Jangan Renggut Kebahagiaanku!

Jangan Renggut Kebahagiaanku!
Keluarga Beruang


"Gimana? Apa kamu suka?" tanya Naku, tersenyum kecil.


"O-oppa, i-ini seriusan buat Naila?" Mata gadis itu berbinar sangat cantik, menggambarkan suasana hati yang begitu gembira.


"Yalah, buat siapa lagi, aneh. Kenapa, gak suka?" Lirikan mata Naku langsung membuat Naila membantah semua itu, "Ti-tidak, Oppa. Naila suka, suka ... Banget. Beneran gak bohong, serius. Terima kasih, Oppa. Baik banget sih, akhh ... Jadi, tambah sayang deh, hihih."


Tangan Naila mencolek hidung Naku, membuat yang punya spontans melototkan mata, bahkan hampir saja keluar. Sungguh, Naku benar-benar tidak menduga jika gadis itu sekarang sudah tumbuh menjadi wanita remaja yang cukup centil terhadapnya.


Jika dibilang jijik sih, tidak. Hanya saja, sifat Naila yang seperti ini membuat Naku menjadi takut. Bukan berarti akan sifat manjanya yang menyebalkan, tetapi takut apabila Naila akan melakukan hal sama pada pria lain yang akan membut dia merasa tersaingi.


Hanya dengan satu perkataan berhasil membuat Naila meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulanginya kembali dalam tanda kutip dengan orang lain, kecuali Naku.


Tanpa menunggu lama, Naila langsung mendekati sesuatu yang ada di depannya dengan suasana hati sangat bahagia. Menurut Naila, ulang tahun kali ini adalah ulang tahun yang paling spesial di antara ulang tahun sebelumnya. Apalagi, ini ulang tahun yang ke-17 tahun. Sehingga, dibalik usianya yang beranjak remaja dia bisa merasakan kasih sayang jauh lebih besar dan melimpah.



Hiasan balon warna-warni yang diikat menjadi satu pada sebuah peti berukuran sedang membuat Naila semakin senang. Gadis itu berlari kecil untuk menggendong boneka beruang yang ada di dekat balon tersebut.


Boneka beruang tidak hanya ada satu, melainkan empat. Di mana ada bapak beruang, ibu beruang, kakak beruang, dan si kecil. Komplit, bukan? Itulah keluarga beruang yang membuat hati Naila langsung berbunga-bunga.




Keluarga beruang ini benar-benar lucu sekali. Kedua orang tua beruang berwarna cokelat tua dan putih, lalu kedua anaknya seperti dipakaikan baju sweater (baju dingin layaknya jaket) yang berwarna abu-abu, juga cokelat muda.


Lucu, bukan? Jelas dong, Naila saja sampai gemas sekali dengan kedua anak itu. Benar-benar persis keluarga bahagia sungguhan yang begitu lengkap.


"Wahh, bonekanya lucu banget, sih. Aaa ... Gemes deh, Oppa beli di mana keluarga beruang ini? Naila suka, cuma kenapa gak ada kakek sama neneknya. Di mana mereka? Huhh, jadi kurang seru. Nanti beliin lagi kakek sama neneknya ya, Oppa. Kasihan loh, mereka kalo berempat doang,"


"Coba aja kalo Oppa belinya lebih komplit, pasti tambah seru. Mereka juga akan sangat-sangat senang. Ada bapak, ibu, kakak, adik, kakek, nenek. Behh ... Lengkap sudah keluarga mereka. Tinggal bagi-bagi ampau aja nanti pas lebaran, hihihi ...."


Naila tertawa lepas melihat kelucuan keluarga beruang sampai menggendong sambil memeluknya secara bergantian. Sementara itu, Naku menggelengkan kepala berulang kali menyaksikan tingkah Naila persis Yola ketika bermain dengan bonekanya.


Astaga, gadis ini benar-benar menyebalkan. Sumpah, tidak ada bersyukurnya, bahkan bilang makasih aja gak ada. Terus sekarang malah nawar belikan lagi? Huhh ... Sabar, Naku, sabar. Ingatlah! Niatmu sudah baik, jangan sampai menjadi gak baik. Biarkan saja, mungkin dia terlalu senang sampai lupa. Seenggaknya aku udah bisa lihat wajah dia kembali bersinar seperti sediakala. Tidak kaya kemarin-kemarin yang terlihat bagaikan mumi hidup.


Beberapa kali Naku berusaha tetap tersenyum meskipun, hatinya sedikit kesal. Biarpun begitu, dia tetap merasa senang ketika melihat Naila sangat menghargai pemberiannya meski terbilang sederhana.


"Bukalah, jangan banyak berasumsi yang tidak-tidak. Lihat sendiri apa isinya, jika aku ingin menyakitimu ngapain repot-repot menyusun semua itu, aneh!" jawab Naku yang sudah berdiri tepat di samping Naila.


"Hehe, sorry, Oppa. Ya, udah Naila buka, ya." Naila menatap Naku sambil tersenyum. Pria itu menganggukan kepala pertanda telah menyetujuinya.


Perlahan tangan Naila memegang pembuka peti, hingga membuat suasana semakin menegang. Detak jantung gadis itu kian mengencang bersamaan dengan rasa penasaran yang cukup besae.


Setelah peti terbuka, wajah Naila langsung terkejut bukan main. Kedua mata melotot besar ketika melihat isi yang ada di dalam peti berukuran sedang itu. Sebuah pemanis berhasil membuat dia tidak dapat berbicara, gadis itu hanya terdiam mematung.



Di dalam peti itu terdapat buket berukuran sedang berisikan beberapa cokelat Silver Queen yang erhasil menyita pandangan Naila untuk segera menikmatinya. Tanpa disangka-sangka, Naila main mencabut saja salah satu cokelat dibuket tersebut dan memakannya tanpa rasa bersalah.


Wajah Naku melongo tidak tahu harus berkata apa untuk menjelaskan bagaimana hatinya saat ini. Niat hati ingin membuat Naila seperti gadis lain yang diberikan hadiah oleh seorang pria akan merasa tergila-gila, tetapi malah kebalikannya. Tidak ada adegan di mana Naila akan refleks melompat penuh bahagia, hingga memeluk Naku seperti apa yang ada dibayangannya.


Seakan-akan hadiah yang dia berikan semua itu seperti terlihat biasa saja. Tidak ada kesan berharga sama sekali untuk gadis yang masih terlihat polos tersebut. Naila benar-benar tidak mengerti maksud dan tujuan dari hadiah yang Naku berikan, padahal pria yang berdiri di dekatnya sangat berharap kalau gadis tersebut dapat memahami isi tentang perasaan darinya meski hanya dalam bentuk teka-teki.


Naku memang sengaja tidak mengungkapkan isi hati secara langsung, lantaran dia masih tidak siap untuk menjalani hubungan sebelum usianya matang dan sukses. Ibaratkan apa yang diberikan ini sebagai bukti bahwa Naku memiliki perasaan lebih dari sekedar sahabat, tetapi Naila tetap tidak menyadarinya.


Ingin rasanya Naku berteriak keras tepat di telinga Naila dengan mengatakan, "Hai, gadis aneh! Sebenarnya kamu itu sadar gak sih, kalau semua ini aku berikan karena aku tuh, sayang sama kamu. Sayang banget! Cuma kenapa kamu malah menganggap pemberianku ini seperti hadiah biasa saja, apakah tidak ada rasa sayang untukku, iya?"


Akan tetapi, Naku urungkan semuanya demi menjaga mood Naila supaya tidak hancur kembali. Walaupun, gadis tersebut tidak paham maksud hadiah dari pria yang ada di sampingnya. Tetap saja dia merasa senang, setidaknya melihat cara Naila nikmati cokelat pemberian itu sudah meredakan gejolak emosi di dalam hati.


Huhh ... Untung sayang, coba kalo gak udah gua jahit tuh, mulut. Sumpah, gak ada terima kasih, terima kasihnya banget. Berasa kaya sia-sia ngasih semua ini. Dia kelihatan biasa aja, sementara hati rasanya dongkol banget kalo tahu endingnya akan sekonyol ini. Lain kali, gak lagi-lagi dah, jadi cowok romantis. Percuma, bikin ngenes doang!


Terlihat sekali wajah Naku begitu frustrasi menghadapi gadis seperti Naila. Apa daya, pria itu tidak dapat mengapresiasikan bentuk kekesalan terhadap gadis yang sudah berhasil mengobrak-abrikkan isi hati


.......


.......


.......


...💜💜>Bersambung<💜💜...