Jangan Renggut Kebahagiaanku!

Jangan Renggut Kebahagiaanku!
41 Derajat Celcius


Emosi di raut wajah mereka memang tidak bisa terkontrol dengan baik. Sebesar apapun masalah yang membuat mereka bertengkar, tidak ada satu kata yang keluar dari mulutnya untuk mengakhiri hubungan pernikahan yang sudah cukup lama mereka bina.


Semua kemarahan itu bisa terjadi karena sang suami hanya menginginkan istrinya berada di rumah. Biarlah hanya dia yang merasakan lelahnya mencari rezeki di luar sana untuk keluarganya.


Sehingga, istrinya hanya duduk manis menerima rezeki yang dia berikan dan tidak lupa mengurus anak serta suaminya dengan penuh kasih sayang. Sang suami tidak pernah menuntut untuk menjadi istri yang sempurna seperti yang lain, tetapi dia ingin merasakan kehidupan semestinya.


Di mana ketika sang suami baru saja pulang bekerja, sudah di sambut oleh istrinya penuh senyuman. Apa lagi sampai di tawarkan minuman, makanan, pijit dan sebagainya. Pasti dia akan kembali merasa bersemangat untuk menjalani hari-hari seoerti biasa.


Mungkin, ini hanya sebagian kecil keinginan yang sudah lama tidak di rasakan oleh sang suami. Akan tetapi, keinginan terbesarnya yaitu mereka bisa berkumpul kembali setelah habis makan malam sambil menonton film. Dengan begitu, mereka bisa menghabiskan waktu bersama dalam canda tawa juga kebahagiaan.


Sampai akhirnya, hubungan mereka kembali membaik. Bukan seperti sekarang, di mana mereka malah lebih menyibukkan diri untuk bekerja agar bisa manyaingi penghasilan satu sama lain.


Entah apa yang ada di pikiran mereka, sampai-sampai mereka melupakan anaknya yang sangat membutuhkan perhatian juga kasih sayang.


Sebenarnya niat suaminya memang terbilang baik, lantaran sang suami selalu merasa tidak tega ketika melihat istrinya pulang larut malam dalam keadaan lelah.


Namun, sang suami tidak bisa menjelaskan semua itu menggunakan perasaan. Dia malah bisa mengapresiasikan kebaikan hatinya menggunakan emosi, sampai tidak menyadari kata-katanya selalu menyakiti istrinya. Begitu juga istrinya yang salah paham, seakan-akan sedang melawan suaminya sendiri.


Lebih menyakitkan lagi, ketika suaminya selalu membanding-bandingkan sang istri dengan wanita lain di luaran sana. Untungnya sang istri tidak sampai meminta berpisah, jika kata-kata itu sudah terucap kemungkinan cinta yang ada di dalam hati mereka tidak bisa di selamatkan.


"Aku udah capek nasihatin kamu hampir setiap hari!" ucap suaminya duduk di atas ranjang.


"Buka hanya kamu, aku juga capek sebenarnya berdebat terus hanya karena masalah sepele!" seru istrinya, duduk di kursi rias.


"Terus mau kamu apa, sekarang? Masih mau meneruskan pekerjaan itu?" tanyanya, perlahan nadanya mulai terdengar rendah.


"Yaiyalah, masa aku harus meninggalkan pekerjaanku sih, aneh! Terus ngapain selama ini aku lembur hampir setiap hari, kalau akhirnya keluar, hah? Mendingan aku enggak usah kerja sekalian dari awal. Capek-capek mendapatkan posisi ini, dengan seenaknya kamu berkata seperti itu? Maaf, aku tidak akan menyia-nyiakannya karena ini duniaku!"


Jawaban dari sang istri benar-benar sangat menggoreskan luka di hatinya. Dia tidak menyangka istrinya bisa mengatakan semua itu tanpa memikirkannya sedikitpun.


"Apakah tidak ada niatan untukmu berada di rumah, duduk manis ngurusin aku dan Joey gitu? Bahkan, kalau perlu aku bisa membuatkan bisnis untukmu. Jadi, kamu hanya duduk manis mengontrol usahamu, selebihnya karyawanmu yang akan bekerja keras. Sehingga kamu tetap ada kegiatan, tapi kamu juga bisa memperhatikan anak serta suamimu tanpa membiarkan lami kesepian. Gimana?"


"Tidak perlu, aku sudah nyaman dengan pekerjaan ini. Kamu tahu sendiri, aku udah lama banget bekerja di sini bahkan sebelum kita menikah. Jadi, posisi ini adalah posisi yang sangat aku inginkan dari dulu sebelum aku menjadi apa-apa!"


"Apa penghasilanku kurang untuk mencukupi kehidupan kamu dan Joey, sehingga kamu harus mencari tambahan demi menghidupi keluarga kita? Aku ini pemilik perusahaan ternama loh, masa iya kamu mau jadi budak di perusahaan lain?"


"Biarkan saja, memangnya kenapa? Lebih baik aku bekerja dengan mengandalkan kemampuanku sendiri dari pada aku harus duduk manis menerima uangmu. Gitu? Idihh, malas banget. Aku bukan wanita manja yang tidak bisa apa-apa!"


"Tapi---"


"Tuan, Nyonya. Ini saya, Sus Rini. Saya ke sini ingin memberitahukan sesuatu tentang Den Joey!" teriak Sus Rini sambil menggedor pintunya.


"Masuk, Sus. Pintunya tidak di kunci!" titah sang istri sambil membersihkan wajahnya menggunakan pelembap.


"Maaf, Tuan, Nyonya. Saya mengganggu waktu kalian, saya ke sini ingin memberitahu kalau panas Den Joey semakin tinggi. Barusan saya periksa suhu tubuh Den Joey sekitar 41 derajat celcius, dan itu sudah tinggi banget. Saya takut, Den Joey kenapa-kenapa, soalnya dia sudah mulai kejang-kejang."


Penjelasan dari Sus Rini langsung membuat ayah dari Joey bangkit dari kasur dan berlari sekilat mungkin ke arah kamarnya.


Sementara ibunya terdiam mematung, matanya berkaca-kaca sampai pelembab yang ada di tangannya tumpah begitu saja di lantai. Lalu dia pun berlari sambil menangis ketika mendengar kabur buruk mengenai anaknya.


Padahal beberapa menit lalu, dia sudah mengeceknya setelah pulang ke rumah dan keadaan Joey masih baik-baik saja.


Namun, sekarang tiba-tiba panasnya menjadi tinggi. Sampai akhirnya mereka semua bertiga segera bergegas untuk membawa Joey ke rumah sakit tanpa harus ganti baju.


Sepanjang perjalanan, badan Joey terus bergetar hebat karena panas badannya membuat Joey tidak bisa menahannya. Sebisa mungkin Sus Rini menjaga agar gigi Joey tidak sampai saling beradu. Itu malah akan semkin membahayakan, bisa-bisa giginya patah akibat panas yang di derita Joey sangatlah tinggi.


Sang ibu hanya bisa menangis memeluk anaknya bersama Sus Rini untuk menjaga kestabilan Joey agar tidak ada sesuatu yang akan membahayakannya.


"Bertahan, Sayang. Bertahanlah! Sebentar lagi kita akan sampai di rumah sakit, pokoknya kamu harus kuat ya. Mimih tidak mau sampai sesuatu terjadi sama kamu, Mimih tidak rela!"


"Tenanglah, Sayang. Aku yakin, anak kita akan baik-baik saja. Joey adalah anak yang kuat, dia tidak mungkin menyerah hanya karena suhu badannya yang tinggi. Pipih percaya, Joey anak yang baik. Jadi, Joey harus bertahan ya, Nak. Bertahan!"


"Aden harus kuat ya, Sus Rini di sini buat Aden. Maafkan Sus Rini, kalau Sus terlalu lalai menjaga Aden. Maafkan Sus Rini, maaf hiks ...."


Air mata mereka menetes bersamaan melihat konfisi Joey yang semakin parah. Entah apa yang terjadi pada Joey, sehingga dia bisa menjadi seperti ini.


Tanpa berkata apapun, ayahnya hanya bisa fokus menyetir dalam kecepatran ekstra. Tidak lupa dia menyalakan lampu darurat agar membuat kendaraan lainnya bisa membukakan jalan untuk mobilnya lewat tanpa terjebak macet.


.......


.......


.......


...💜💜>Bersambung<💜💜...