chiki aja," jawab Yola menggelengkan kepala.


"Kakak, mau?" tanya Becca langsung mendapatkan gelengan kepala dari Naku.


" Ya, sudah kalau enggak ada yang mau biar Daddy aja, boleh?" tanya Rio yang sedang berusaha menjadi suasana hati Becca. Maklum saja, mood bumil terkadang susah untuk ditebak. Sehingga Rio harus memahami kode-kode yang Becca berikan.


"Boleh dong, nih, aaa ...." Becca menyuapkan buah ke dalam mulut suaminya sambil tersenyum.


Buah yang sudah di potong kecil-kecil oleh pembantunya, satu persatu mulai masuk ke dalam mulut Rio juga Becca secara bergantian. Betapa bahagianya Becca setelah memiliki suami yang sangat pengertian.


Selama pernikahan Rio dan Becca yang sudah berjalan kurang lebih setengah tahun, mereka tidak pernah terlihat bertengkar. Keharmonisan pasangan suami-istri itu terkadang malah membuat jengkel kedua anak yang merasa ternodai atas kemesraan orang tuanya.


Sama seperti saat ini, lagi-lagi Becca menunjukkan kemanjaannya tanpa melihat kedua anak yang selalu diam-diam memperhatikan. Entahlah, semenjak Becca hamil sifatnya masih seperti anak-anak yang selalu ingin dimanja oleh suami tercinta melebihi manja Yola pada mereka.


"Ckk, manja aja terus kerjaannya, kaya enggak tahu situasi aja!" sindir Naku tanpa melihat ke arah Becca.


"Isshh, biarin aja sih, sirik, Bos? Bilang dong, hihi ...." Becca terkekeh sendiri membuat Rio menggelengkan kepala sesekali mengusap pipi sang istri yang lagi menempel memeluk lengan kekarnya.


"Haissh, Mommy ini udah kaya anak kecil, Yola aja manja enggak gitu banget ya, Kak?" tanya Yola melirik ke arah Naku.


"Entahlah, Mommymu memang aneh. Kayanya dia lagi cosplay jadi anak kecil, lihat aja, tuh!" sahut Naku, menunjuk Becca menggunakan kode mata mata.


"Tahu nih, Mommy. Enggak ada bosennya manja terus sama Daddy," ucap Yola, bingung.


"Kenapa harus bosen? Daddy itu suami Mommy jadi, suka-suka Mommy dong, sirik aja nih, kalian berdua. Kalau enggak suka tutup mata aja matanya selesai, atau kalau perlu kalian cari aja pacar biar----"


"Mommy!" pekik Naku dan Rio secara bersamaan, membuat Becca sedikit terkejut.


"Astaga, untung aja Mommy gak punya riwayat jantung. Huhhh, kalau punya bahaya," ucap Becca kembali duduk dengan posisi tegak sambil mengusap dadanya.


"Lagian kamu ngapain coba bilang kaya gitu, mereka masih pada kecil. Jadi, biar fokus belajar dulu jangan pacar-pacaran gak jelas." Mata Rio melirik ke arah sang istri yang mengangguk, lalu menatap ke arah spion atas untuk melihat kedua anaknya, "Yola, dengarkan Daddy ngomong? Gak boleh pacar-pacaran ya, ada waktunya nanti Yola punya pasangan, tapi bukan sekarang. Oke?"


"Ishh, kok, Yola doang. Terus Kakak?" tanya Yola, kesal.


"Ya, kalau Kakakmu mah, gapapa. Dia sudah be--"


"Sayang!"


"Mommy!"


"Upss, ma-maaf hihihi ...." Becca terkekeh ketika melihat wajah Rio dan Naku yang sedikit terkejut bercampur panik.


"Tuh, Kakak aja boleh kaya Mommy, kok, Yola enggak boleh sih, pilih kasih!" seru Yola, wajahnya terlihat sangat kesal karena dibandingkan oleh Naku yang memang sudah memasuki masa remaja.


"Udah jangan didengerin omongan Mommy, sesat! Sekarang Kakak tanya sama Yola, berapa umur Yola?" tanya Naku, langsung mengeluarkan games yang belum selesai demi memberikan penjelasan kepada sang adik.


"9 tahun," jawab Yola menatap Naku.


"Terus kalau Kakak?" tanya Naku, kembali.


"Hem, berapa, ya?" Jari telunjuk Yola mengetuk-ngetuk ke arah dahi beberapa kali, setelah mengingat usia sang kakak, Yola langsung saja menjawabnya, "Ahaa, Yola tahu. Umur Kakak 16 tahun, 'kan?"


"Pintar, 16 - 9 berapa?"


"Tujuh?"


"Yaps, betul. Jadi, perbedaan usia Yola sama Kakak itu 7 tahun. Sehingga usia Kakak jauh lebih dewasa dari Yola yang masih dibawah umur. Kalaupun nanti Kakak dapet pasangan itu artinya usia Kakak sudah dewasa, tidak bisa di samakan oleh usia Yola."


"Terus juga apa yang Daddy katakan itu benar, ada saatnya nanti Yola punya pasangan jika Yola sudah dewasa. Untuk saat ini jangan dulu ya, Yola fokus aja sama pendidikan supaya kelak Yola bisa jadi ibu dokter sesuai cita-cita. Setuju?"


Yola menganggukan kepalanya sambil tersenyum lebar, "Setuju, Yola mau belajar dulu nanti kalau udah besar bru pacaran, boleh?" Rio dan Naku menganggukan kepala membuat Yola bersorak bahagia.


Untung Naku bisa menjelaskan kepala Yola mengenai ucapan Becca yang asal ceplas-ceplos. Anggaplah, ini semua bawaan bumil sehingga Becca berkata diluar dari pemikirannya. Rio mencubit kecil pipi Becca untuk menghukumnya agar tidak lagi membuat kegaduhan.


Becca hanya terkekeh, lalu meminta maaf pada mereka atas kejahilan atau ucapannya yang hampir membuat Yola salah paham terhadap sikap orang tua yang dianggapnya pilih kasih.


Suasana di dalam mobil, kini kembali pulih. Yola sama Naku lagi-lagi fokus dengan permainannya sambil menunggu mobil Rio sampai di rumah sakit. Sekitar 15 menit berlalu, mobil Rio sudah terparkir di depan rumah sakit besar.


Mereka semua turun dari mobil, kemudian masuk ke dalam untuk menemui dokter khusus yang selalu menangani kehamilan Becca dari awal sampai menjelang kelahiran nanti.


Sampailah di lantai 3. Mereka langsung berjalan memasuki ruangan khusus pemeriksaan ibu hamil di arahkan oleh asisten dokter yang menangani kehamilan Becca.


"Selamat siang," ucap sang dokter tersenyum menyambut keluarga kecil Becca dan Rio.


"Siang, Dok. Maaf ya, saya sudah telah 10 menit. Habisnya lumayan macet juga tadi, hehe ...." Becca tersenyum canggung lantaran sedikit terlambat.


"Tidak, apa-apa, Nyonya. Ayo, silakkan berbaring! Saya akan memeriksa perkembangan bayi di dalam kandungan, semoga semuanya sehat-sehat."


"Aamin ...." Semuanya mengaminkan perkataan dokter agar kondisi kandungan Becca selalu sehat-sehat sampai kelahiran nanti.


Perlahan Becca duduk di atas bangkar di bantu oleh asisten dokter serta Rio yang selalu setia menjaga sang istri. Sementara Naku sama Yola berdiri tidak jauh dari bangkar Becca. Mereka terdiam memperhatikan gerak-gerik sang dokter untuk memastikan kondisi adik mereka yang ada di dalam perut sang mommy.


.......


.......


.......


...💜💜>Bersambung<💜💜...