
Rani menggelengkan kepalanya secara perlahan untuk memberikan kode agar Joey tidak mengatakan sesuatu yang akan semakin membuat hati mereka menjadi sakit.
"Cukup, Sayang. Jangan diteruskan lagi, Mamih tidak sanggup mendengar kata-katamu. Pokoknya sampai ma*ti pun Mamih akan berjuang buat kamu. Jika Mamih bisa menggantikanmu, biarlah Mamih yang gantikan semua penyakit itu. Mamih tidak ingin kamu merasakan rasa sakit yang seharusnya tidak kamu rasakan!"
Joey hanya tersenyum kecut menahan air mata yang hampir menetes ketika mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Rani. Setelah sekian lama, Joey baru kembali merasakan cinta kasih yang selama ini jarang sekali dirasakan.
Apalagi sekarang Joey sudah tidak menggunakan perawat yang selalu mengawasi ke mana pun pria kecil itu pergi. Oleh karena itu, Rani selalu menemani Joey di rumah, bahkan mengantarkannya sekolah. Tidak lupa Rani juga selalu pergi meluangkan waktu berdua dengan Joey selagi Ragil sibuk mencari nafkah untuk keluarga kecinya.
Setidaknya, keluarga Rani dan Ragil sudah mulai membaik setelah kejadian itu. Mereka hanya fokus untuk kesembuhan Joey mulai dari sekarang sampai seterusnya mereka akan mengupayakan semua pengobatan demi kesembuhan putra semata wayang.
"Apa pun caranya, Papih akan usahakan agar kamu bisa sembuh lagi. Pokoknya Joey tenang aja, Papih tidak akan pernah menyerah. Lebih baik Papih rela kehilangan harta dari pada kehilangan keluarga. Jadi, fokus kamu saat ini hanya belajar dan sembuh. Oke?"
Joey tersenyum menganggukan kepala, tangan Ragil sekilas mengusap kepala anaknya dan kembali menatap sang dokter untuk menanyakan perkembangan tes yang suah dilakukan.
"Gimana, Dok? Apakah---"
"Tuan tenang saya, kita serahkan semuanya pada Tuhan. Apa pun pengobatannya kami akan bantu demi menghambat penyakit itu sampai kita mendapatkan pendonor hati yang sangat cocok. Maka darinitu saya harus memastikan semuanya melalui tes ini, jika semuanya tes telah selesai dilakukan saya baru bisa menjelaskan sudah sejauh mana penyakit itu menyebar."
"Kita harus percaya, tidak ada penyakit yang sembuh atas izin Tuhan. Setinggi-tingginya pangkat kita, kita harus tetap menunduk di hadapan Tuhan agar kita bisa selalu mendapatkan perlindungan. Apalagi kita lihat tubuh anak Tuan masih sangat kuat dan sehat, itu berarti penyakitnya belum terlalu berefek ke dalam kesehatan. Akan tetapi, kita juga harus tetap waspada agar penyalit tersebut tidak menggerogoti tubuhnya."
"Sudah hampir 2 tahun ini daftar anak Tuan sedang kami usahakan sesuai sama apa yang sudah kami kirimkan data-datanya ke rumah sakit besar di dunia. Semoga rezeki anak Tuan bisa lebih cepat dari yang lain, sehingga kita tidak akan menunggu lama untuk melakukan operasi besar."
"Untuk saat ini kamu hanya melakukan pengecekan kembali agar kami bisa memantau semuanya, untuk hasilnya akan keluar 3 hari yang akan mendatang. Intinya sekarang Tuan dan Nyonya tetap bersabar, dukung anak kalian untuk bisa hidup dengan sehat. Apalagi obat terampuh adalah kebagiaan, semakin anak kalian bahagia semakin besar kemungkinan peluang buat sembuh. Akan tetapi, semakin dia sedih maka semakin menurun kondisi daya tubuhnya. Apa sampai di sini ada yang kuarang di mengerti?"
Dokter tersenyum menatap satu persatu dari mereka secara bergantian. Melihat semangat yang membara dari Joey membuat sang dokter ikut merasa senang. Anak seusianya bisa memiliki sifat yang benar-benar di luar dugaan. Betapa kuatnya Joey ketika harus menahan rasa sakit seorang diri tanpa membuat kedua orang tua menjadi cemas.
Setelah selesai, Rani dan Ragil membawa Joey untuk berjalan-jalan di Korea demi menghibur hati mereka yang sedikit cemas akan penyakit yang diderita Joey.
Meskipun, mereka merasa khawatir lantaran hasil pemeriksaan belum bisa di lihat. Hanya saja ketika melihat Joey tersenyum penuh kebahagiaan karena kedua orang tuanya meluangkan waktu berlibur bersama, membuat semangat Joey untuk sembuh kembali bangkit.
Joey berniat ingin sembuh dari penyakitnya supaya kelak dia bisa hidup bersama dengan gadis gemoy kesayangannya. Mengingat nama gadis itu membuat Joey lupa untuk mengabarinya, pasti gadis itu sudah menunggu kabar darinya yang tidak bisa hadir di acara penting syukuran Baby Juan.
Baru juga Joey mengirimkan pesan, ponsel Joey langsung berbunyi. Semua itu akibat rasa kangen yang bercampur kesal. Baru juga Joey mengangkat panggilan video call dari Yola, suara cempreng dan indah itu berkicau membuat Joey refleks tersenyum.
Baru juga dua hari Joey meninggalkan Yola, suara itu membuatn Joey ingin segera pulang untuk mengobati rasa rindu yang kini membuat hatinya berdebar.
Joey paham, usianya tidak pantas untuk jatuh cinta. Akan tetapi, dia tidak bisa membatasi harus kapan cinta itu hadir dan kepada siapa cinta itu bertahta. Intinya, Joey hanya ingin menikmati hidup yang tidak tahu apakah akan bertahan lama atau tidak, terpenting dia akan berusaha untuk bisa melawan penyakit dari kecil.
Tidak hanya Joey saja yang melalukan video call, Rani juga ikut menyambar bersama Ragil. Mereka meminta maaf karena sudah membuat gadis kecil yang canti itu merasa khawatir, tetapi mereka tidak pernah mengatakan tentang penyakit ini kepada siapa pun sesuai permintaan Joey sendiri.
.......
.......
.......
...💜💜>Bersambung<💜💜...