Jangan Renggut Kebahagiaanku!

Jangan Renggut Kebahagiaanku!
Kesempatan!


,"Ahaaa ... Ngapain kalian berpelukan? Wah, wahh ... Yola bilangan Mommy, ya. Kalian---"


"Ckk! Apaan sih, maksud banget!" sahut Naku langsung melepaskan pelukan Naila. Wajahnya terlihat terkejut ketika aksi mereka ketahuan oleh Yola.


Naila mengusap air matanya sampai tidak tersisa. Lalu, meminta Yola untuk duduk di sebelah tepat di tengah-tengah mereka berdua.


"Awas ya, kalau sampai kamu ngadu macem-macem sama semua!" ucap Naku penuh pengancaman menatap adiknya.


"Disshh, emang kenapa? Gak boleh? Bolehlah, lagian juga Kakak ngapain di sini peluk-peluk Kak Nainai. Cari kesempitan aja."


"Kesempatan!" saru Naila dan Naku secara bersamaan.


"Nah, iya, itu maksudnya hihi ...." Yola terkekeh sendiri melihat wajah mereka yang terbilang lucu.


"Aku sama Kakakmu gak ngapa-ngapain, kok. Kami cuma lagi ngobrol, dan kakakmu selalu bisa buat aku tenang. Pelukan yang Yola lihat itu bukan pelukan kaya gitu, tapi pelukan seorang sahabat yang peduli sama nasib sahabatnya. Ya, 'kan, Oppa?"


Naila menatap Naku, tersenyum. Naku malah terlihat sedikit gugup ketika melihat senyuman gadis itu yang cukup manis. Untung Naila tersenyum kecil, coba kalau lebar kemungkinan detak jantung Naku langsung terhenti akibat saah tingkah.


"Oh, gitu. Berarti kalau Yola lagi sedih, Yola curhat sama Kak Joey terus pelukan boleh, 'kan? Itu berarti pelukan sahabat yang peduli saa sahabatnya kaya Kak Nainai bilang tadi."


Naila menganggukan kepalanya, lalu tersenyum kecil sambil mengusap kepala Yola, "Boleh dong, namanya juga sahab---"


"Gak, gak ada! Pokok ya gak boleh! Kamu itu masih kecil, gak boleh peluk-pelukan sama pria lain. Cukup peluk Daddy sama aku aja kalau lagi sedih, tidak boleh peluk orang lain termaksud Joey. Paham!"


Mata Naku membelalak, terkejut atas jawaban yang Naila berikan. Bisa-bisanya gadis itu menyetujui apa yang Yola katakan, padahal Naku sebagai seorang Kakak sama sekali tidak memperbolehkan Yola sampai bersentuhan oleh pria lain.


"Tuh, kan ... Tadi Kak Nainai bilang boleh, sekarang Kakak gak boleh. Terus, kenapa tadi Kakak peluk-peluk Kak Nai kalau gak boleh, hahh?" tanya Yola, kesal. Dia tidak terima atas apa yang Naku katakan barusan.


"Oppa apa-apaan sih," kata Naila menatap Naku sambil memasang wajah kesal bercampur bingung.


"Kamu yang apa-apaan, dia itu adikku. Terus, kenapa kamu bilang begitu? Gimana kalau mereka peluk-pelukan habis itu cinta-cintaan kek mo*nyet, kamu mau tanggung jawab? Dia masih polos, jadi jangan ngajari gak bener!"


Kedua mata Naku langsung melirik tajam ke arah merek berdua secara bergantian. Melihat Yola merasa sedih, Naila segera turun tangan untuk membelanya. Bukan berarti membela Yola untuk dekat dengan Joey, melainkan kebebasan Yola untuk memilih sama siapa dia harus berteman.


"Aku tahu, Oppa itu kakaknya Yola. Cuma, Oppa gak boleh egois. Yola mau berteman dengan siapa aja itu hak dia, selagi dalam batas wajah kenapa harus dilarang? Memangnya salah meluk sahabat sendiri? Enggak dong, lagian mereka juga masih kecil belum mengerti soal cinta-cinta apalah itu. Oppa aja yang terlalu berlebihian."


"Tahuu, huhhh ...." sambung Yola dengan memberikan sorakan kecil kepada sang kakak.


"Ckk! Apaan sih kalian berdua ini, gaje banget! Lagian tuh, ya. Kamu itu masih kecil, harusnya fokus belajar bukan malah main terus sama Joey. Dia udah gede, gak pantes main sama kamu yang kaya bocah. Mending kamu main sama Baby Juan, jagain adikmu baru itu bagus. Ini malah berduaan mulu udah kaya sendal jepit gak bisa dipisahkan!"


Melihat Naku dan Yola saling bersahutan satu sama lain hanya demi membela Joey, membuat Naila menjadi penasaran. Dia sama sekali tidak pernah bertemu sama Joey, bahkan melihat fotonya saja tidak. Sehingga, Naila langsung turun tangan untuk menyudahi pertengkaran mulut mereka berdua yang terdengar cukup berisik.


"Sssttt ... Berisik!" Naila langsung merubah posisi duduknya untuk berada di tengah mereka sebagai pemisah di antara keduanya.


"Tuh, Kakak ...."


"Dihh ... Kok, jadi aku sih. Kamu itu yang rese, kalau dibilangin jawab mulu."


"Ma----"


Degh!


Naila pergi meninggalkan mereka berdua yang masih duduk di taman. Wajah keduanya terlihat syok ketika melihat Naila marah bagaikan singa kelaparan.


Yola menatap Naku, begitu juga sebaliknya, "Ternyata cewek kalau marah galak juga ya, Kak? Lihat aja, wajah Kak Nainai persis kaya Mommy pas marah."


"Itulah, wanita. Sama kaya kamu kalau lagi marah kaya gitu juga. Cuma, bedanya mereka terlihat garang, sedangkan kamu terlihat semakin jelek. Hahah ... Bye!"


Naku berlari mengejar Naila sambil menjulurkan lidahnya. Yola yang tidak terima langsung berteriak keras sambil berlari mengejar mereka. "Huaaa ... Dasar Kakak menyebalkan! Mana ada aku jelek, malahan kata Kak Joey kalau aku marah itu tambah cantik!"


"Oh, ya? Masa? Kau aja yang bo*doh. Dibohong cowok mau aja, itu namanya gombalan maut kadal hahah ...."


"Ishh, menyebalkan!" seru Yola, terua berlari mendekati Naku.


Sesampainya di dekat Naila, mereka langsung berhenti dan menyamakan langkah kaki gadis itu. Di mana wajah Naila benar-benar masih terlihat kesal. Yola mencoba untuk meminta maaf sambil menghibur Naila, tetap saja gadis itu hanya fokus pada langkah kakinya.


"Aaa ... Kak Nainai, maafin Yola ya, ya, ya. Kak Nainai cantik deh, cius ndak bohong, kok. Kalau Kak Nainai mau maafin Yola, nanti Yola teraktir deh. Gimana? Mau, ya, ya ya?"


"Hem, baiklah. Aku maafin, jadi teraktir aku sekarang!"


"Wokee, siap, Bos cantik hihi ...."


Yola terkekeh membuat Naila harus menahan senyumnya. Semua itu karena Yola terlalu pandai mengambil hati seseorang. Siapa sih, yang bisa menolak Yola. Sementara Yola merupakan gadis kecil dengan postur tubuh gemoy, lucu, cubby dan manis benar-benar persis seperti kucing gemuk menggemaskan.


Yola langsung menggandeng tangan Naila, kemudian berjalan lebih dulu dari Naku ke arah kantin rumah sakit dengan perasaan bahagia karena hubungan mereka sudah kembali membaik.


Hahhh ... Sabar, Naku, sabar. Namanya juga wanita ya, gitulah. Bersikap seenaknya, seakan-akan aku ini hanya bodyguard yang ada di belakang mereka untuk selalu menjaganya. Dasar betina!


Celoteh Naku di dalam hati kecilnya sambil mengikuti mereka dari arah belakang. Akan tetapi, melihat Naila dan Yola kembali tersenyum membuat Naku merasa lega. Setidaknya, kehadiran Yola bisa sedikit menghibur Naila yang sedang sedih.


Setibanya di kantin, Naila langsung memesan beberapa makanan serta minuman sesuai dengan orang-orang yang hadir mengunjungi Vivi.


Hampir ada 4 kantong belanjaan yang berisikan makanan box, minuman serta cemilan. Dikarenakan malam ini Yola dan Naku akan menginap menemani Naila, lantaran besok mereka libru sekolah. Sementara Becca dan Rio, hanya sekedar menjenguk serta mengantar anak-anak ke rumah sakit.


Selepas semua makanan yang dipesan selesai dijumlahkan, mata Naku langsung membelalak. Ternyata, jumlah makanan itu tidak main-main.


Apakah Yola bisa membayar semuanya seperti apa yang dikatakan pada Naila? Atau, dengan baik hati Naila membayar pesanannya menggunakan uang yang dikasih oleh sang Ayah?


.......


.......


.......


...💜💜>Bersambung<💜💜...