
Di ruang keluarga, Rio dan Becca sedang duduk santai bersama anak-anak setelah selesai sarapan. Mereka menonton film kartun kesukaan Yola yang memang selalu tayang di hari-hari libur seperti saat sekarang.
Kali ini, Yola tidak sendirian menonton film tersebut, lantaran sudah ada Naku yang juga sama-sama menyukai. Belum lagi, Yola selalu memeluk Becca dari samping seakan-akan dia sangat takut akan kehilangan sosok ibu untuk kedua kalinya.
Senyuman di wajah Becca benar-benar terlihat bahagia karena sekarang dia sudah tidak lagi merasa sendiri. Rio selalu ada di sampingnya tanpa di minta, bwgitu juga anak-anak yang begitu menyayangi Becca. Hanya saja, Naku yang sudah besar tidak lagi melendot ke pelukan Becca seperti apa yang Yola lakukan.
Mungkin dulu, Naku memiliki rasa cemburu yang begitu besar kepada Yola, sebab dia akan menggantikan posisi anak kesayangan di hati Becca. Akan tetapi, sekarang Naku sadar. Yola seperti ini bukan karena dia ingin merebut Becca darinya, melainkan karena dia baru merasakan bagaimana bahagianya memiliki seorng ibu. Sementara Naku sudah mendapatkan semua itu dari kecil.
"Mom, kita jalan-jalan, yuk! Yola 'kan belum pernah ngerasain jalan-jalan bareng mommy sama Kak Naku kaya keluarga itu," ajak Yola, sedikit mendongak ke atas menatap wajah cantik Becca.
"Boleh, Sayang. Mau kapan, hem?" tanya Becca, lembut. Tangan terangkat untuk mengusap pipi chubby putri kesayangannya.
"Hem, kapan, ya? Sekarang gimana? Kakak mau, 'kan?" tanya Yola melirik ke arah Naku dengan tatapan menggoda.
"Apaan sih, orang kita sering jalan bareng juga, aneh! Besok-besok ajalah, capek tahu, emangnya kamu enggak capek apa? Udah tahu seharian kita ngerayain pernikahan mereka, terus sekarang masih mau jalan-jalan? Hahh, dasar---"
"Mommy, lihatlah, kakak! Masa dia enggak mau jalan-jalan sama kita, jahat banget 'kan? Padahal hari ini, hari pertama kita jadi keluarga kalau yang kemaren itu masih pisah rumahnya. Jadi, beda dong?"
Yola langsung merengek layaknya anak kecil yang sangat menginginkan sesuatu dari sang ibu. Yola begini bukan berarti dia anak yang manja, pinter mengadu dan sebagainya. Melainkan, dia hanya baru merasakan kebahagiaan yang sangat lama tidak dia dapatkan.
Maklum saja, apa bila Yola bersikap seperti ini, sebab semua masih dalam batas wajar. Tidak manja layaknya anak mamih yang apa-apa selalu dituruti tanpa pernah ditolak sedikit pun.
"Kakak, enggak boleh gitu sama adiknya. Ingat loh, Yola sekarang sudah menjadi----"
"Menjadi adik sekaligus saudara, jadi sebagai seorang kakak tidak boleh egois terhadap adiknya. Begitu juga adiknya yang tidak boleh mengganggu kakaknya apa bila kakaknya tidak ingin diganggu. Intinya saling mengerti satu sama lain adalah kunci dari ikatan persaudaraan, walaupun tidak sedarah kalian tetap anak kesyangan mommy. Betul begitu, Nyonya Rio yang terhormat?"
Apa yang Naku katakan membuat Rio dan Becca saling menatap satu sama lain, kemudian kembali melihat ke arah Naku penuh senyuman. Mereka menganggukkan kepala secara bersamaan, begitu juga Yola. Dia tersenyum lebar seperti iklan pepsodent, lalu Yola langsung bangkit dan berhambur memeluk Naku membuatnya sedikit terhuyung kebelakang.
"Aaa ... Yola sayang banget sama kakak, pokonya kakak jaga pernah berubah, ya. Yola suka kakak yang seperti ini, meskipun kakak menyebalkan dan cuek. Cuman, kakak pasti sangat menyayangi Yola dan menjaga Yola. Sekali lagi Yola katakan kalau Yola sayang, sayang, sayang, sayang, sayang ... banget sama kakak. Terima kasih kakak sudah mau jadi kakak terbaik buat Yola, i love you, super hero Yola!"
Kata-kata Yola sangat membuat mereka semua terharu, apa lagi Naku. Dia langsung membalas pelukan Yola dengan penuh kasih sayang. Melihat pemandangan itu, membuat Becca tersenyum sambil menyender ke bahu suaminya. Tidak lupa tangan Rio hanya mengusap pipo istrinya dengan perasaan bahagia.
"Dasar lebay! Udahlah lepasin, berat tahu gak! Dada gua sesak, bisa-bisa gua ma*ti mendadak. Mau, lu?" tanya Naku, sedikit menjauhkan Yola dari pelukannya.
"Isshh ... apaan sih, Kak. Badan kakak sama Yola juga besaran kakak, kenapa jadi Yola yang disalahin. Aneh!" Yola langsung melepaskan pelukan Naku, lalu berdiri menatapnya dengan kesal. Setelah itu, Yola menghadap ke arah Becca juga Rio. "Mommy, lihat kakak! Masa dia bilang Yola ini berat, terus
pelukan Yola bisa bikin kakak ma*ti!"
"Naku! Apa yang sudah kamu katakan tadi, hahh? Kenapa kamu berbicara dengan kata-kata kasar itu pada adikmu sendiri. Udah gitu gua lu, gua lu. Kamu kira Yola itu teman sekolahmu bisa diperlakukan seperti itu!"
Becca langsung duduk tegak dalam keadaan wajah sedikit kesal melihat tingkah anaknya yang sangat menyebalkan. Sedangkan Yola, dia malah meledek sang kakak yang membuat Naku menatap bingung.
Rio menoleh ke arah istrinya, lalu memukul kecil paha Becca sambil tersenyum. "Sudah, jangan marah. Ingat, katanya mau berubah, kok diulang lagi, hem? Jika kamu ingin menasihati anak, pakailah kalimat dan nada yang benar, supaya anak bisa memahaminya. Semakin kamu kerasin, mereka akan semakin membangkang atau melawan orang tuanya sendiri."
"Jadi, untuk itu. Lain kali, apa bila kamu mengetahui kesalahan. Maka jangan langsung emosi, tapi ajaklah mereka ngobrol dari hati ke hati agar tidak semakin membuat rasa emosi di hati terus membesar. Dan, buat Yola. Kamu tidak boleh meledek kakakmu, itu tidak baik. Kalau kakakmu salah, kasih tahu yang benar bukan malah meledeknya seakan-akan kamu menang darinya. Mengerti, Cantik?"
"Aku tahu, kok. Niat Naku berbicara seperti itu hanya demi menghapus air mata yang hampir menetes akibat terharu, atas kasih sayang yang Yola berikan. Untuk Naku, om minta semarah apapun kamu tetap jaga tutur kata yang akan kamu lontarkan. Sungguh, apa yang kami lakukan itu salah, dan tah menyakiti hati Yola. Hanya saja, kamu sedang menutupi rasa kagum tersebut sampai-sampai tidak menyadarinya."
"Namun, dibalik semua itu kamu memiliki hati nurani yang tidak semua anak muliliki. Baru tadi kita bicarakan di ruang makan, sekarang sudah terulang lagi. Udah, ya. Harus baik-baik biar keluarga kita menjadi baik. Sekarang baikan ya, jangan berantem lagi. Oh, ya. Hari ini kita enggak bisa jalan-jalan dulu ya, soalnya daddy mau ngajak kalian berkunjung ke kantor polisi untuk nengoki daddy Kakak Naku. Gapapa, 'kan?"
Nasihat dari Rio memang mampu menjadi penengah untuk mereka semua. Awalnya mereka terlihat marah, kini langsung menjadi bingung saat Rio malah mengajak mereka untuk mendatangi Gala.
Becca sendiri juga tidak mengerti, kenapa harus membawa anak-anak ke tempat seperti itu. Sementara mereka bisa datang berdua saja, supaya tidak membuat sikis anak menjadi terganggu. Akan tetapi, Rio justru melakukan hal diluar dugaan.
Apa daya, mereka hanya bisa mengikuti apa yang Rio sampaikan tanpa membantah sedikit pun. Bagi mereka, apa yang Rio lakukan pasti yang terbaik untuk keluarga kecilnya. Sehingga, mereka harus mengikuti apa yang Rio sampaikan. Tidak lupa, merek bertiga juga meminta maaf satu sama lain karena kesalahan masing-masing.
.......
.......
.......
...💜💜>Bersambung<💜💜...