
Hanya air mata yang telah menjadi saksi bisu betapa sayangnya Ragil kepada Rani juga Joey. Dia rela melepaskan semua Perusahaan ke tangan orang lain yang masih menjadi kepercayaannya.
Orang tersebut akan dipercaya menjadi Direktur Utama untuk mengurus semua bisnis Ragil sesekali akan dipantau dari rumah, sehingga Ragil bisa melihat bagaimana perkembangan karyawan juga bisnis yang sedang berjalan.
Tidak bisa berkata apa-apa, Rani langsung memeluk Ragil dalam keadaan menangis. Meskipun berat, Ragil tidak bisa memilih jalan lain hanya ini satu-satunya supaya Joey tetap bertahan. Dia rela kehilangan semua harta, tetapi tidak dengan keluarga kecilnya.
Air mata Ragil yang sudah menetes segera dihapus secepat mungin. Semua itu Ragil lakukan supaya terlihat baik-baik saja di depan Rani, lantaran tujuannya agar Rani tidak merasa bersalah karena ini sudah keputusan mutlak dari Ragil.
Biarlah Ragil yang berkorban, asalkan Rani dan Joey bisa kembali bahagia. Tidak peduli nantinya akan menjadi apa Perusahaan yang sudah dibangun dengan susah payah harus berada di tangan orang lain. Seidaknya jika Ragil tetap di rumah menemani sang anak, penghasilannya terus berjalan meski di tangan orang kepercayaan.
Beberapa menit Ragil mencoba menenangkan Rani dengan cara mengelus punggungnya sampai tangis mulai mereda. Tidak lupa Ragil menghapis semua air mata sebelum melepaskan pelukan tersebut. Kedua tangan Ragil memegang rahang Rani sesekali mengelus pipi sambil tersenyum.
"Tidak pantas Tuan Putri menangis seperti ini, hapuslah air matamu karena aku tidak akan mengizinkan dia kembali menetes. Bagiku kebahagiaan kalian jauh lebih penting dari apa yang akan aku perjuangankan selama ini. Mungkin aku bisa kehilangan Perusahaan, tetapi aku tidak ingin kehilangan orang-orang yang sangat aku cintai. Jika semua yang kita inginkan bisa dibeli dengan uang, beda cerita sama kebahagiaan dan cinta. Dua hal itu tidak bisa kita beli dengan uang. Kamu paham 'kan, apa yang aku maksud?"
Rani menganggukan kepala secara perlahan, tatapan keduanya semakin mendalam sehingga bisa melihat betapa besarnya cinta kasih yang terlihat dari bola mata mereka. Ragil mencium kening Rani sekilas, lalu menggandeng tangannya dan mengajaknya pergi ke kamar Joey.
Namun, saat Ragil ingin bangkit dari ranjang, tiba-tiba saja tangan Rani malah menarik kembali agar sang suami bisa duduk seperti semula.
"Kenapa, Sayang? Waktu kita sudah tidak banyak, Joey pasti menunggu jawaban yang ingin kita katakan. Jangan sampai kita lewat dari waktu yang telah ditentukan sebab itu akan membuat Joey merasa semakin kecewa. Bukannya kita sudah mendapatkan pilihan, hem? Jadi, buat lama-lama di sini lebih baik kita segera pergi ke kamar Joey dan berikan kabar bahagia ini. Dengan begitu Joey tidak lagi berniat ingin per----"
Ucapan Ragil terhenti ketika jari telunjuk sang istri berada tepat di bibirnya. Gelengan kepala Rani membuat Ragil bingung, padahal semua itu sudah Ragil jelaskan agar tidak lagi ada perdebatan diantara mereka. Jika Ragil meminta Rani yang keluar dari pekerjaan, pasti akan ada keributan yang besar hingga ego mereka malah semakin meninggi.
Maka dari itu, Ragil memutuskan semua ini dari hasil pemikirannya sendiri agar tidak menimbulkan percikan api diantara mereka. Sehingga keluarga kecil mereka bisa kembali bahagia seperti sediakala.
"Langkahku sudah terlalu jauh, Sayang. Aku lupa akan tugas pentingku menjadi seorang istri sekaligus ibu bagi Joey. Aku hanya mementingkan karier tanpa bisa mengerti bagaimana perasaan Joey, apa yang dia mau dan keluarga seperti apa yang kita inginkan. Ambisiku terhadap pekerjaan benar-benar sudah gila, tekatku untuk menjadi wanita karier tidak masuk akal. Mungkin ketika aku masih muda dan belum menikah aku bisa menggapai semua itu. Hanya saja, jalurku sudah beda, Sayang. Aku tidak bisa mementingkan karierku di saat aku sudah berkeluarga, jadi lebih baik aku berhenti biarkan kamu yang mencari nafkah untuk kita karena itu memang sudah tugasmu sebagai suami, bukan aku!"
"Tekatku sudah bulat, Sayang. Aku ingin menghabiskan waktu setiap hari bersama Joey di rumah dan mengurus keluargaku sebaik mungkin. Aku sudah lelah mengejar apa yang seharusnya tidak aku kejar, hingga aku melupakan tentang keluarga kecil kita. Namun, sekarang tidak lagi, Sayang. Aku ingin berusaha belajar untuk menjadi istri juga ibu yang baik untuk kalian semua. Jadi, maafkan aku selama ini sudah egois sama kalian. Aku janji, aku tidak lagi menuntut apa pun darimu. Fokusku saat ini ingin mengembalikan waktu kebahagiaan kita dulu dengan menggantikan waktu yang sudah terbuang sia-sia. Please, izinkan aku untuk mengabdi padamu, Sayang. Biarkan aku yang berhenti kerja karena itu sudah seharusnya aku lakukan, bukan kamu!"
"Ingat, Sayang. Kamu itu kepala rumah tangga, kalau kamu di rumah berdiam diri sama saja kamu merendahkan harga dirimu di depanku. Lebih baik aku yang keluar dan kamu bisa fokus mencari nafkah demi kebutuhan keluarga kecil kita juga pengobatan Justin. Aku saja sampai lupa kapan terakhir kali kita romantis, yang aku ingat hanya bagaimana caranya aku bisa mendapatkan posisi ini."
"Setelah mendapatkan semua itu aku kira hubungan kita akan semakin membaik lantaran aku sudah membuktikan sama kamu, jika aku telah berhasil menggapai impianku sendiri. Sayangnya, ambisiku yang berpikir kalau aku sudah mencapai kebahagiaan dalam hidupku, ternyata salah. Aku malah menjebak anakku sendiri untuk menjadi korban di dalam keegoisan kita sebagai orang tua. Keributan yang sering terjadi itu disebabkan karena bentrokan saat kita kelelahan bekerja hingga tidak ada lagi keharmonisan diantara kita berdua."
"Jadi, aku mohon sama kamu. Izinkan aku untuk menebus semua waktu yang sudah terbuang. Aku akan memperbaiki hubungan kita, kamu sudah cukup berkorban untuk aku dan Joey. Sekarang giliran aku yang bekorban, aku mohon, Sayang. Aku mohon! Aku sudah mengajukan surat pengunduran diri ke kantor, tinggal menunggu ACC dari Perusahaan. Mungkin butuh waktu kurang lebih 1 Minggu, tapi tak apa. Setidaknya aku sudah memutuskan semua ini sebaik mungkin agar kita tidak akan bertengkar dikemudian hari!"
Rani menggenggam tangan Ragil begitu kuat. Keseriusan di raut wajah sang istri sangat mewakilkan Ragil jika keputusan yang Rani buat tanpa sepengetahuannya semua sudah melalui proses yang sangat baik.
Keegoisan di dalam pikiran Rani seketika hilang begitu saja ketika membicarakan tentang hubungan pernikahan yang harus diperbaiki. Rani memang sudah benar-benar memiliki tekat kuat untuk berusaha memperbaiki diri agar bisa menjadi istri sekaligus ibu yang baik.
.......
.......
.......
...💜💜>Bersambung<💜💜...