
"Jika memang kalian sayang sama Joey, kalian lebih pilih Joey tetap ada di sini dengan syarat salah satu dari kalian keluar dari pekerjaan. Atau, Joey tetap pergi ke luar negeri supaya beban hidup kalian berkurang. Setidaknya saat kita jauh Joey tidak mendengar perdebatan kalian, begitu juga kalian tidak akan pusing sama penyakit Joey. Kalian hanya tunggu seseorang mengabarkan jika hidupku telah selesai di dunia!"
Tidak kebayang, bukan. Sesulit itukah pilihan yang harus mereka ambil demi mempertahankan sang anak agar bisa selalu ada di dekat mereka. Kenapa harus ada pilihan di saat mereka sudah benar-benar berubah? Ya, itulah prinsip.
Tidak ada yang Joey percaya selain memberikan tantangan tersebut. Ibaratkan harus memilih antara kekayaan atau anak, jika jawaban mereka tetap memihak pada anak disitulah Joey bisa melihat seberapa besar rasa sayang mereka terhadap dirinya.
Melihat kedua orang tua terdiam, membuat Joey semakin yakin kalau mereka tidak akan pernah bisa melepaskan pekerjaan yang sudah menjadi bagian dari hidup mereka sehari-hari.
Pilihan yang konyol! Kenapa juga aku harus mengatakan itu pada mereka, sementara mereka tidak pernah memilih kehadiranku. Sudah jelas, mereka terdiam karena merasa berat untuk meninggalkan pekerjaan. Sedangkan aku? Mereka bisa mengunjungiku kapan pun mereka mau di luar negeri sampai aku tidak bisa melihat dunia kembali.
Ingat, Joey! Hidupmu sudah tidak akan lama lagi, lebih baik kamu belajar mandiri agar mereka sudah terbiasa tanpamu. Hitung-hitung semua ini adalah ujian yang harus mereka lewati supaya ketika kehilanganku untuk selamanya mereka tidak akan sesakit ini. So, apa lagi yang ingin kamu harapkan dari mereka? Toh, mereka tidak akan pernah bisa memilih pilihan yang mudah itu!
Hati Joey mulai berbicara ketik melihat reaksi kedu orang tua yang sudah bisa di tebak. Ibaratkan pekerjaan bagi Ragil adalah sebuah tuntutan yang harus dia laksanakan demi menafkasi keluarga kecil agar tidak merasa kekurangan.
Sementara Rani, pekerjaan adalah jati diri baginya. Dia rela tidak tidur seharian demi menyelesaikan tanggung jawab sebagai pimpinan di Perusahaan orang lain. Dikarenakan semua ini merupakan impian, Rani ingin memiliki Perusahaan sendiri di mana dialah bos yang sesungguhnya, bukan pekerja seperti sekarang.
Maklum saja, dari dulu Rani terlalu giat untuk bersemangat mencari rezeki sendiri dengan bekerja keras. Hidup mandiri sudah Rani jalani sebelum bertemu Ragil, tadinya Rani tidak berniat untuk menikah dalam waktu dekat. Hanya saja, Tuhan memberikan anugrah cinta yang melekat di hati Rani untuk menerima lamaran Ragil.
Di dalam pernikahan juga tidak ada tuntutan apa pun dari sang suami. Ragil tetap mensuport karier sang istri tanpa merasa tersaingi, semua itu berjalan sampai detik ini hingga Rani sangat nyaman berada di lingkuhan pekerjaan dari pada rumah.
Suara menjadi hening selama 10 menit berlalu. Joey tidak bisa lagi berlama-lama ada di dekat mereka yang tidak memiliki pendirian. Joey punya orang tua, tetapi hidupnya seperti sebatang kara. Hanya Sus Rini yang selalu bisa mengerti juga menemani Joey tanpa rasa lelah sedikit pun.
Mungkin jika takdir menjadikan Joey sebagai anak kandung dari Sus Rini, dia sangat bersyukur. Joey tidak takut hidup dalam kemiskinan, tetapi dia takut hidup dalam kekayaan yang tidak akan pernah bisa membeli ketulusan hati juga cinta kasih.
"Tidak bisa jawab? Ya, sudah. Mamih dan Papih lebih baik keluar dari kamar, Joey mau istirahat. Capek!" titah Joey membuat keduaorang tua langsung menatap wajahnya.
"A-apa tidak ada pi-pilihan lain la-lagi buat kami? Pilihan ini sangat sulit untuk kami ambil," ucap Rani, wajahnya terlihat pucat ketika harus menghadapi rasa syok di dalam hati setelah mendengar perkataan sang anak.
"Ya, benar, Sayang. Kamu tahu, 'kan? Papih kerja karena itu sudah tugas Papih mencari nafkah untuk kalian. Jadi, tidak mungkin Papih di rumah aja. Sementara Mamihmu itu dari dulu sudah terbiasa hidup mandiri, tidak bisa kalau tidak bekerja. Tubuhnya akan mudah sakit, sebab setengah hidupnya adalah bekerja," sahut Ragil, mencoba melindungi sang istri agar tidak semakin disalahkan oleh sang anak.
Mata Joey melirik ke arah Rani dan Ragil secara bergantian, setelah itu Joey tetap tidak ingin kembali mendengar alasan apa-apa. Dia sudah memberikan pilihan, jika mereka ingin bersamanya harus ada salah satu yang benar-benar berkorban demi menahan sang anak agar tidak pergi jauh.
"Joey tidak ingin mengusir di rumah kalian sendiri, tetapi dengan sangat hormat tolong tinggalkan Joey sendiri di kamar! Kepala Joey sangat sakit, jika kalian ingin melihat Joey ma*ti hari ini silakkan saja!"
"Mih, Pih, tolong---"
Joey yang baru saja ingin berbicara untuk sekian kali meminta mereka pergi, tetapi tidak jadi saat Ragil menghentikannya.
"Oke, Mamih dan Papih akan keluar dari sini. Satu pinta kami, kasih kami waktu untuk berpikir apa yang harus kami pilih. Rasanya begitu berat ketika kami harus di hadapkan pilihan yang benar-benar sulit. Jika boleh jujut, pekerjaan dan anak adalah pilihan yang tidak bisa kami pilih. Keduanya berkesambungan untuk dijalankan bersama bukan dipilih! Anak adalah anugrah Tuhan atas cinta Papih dan Mamih, lalu pekerjaan adalah nafkah yang tidak akan oernah putus."
"Jadi, untuk itu Papih minta sama Joey berikan waktu seminggu saja untuk kami mulai berpikir. Setelah kami tahu jawabannya, kami akan segera memberitahu Joey. Bagaimana?"
Tawaran yang sangat menarik. Joey tidak menyangka hanya untuk memilih antara anak dan pekerjaan seakan memilih nyawa siapa diantara mereka yang diberikan pada Joey sebagai gantinya.
Mungkin jika orang tua yang benar-benar menyayangi sang anak, tidak mungkin membutuhkan waktu lama. Hanya dalam waktu kurang satu menit mereka bisa langsung memilih menggenggam anak dan melepaskan pekerjaan.
Tidak seperti Ragil dan Rani yang malah meminta waktu demi menjawab semua pilihan tersebut. Saking kesalnya Joey terhadap mereka, lagi-lagi kembali mengatakan sesuatu di luar dari dugaan.
"Jika kalian butuh waktu bukan selama 1 Minggu, tetapi 2 x 24 jam. Itu artinya dalam waktu 2 x 24 jam kalian belum bisa menentukan, di situ juga Joey monta salah satu dari kaloan untuk mencari sekolah terbaik di luar negeri. Paham?"
"Jadi, sudah cukup bukan? Waktu kalian 2 x 24 jam di mulai dari malam ini pukul 12 lebih, dan sekarang aku mohon sekali lagi, pergilah. Aku ingin beristirahat!"
Waktu yang sangat singkat membuat keduanya terkejut, tetapi mereka harus bagaimana lagi. Tekat Joey sudah sangat bulat untuk tidak membiarkan mereka mempermainkan kembali tentang kepercayaan. Sehingga, ini adalah jalan pontar satu-satunya yang Joey pilih.
Suka tidak suka mereka pergi dari kamar Joey sesekali mencium pucuk kepala sang anak. Mereka akan memikirkan semua itu secara bersama, selepas perginya mereka Joey langsung turun dari ranjang untuk menutup pintu lalu menangis sejadi-jadinya dalam keadaan tengkurep dengan wajah tertutup bantal.
.......
.......
.......
...💜💜>Bersambung<💜💜...