
Melihat pemandangan itu membuat Naku menjadi bingung. Dia sama sekali tidak mengenali prianyang ada di samping Yola. Saking takutnya terjadi apa-apa sama Yola, Naku langsung meninggalkan permainannya meskipun dia belum memecahkan record tersebut.
Naku berjalan menggunakan langkah panjang secara cepat, lalu berdiri tepat di dekat Joey. Mata mereka saling menatap satu sama lain seakan menembus isi yang ada di dalam kepalanya.
"Uhhh ... Kudaku yang imut, muaachh. Terima kas---"
Perkataan Yola terhenti ketika dia melihat Naku sudah berada tepat di dekat Joey dengan panjangan mata yang saling meanatap.
"Kak Naku? Loh, kenapa kakak ada di sini?" tanya Yola, penasaran.
"Kenapa? Aku enggak boleh ada di sini, gitu? Terus ini siapa? Kenapa kamu bisa main sama dia?" tanya balik Naku, menatap lekat wajah Yola.
"Ini Kak Joey, dia yang udah bantu aku sampai bisa mendapatkan si kuda lucu ini. Emangnya kakak, hanya sibuk dengan urusan sendiri. Wlee!" sahut Yola, menjulurkan lidahnya seraya meledek Naku.
"Dihh, aku udah bilang ya, sabar! Selesai aku main baru kita main, terus kenapa kamu malah ngajak orang asing ini? Gimana kalau dia orang jahat, niat bantu tahunya ingin menculikmu, hem?"
"Bodo amat, lebih baik aku di culik sama dia. Udah ganteng, baik, enggak cuek lagi. Emangnya kakak!"
Naku benar-benar tidak menyangka, sang adik malah membela pria yang tidak sama sekali dia kenal. Sedangkan Naku sebagai seorang kakak, malah di pojokkan seperti ini.
Sementara Joey, dia tetap stay cool menyaksikan perdebatan kakak adik yang tidak pernah dia lihat. Lantaran dia sendiri tidak pernah berantem oleh siapa pun kecuali orang tuanya yang sibuk sama dunia pekerjaannya.
"Cuek-cuek begini aku masih perhatian ya sama kamu, setiap kamu ada apa-apa aku yang selalu nolongin. Bahkan kita udah jadi sodara, meskipun Mommy sama Om Rio belum resmi menjadi suami-istri!"
"Nyenyenye ... Dulu aja aku pengen mereka nikah enggak di bolehin, sekarang kakak ngomong begini. Aneh! Udah sana kakak kembali ke dunia kakak, aku mau main sama Kak Joey!"
Hati Naku sedikit memanas ketika dia melihat pemandangan yang kurang mengenakan. Di mana sang adik lebih memilih bersama pria lain dari pada kakaknya. Apa lagi tangan Yola merangkul Joey seperti seorang kekasih yang sedang mempertahankan cintanya.
"Hyaakk ... Apaan ini pegang-pegang, hahh? Kamu itu masih kecil, tahu enggak! Jadi, enggak boleh centil sama cowok. Kaya enggak punya harga diri aja!"
"Udah sini-sini, jangan dekat dia!"
Naku menarik lengan Yola, kemudian membawanya tepat di belakang tubuhnya. Persis seperti seorang kakak yang sedang membela adiknya agar tidak terpengaruh oleh pria tidak di kenal.
Entah ini Naku sedang cemburu dengan adanya pria lain yang berhasil menarik perhatian adiknya atau memang karena dia takut Yola kenapa-kenapa. Semua itu masih menjadi pertanyaan di dalam hati Yola, karena baru kali ini Yola di perlakukan layaknya adik yang mendapatkan perlindungan dari sang kakak.
Tanpa Naku sadari ternyata Yola tersenyum jahil saat tangannya di genggam erat oleh sang kakak, serasa Naku tidak ingin melepaskan Yola kepada pria yang tidak jelas asal-usulnya.
"Kayanya kakak lagi cemburu sama kak Joey, deh? Kerjain diki boleh kali ya, hihi ...." gumam Yola di dalam hatinya.
Bukan Yola namanya kalau dia tidak bisa menjahili seseorang. Apa lagi Yola sangat tahu dari tatapan Naku, jika dia sedang cemburu karena adanya pria lain yang mendekatinya.
Joey tersenyum menatap Naku, meski tatapan Naku sangat mengerikan. Tidak sedikit pun Joey merasakan ketakutan atas sikapnya yang terbilang menegangkan.
"Hai, Kak Naku. Perkenalkan aku Joey dengan usia 10 tahun. Walaupun aku dan Yola tidak saling mengenal, tapi aku hanya berniat untuk membantunya saja. Tidak ada maksud apa-apa kok, bener deh. Soalnya tadi aku lihat Yola sedang sedih, makannya aku langsung mendekatinya."
Jawaban dari Joey benar-benar terdengar sangat halus, tidak ada kata-kata yang kasar untuk membalas bentakkan Naku. Mungkin jika orang lain yang di tuduh seperti itu, mereka tidak akan terima. Dan akan langsung mencaci maki Naku dengan perkataan yang sama persis seperti Naku katakan.
"Tuhkan, dia baik. Huuu, emangnya kakak ngeselin. Wleee ... Udahlah, kakak sana pergi-pergi, huss! Aku mau lanjut main lagi sama Kak Joey."
"Kak Joey mau temenin aku main lagi, 'kan? Aku mau boneka itu, boleh ambilin?"
Yola langsung berhambur kembali merangkul lengan Joey, persis seperti seorang wanita yang sedang mencari perhatian dari kedua pria yang sedang merebutkannya.
Satu sisi Naku emosi melihat sikap adiknya yang berulah bagaikan ulet bulu, dan sisi lainnya Joey merasa bingung sama status Naku juga Yola.
Jika dibilang kakak adik, tidak mungkin karena Joey mendengar sendiri kalau kedua orang tua mereka berbeda. Lalu, jika dibilang orang lain. Kedekatan mereka cukup terasa. Jadi, Joey hanya bisa amati secara perlahan dari perdebatan mereka.
Kedua mata Yola berkedip layaknya lampu yang ingin putus. Semua itu demi memberikan kode tertentu agar Joey mengerti apa yang Yola maksud. Hanya saja, Joey malah salah mengartikannya hingg membuat Yola sedikit kesal.
"Kenapa matamu? Cacingan?" tanya Joey, spontan.
"Hyaakk ... Enggaklah, ya kali aku cacingan. Badan gemoy gini kurang apa coba!" seru Yola, kesal.
"Ngeselin banget sih! Udah tahu orang ngasih kode, malah di bilang cacingan. Dia enggak bisa bedain apa ya. Dasar enggak peka!" sambung Yola dia dalam hatinya.
"Oalah, kirain." jawab Joey, polos.
"Apa kau bilang tadi, hahh? Cacingan? Bisa-bisanya ngatain adikku seperti itu! Ada juga kau itu yang cacingan, badan kok isinya tulang semua. Ketiup angin juga terbang!"
Naku langsung memasang badan untuk membela Yola di hadapan pria yang tidak sengaja mengatakan seperti itu. Niat Joey bukan untuk mengata-ngatai Yola, tapi Naku malah salah mengartikannya.
Joey segera meminta maaf pada mereka berdua atas kesalahannya. Di mana Yola kembali tersenyum untuk memaafkan Joey, sementara Naku kembali menarik Yola agar berada di pihaknya. Akan tetapi, Yola yang nakal malah kembali berlari untuk berada di pihak Joey.
.......
.......
.......
...💜💜>Bersambung<💜💜...