Jangan Renggut Kebahagiaanku!

Jangan Renggut Kebahagiaanku!
Kekecewaan Keluarga Yola


Rio terdiam mendengar suara yang sangat dikenalnya, tetapi dari caranya berbicara entah mengapa dia merasa ada sesuatu yang telah terjadi. Rio langsung menyalakan pengeras suara dari ponsel supaya semua orang dapat mendengarkan sesuatu yang ingin orang itu sampaikan.


[Apa yang ingin kau sampaikan, bicaralah. Ada apa sebenarnya? Kenapa suaramu seperti sedang tidak baik-baik saja? Berulang kali kami telpon kalian, kenapa semua nomor tidak aktif? Bisakah jelaskan padaku apa yang telah terjadi di sana?]


Pertanyaan yang Rio berikan sangat mewakilkan Becca juga Naku. Sedangkan keluarga Naila hanya terdiam mendengarkan apa yang ingin mereka bahas, dikarenakan dari apa yang dijelaskan oleh Becca dan Rio seakan-akan mengaitkan sakit Yola dengan Joey.


[Sebelumnya saya minta maaf, Kak, semuanya. Saya tahu, apa yang akan saya sampaikan ini pasti akan membuat kalian kecewa dan marah besar, tetapi kami tidak tahu harus membagi beban kami kepada siapa lagi kalau bukan pada kalian. Saya dan istri sudah benar-benar bingung, Kak. Saya bingung ....]


Seseorang bercerita dengan suara serak seperti orang yang sedang menahan tangis, tetapi suara tangisan sang istri terdengar jelas membuat keluarga Naku dan Naila terlihat sangat khawatir. Apalagi, pria itu menjelaskan semuanya secara menggantung hingga berhasil menjadikan suasana di sana semakin menegang.


[Bingung? Apa yang membuat kalian bingung? Terus kenapa istrimu menangis seperti itu? Ada apa ini, Tuan Ragil? Coba, sekarang kau tarik napas, lalu buang, lakukan berulang kali. Setelah itu, jelaskan pada kami sebenarnya apa yang terjadi pada kalian di sana?]


Semua orang saling merilik satu sama lain untuk menunggu jawaban yang akan disampaikan oleh Ragil. Sementara itu, Ragil mencoba untuk mengikuti arahan dari Rio untuk mengontrol perasaannya supaya memudahkan dia menceritakan apa yang telah terjadi pada putra kesayangan.


[Oke, sudah tenang? Coba ceritakan perlahan sama kami, apa yang ingin kalian ceritakan supaya kami bisa mengerti apa yang terjadi sama kalian semua di sana.]


Rio selalu berusaha untuk mengucapkan kata-kata kepada mereka setenang mungkin, walaupun dia juga sangat takut jika di sana keluarga Joey dalam keadaan tidak baik. Sampai akhirnya, batin Yola ikut merasakan apa yang mereka rasakan hingga jatuh sakit seperti ini.


Dengan berat hati, Ragil terpaksa harus membocorkan semua rahasia yang Joey sembunyikan dari mereka semua mengenai penyakitnya saat ini. Dia menceritakan awal mula Joey terkena penyakit yang memang bawaan dari kecil. Hanya saja, mereka terlalu sibuk untuk mementingkan karier sampai lupa apabila usia anaknya semakin bertambahnya tahun semakin bertambahnya usia hingga resiko yang dimiliki Joey semakin besar.


Di situlah, semua keluarga Naku dan Naila benar-benar syok mendengar apa yang telah disampaikan oleh Ragil. Mereka tidak dapat berkata apa-apa selain diam dalam keadaan wajah begitu mengkhawatirkan akan kondisi Joey saat ini.


Becca langsung merebut ponsel Rio, lalu menyampaikan unek-unek yang ada di dalam hatinya akibat rasa kecewa dan marahnya. Semua itu karena keluarga Joey sama sekali tidak ada komunikasi yang membuat mereka ikut serta dalam membantunya.


[Kenapa kalian menutupi semua itu dari kami? Bukannya kalian bilang udah nganggap kami seperti keluarga, terus kenapa diam? Jika kalian bilang, suamiku pun bisa membantu kalian mencarikan pendonor lebih cepat dan Joey bisa ditangani oleh dokter-dokter hebat. Kenapa harus sekarang kalian cerita di saat kondisi anak kalian seperti itu, di mana pikiran kalian, hahh!]


Ragil terdiam mendengar nada yang Becca sampaikan cukuplah tinggi, sehingga mereka dapat memenyimpulkan betapa marahkan keluarga Yola yang merasa dikecewakan.


Kinu, giliran Rani yang merebut ponsel suaminya untuk mengatakan apa yang sedsri tadi ingin disampaikan. Hati ibu mana yang tidak hancur ketika anaknya mengalami sakit yang cukup berbahaya.


Rani menangis sesegukkan sambi terus berusaha mengatakan sejelas mungkin kepada mereka, membuat Rio mengusap punggung istrinya. Dia tahu, saat ini Rani sedang dilanda kekhawatiran atas informasi yang dokter sampaikan pada mereka berdua.


[Orang tua mana sih, Kak, yang ingin melihat anaknya jatuh sakit seperti ini. Tidak ada, Kak! Bagaimana kalau posisi ini kalian yang rasain, kalian pun sudah terikat janji pada anak kalian. Terus apa yang bisa kalian lakukan selain diam? Tidak ada bukan! Itulah, kami juga sakit, Kak, harus merahasiakan semua ini sama kalian. Cuma, gimana? Anakku itu lebih memilih diam, menelan semua rasa sakitnya sendiri sebab tidak ingin merepotkan orang lain termasuk kami orang tuanya. Joey begitu bukan berarti dia bisa menangani penyakitnya sendiri, tetapi dia hanya tidak mau dikasihani oleh orang-orang disekitarnya dan dianggap pria lemah. Dia tidak mau, Kak, dia tidak mau hiks ....]


Becca terdiam mendengarkan cerita yang Rani sampaikan. Memang benar, apa yang Rani katakan. Terlihat dari cara Joey bersikap selaly menunjukkan bahwa, anak itu hanya ingin dianggap anak yang kuat, anak yang hebat. Padahal nyatanya tidak, Joey adalah anak yang lemah. Anaknyang butuh kasoh sayang lebih dari anak-anak lainnya, sayangnya semua itu baru dia dapatkan di saat penyakitnya semakin berkembang.


[Aku sudah bilang sama Ragil, Kak, untuk menghubungi kalian, Berulang-ulang kali, aku memohon padanya minta bantuan sama kalian untuk sekedar mendoakan agar anakku baik-baik aja. Operasi yang Joey lakukan ini bukanlah operasi biasa, tetapi operasi besar yang berada diambang hidup dan ma*tiny. Tapi Ragil, selalu ngeyel dan enggan memberikan kabar pda kalian. Sampai akhirnya, dokter keluar dari ruang operasi untuk memberikan kabar kalau Joey, Joey ....]


Semua orang terdiam menunggu kelanjutan yang dikatakan oleh Rani. Suasana semakin menegang ketika wanita itu malah menangis menggantungkan kata-katanya tanpa tahu harus menyampaikan seperti apa mengenai kabar putra satu-satunya itu.


Mendengar Rani menangis meraung-raung dengan suara Ragil yang terus mencoba menenangkannya membuat keluarga Yola dan Naila begitu penasaran. Kepanikan, kecemasan, hingga ketakutan melekat jelas. Naku yang awalnya tidak menyukai kehadiran Joey, tiba-tiba saja merasa kasihan setelah mengetahui tentang penyakit mema*tikan itu.


Ketidak sukaan Naku kepada Joey, mulai memudar hingga menjadikan rasa bersalah atas apa yang sudah dia lakukan oleh pria yang selama ini terus berusaha mendekati sang adik.


Bayang-bayang akan perlakuan Naku terhadap Joey, langsung berputar di memori ingatan. Di mana selama ini Naku selalu menuduh, menyalahkan, bahkan sampai mencaci Joey sesuka mulutnya tanpa memikirkan apabila kata-kata yang terucap dapat menyakiti perasaan seseorang.


Akan tetapi, tidak ada yang dapat mereka lakukan selain terus mencecar keluarga Joey untuk segera memberikan kabar tentang sang anak, tanpa harus membuat semuanya semakin emosi akibat rasa penasaran yang terus menghantui mereka.


.......


.......


.......


...💜💜>Bersambung<💜💜...