Jangan Renggut Kebahagiaanku!

Jangan Renggut Kebahagiaanku!
Hasil Pemeriksaan Joey


Setiap malam hari Leon harus mengurus sang istri agar panasnya segera turun, untungnya selama Vivi sakit si kecil tidak terlalu cengeng. Apalagi Nayla juga membantu Leon untuk menjaga si kecil agar tidak kerepotan ketika mengurus istri tercinta.


Tidak lupa juga Leon memanggil seorang dokter untuk memeriksakan kondisi Vivi agar bisa jauh lebih kekontrol ketika meminum obat dari resep dokter. Rasa sakit yang Vivi rasakan bukanlah penyakit biasa, tetapi beban pikiran yang tidak bisa lepas karena setiap malam selalu dihantui rasa takut.


Leon saja yang melihat istrinya sakit seperti ini menjadi tidak tega, bagaimana nanti setelah Nayla mengetahui semua itu. Apakah dia akan membenci kedua orang tuanya? Atau, Nayla akan bersikap dingin karena mereka sudah sangat lama menyembunyikan semua ini


...🌟🌟🌟🌟🌟...


3 hari telah berlalu, waktunya Joey kembali ke rumah sakit untuk melihat hasil dari berbagai macam rangkaian tes yang sudah di jalani selama beberapa hari di Korea.


Pagi hari tepatnya pukul 10, Joey dan kedua orang tuanya baru saja sampai di rumah sakit sambil menunggu giliran antre yang lumayan panjang.


Maklum saja, rumah sakit ini adalah rumah sakit terbesar untuk berbagai penyakit membahayakan. Tidak hanya Joey, bahkan ada anak lebih kecil darinya yang keadaan fisiknya sangatlah memprihatinkan.


Anak kecil itu selalu menggunakan kupluk topi berasal dari bahan wol atau akrilik yang dirajut menyerupai kerucut. Topi tersebut biasa digunakan ketika udara sedang dingin untuk tetap menghangatkan kepala.


Sama seperti anak kecil tersebut. Sepertinya, penyakit yang dia derita sudah mulai menyebar sampai membuat rambutnya perlahan rontoh, serta tubuhnya melemas.


Penyakitnya hampir sama seperti yang Joey rasakan, hanya saja anak itu kurang beruntung sehingga hanya bisa duduk dikursi roda dalam keadaan wajah pucat, tetapi anak kecil yang bergenre laki-laki itu masih tetap semangat untuk bisa sembuh.


Semua itu dia lakukan demi bisa kembali bermain bersama-sama dengan teman sepantarannya. Sudah lama anak itu tidak merasakan bermain lepas tanpa menggunakan kursi roda.


Sering kali, Joey mengajak anak itu bercanda gurau agar sedikit menghiburnya supaya tidak terlalu tegang. Dibalik semua itu Ragil dan Rani terlintas pikiran di mana mereka harus melihat anaknya akan berada di posisi itu dengan keadaan menyedihkan.


Akan tetapi, secepat kilat mereka menangkis semuanya dan langsung berpikir positif kalau putra kesayangan suatu saat bisa kembali sembuh tanpa harus merasakan apa yang anak itu rasakan.


Mereka harus percaya akan pertolongan Tuhan yang nyata. Apa pun mereka lakukan demi menyelamatkan sang anak dan mengusir penyakit menyebalkan itu. Ketika mereka sedang asyik menghibur anak kecil itu, tiba-tiba saja suster datang untuk mempersilkan Joey dan keluarganya masuk ke dalam menemui sang dokter.


Perlahan mereka bertiga masuk ke ruangan dokter sambil tersenyum, meskipun di dalam hati benar-benar sangat tegang. Sang dokter tersenyum mempersilakan mereka duduk dikursi yang sudah disiapkan. Sementara itu, sebuah dokumen sudah ada di atas meja dengan nama Joey.


"Bagaimana, Dok? Hasilnya baik-baik aja, 'kan? Penyakit anak saya tidak separah yang kita prediksi, 'kan? Saya sangat yakin, Dok. Anak saya pasti sembuh, dia bukan anak yang mudah menyerah. Jadi, semua penyakit itu perlahan akan sirna, percayalah!"


Ragil berbicara tanpa jeda lantaran hatinya sudah tidak bisa tenang, rasanya Ragil ingin segera mengetahui keadaan sang anak yang sudah lama tidak di cek secara keseluruhan.


"Sabar, Sayang. Biarkan dokter menjelaskan terlebih dahulu tentang hasilnya. Percayalah, anak kita anak baik-baik saja," ucap Rani berusaha menenangkan sang suami, meskipun dia sendiri juga tidak setenang apa yang dikatakannya.


"Tidak apa-apa, Nyonya. Wajar bila Tuan seperti ini, jika saya ada diposisi Tuan pasti rasa khawatir saya juga sama dengan Tuan. Namun, Tuan dan Nyonya tenang saja. Dari hasil tes beberapa hari lalu yang sudah saya pelajari, ternyata menyakit Tuan kecil Joey belum separah apa yang kita bayangkan."


"Akan tetapi, kita tidak boleh lengah karena perkembangan penyakit yang Tuan kecil Joey derita cukup membuat saya heran. Terkadang bisa lambat, atau juga tidak sesuai sama apa yang kita prediksi. Jadi, untuk berjaga-jaga tetap saja kita harus segera mencari pendonor secepat mungkin. Dikarenakan semakin lama hati Tuan kecil Joey semakin tidak baik. Lama kelamaan Tuan Joey akan merasakan tubuhnya mulai melemas, dada sakit, bahkan sampai muntah da*rah. Atau, bisa juga kulit Tuan kecil Joey akan mengalami alergi seperti bintik-bintik merah akibat cuaca."


"Maka dari itu, sebelum penyakit ini menyebar kita harus segera menemukan pendonor terbaik yang kelak akan memberikan kesembuhan untuk Joey kembali. Tuan dan Nyonya tenang saja, nama Tuan kecil Joey sudah berada di seluruh rumah sakit. Jdi, kita tinggal menunggu informasi yang masuk. Saya juga akan terus memantau perkembangan Tuan kecil Joey, jangan lupa obatnya harus diminum tepat waktu dan setiap sebulan sekali harus kembali melakukan pengecekan agar kami bisa terus memantaunya. Apakah Tuan dan Nyonya sudah paham?"


Rani dan Ragil sedikit lega setelah mendengarkan semua penjelasan yang dokter berikan. Setidaknya penyakit Joey masih bisa ditangani dengan obat-obatan yang akan dikonsumsi setiap hatinya demi menjaga daya tahan tubuh agar tidak mudah melemah.


Sekian lama mereka berbincang-bincang untuk membahas tahap apa yang akan diambil ke depan, akhirnya mereka menyudahi semua perbincangan dan Joey beserta kedua orang tuanya segera berpamitan.


Mereka kembali pergi ke Apartemen yang sudah di sewa, setelah itu mereka akan langsung bersiap-siap untuk pulang ke negaranya agar Joey bisa menemui Yola yang sudah rindu berat.


.......


.......


.......


...💜💜>Bersambung<💜💜...