
Joey menarik napasnya dalam-dalam, lalu mengeluarkannya berulang kali. Joey bingung harus menjelaskan bagaimana pada Yola agar bisa mengerti kalau apa yang ada dipikirannya itu salah.
Terlepas salah tidaknya Naku, Joey tetap akan membuka pikiran Yola supaya tidak terpokus dengan pikiran negatif. Joey hanya takut, pikiran itu akan membuat kedua orang tua mereka menjadi bersedih melihat kedua anaknya memiliki sifat iri satu sama lain.
Namun, di saat Joey sedang memikirkan sesuatu untuk menjelaskan sama Yola, tiba-tiba saja pandangan mata Joey mengarah ke sisi sebelah kiri.
"Laa, coba deh, lihat ke arah sana!" titah Joey, membuat Yola sekilas menatapnya lalu mengikuti arah tangan Joey yang menunjuk
Seorang gadis cantik sedang bermain bersama adik laki-lakinya sambil menjaganya dari anak-anak lain yang sedang berlarian saling mengejar satu sama lain.
Yola terdiam memperhatikan gadis itu dengan usia hampir sepantaran dengannya. Hanya saja adik gadis itu sudah bisa berjalan, walaupun sedikit oleng ke kanan dan ke kiri.
"Dia hampir sama denganmu, Laa. Adiknya laki-laki, sedangkan kakaknya perempuan. Tapi, lihatlah! Dia tidak merasakan apa yang kamu rasakan, bukan? Malah, dia terlihat begitu bahagia memiliki adik selucu itu. Terus kenapa kamu merasa begitu khawatir?"
Yola terdiam, tidak bisa berkata apa-apa. Dia hanya fokus memperhatikan setiap gerak-gerik gadis itu saat bermain dengan sang adik.
"Memiliki adik itu ...." Joey menghentikan perkataannya ketika melihat Yola berdiri dari kursi, lalu berjalan perlahan mendekati gadis yang membuatnya penasaran.
Tanla berlama-lama, Joey segera mengikuti ke mana pun Yola melangkah. Dia berusaha menahan suaranya agar tidak menanyakan apa yang ingin ditanyakan. Joey ingin melihat apa yang akan Yola lakukan terlebih dulu, barulah dia akan kembali berbicara.
Yola berjalan perlahan diikuti oleh Joey melewati beberapa anak kecil lainnya, sesekali Joey menjaga Yola agar tidak sampai tertabrak anak kecil yang sedang berlari-lari mengelilingi taman.
Setelah sampai di depan gadis kecil yang saat ini sedang menjaga sekaligus menemani adiknya bermain, tiba-tiba Yola duduk di rerumputan kecil bersebelahan dengan sang gadis yang memberikan senyuman.
"Hai, boleh kenalan? Namaku, Yola. Kakak siapa?" tanya Yola sambil menjulurkan tangannya.
"Hai, juga. Aku Zie, senang kenalan denganmu, Yola." Zie tersenyum lebar menyapa Yola penuh keramahan.
"Senang juga bisa kenal sama Kak Zie. Oh, ya, perkenalkan ini Kak Joey temanku. Boleh kita bergabung denganmu dan ...."
"E,ehh, hehe ... Ini adikku namanya, Zio."
"Hai, Zio. Aku, Yola. Wahh, putih sekali adikmu, Kak. Kaya orang bule, hehe ...."
Zie tersenyum ketika mendapatkan pujian dari Yola, sedangkan Zio fokus pada mainnya sesekali mengoceh tanpa ada yang mengerti apa yang dia bicarakan. Akan tetapi, Yola sangat menyukai Zio. Dia tipikal anak yang tidak terlalu menyebalkan, anteng dan tidak neko-neko seperti anak lainnya yang lari ke mana-mana hingga capek untuk dikejarnya.
"Terima kasih, Yola." Zie tersenyum sesekali menatap.Yola dan Joey secara bergantian. "Dia memang adikku, tapi bukan dari ayah kandungku. Mamahku menikah lagi dengan pria bule yang sangat baik, dia begitu menyayangiku sampai akhirnya aku di berikan adik yang lucu seperti dia. Zio memang berbeda sama yang lain, dia lebih suka bermain denganku dari pada Kakakku yang laki-laki. Kalau aku tidak ada Zio sering menangis, apa lagi ketika aku sekolah dia selalu mencariku seakan-akan aku ini mau pergi jauh hehe ...."
Zie tertawa kecil saat melihat Zio seperti mengerti apa yang sedang dia katakan, hingga Zio mengangguk gemas membuat Joey dan Yola tersenyum melihat tingkahnya.
"Memang kenapa Zio tidak mau bermain dengan Kakakmu? Apa Kakakmu terlalu cuek, atau---"
Zie menggelengkan kepala kepada Joey, lalu memotong ucapannya untuk memperjelas agar mereka berdua tidak salah paham atas cerita yang Zie katakan.
"Kakakku bukan orang yang cuek, dia selalu menjagaku disaat aku kecil sampai sekarang. Cuman, sayangnya Kakak lagi sakit. Dia jatuh dari tangga sehingga kakinya patah dan hatus dirawat di rumah sakit. Usiaku sama Kakak cuman beda 2 tahun, tapi Kakak selalu mengerti apa yang aku inginkan tanpa mengatakannya. Meskipun, aku sama Kakak tidak satu ayah dengan Zio, kami tetap menyayangi Zio karena bagaimanapun Zio tetap adik kita. Terus kenapa Zio lebih dekat sama aku, jawabannya karena Zio salah paham dengan Kakak hihi ...."
"Waktu kecil Zio sangat dekat sama Kakak sampai Zio tidak mau main denganku, tapi Kakak tidak sejahat itu menjauhkan aku sama Zio. Kakak terus memberikan pengertian sampai Zio juga mau main denganku. Kita main bertiga setiap hari dari pagi sampai malam, itu kalau kita libur. Cuman, kalau kita sekolah kita hanya bisa main siang atau sore sampai malam. Aku sama Kakak punya jadwal les, jadi kita selalu meninggalkan Zio di rumah sama Mamah sampai kita pulang."
"Nah, waktu itu Zio baru bisa banget berjalan. Dia juga sudah mengerti apa yang kita katakan, tetapi belum lancar berbicara sama kaya ini. Bedanya waktu itu dia tidak secerewet ini hehe ... Terus, aku punya ide buat ngerjain Kakak. Aku mau lihat apakah Kakak sayang sama Zio atau gak karena aku sebel aja pas dia terlalu fokus sama mainannya sampai-sampai Zio merangkak ke arahnya dan hampir jatuh Kakak masih asyik mainan, pas aku teriak Zio mau jatuh merempet di meja barulah Kakak sadar. Saking kesalnya aku kerjain aja Kakak dengan cara ...."
.......
.......
.......
...💜💜>Bersambung<💜💜...