
Kemajuan yang ada di dalam diri Naku saat ini, benar-benar membuat Gala syok. Setahu Gala, semenjak adanya keributan di dalam rumah tentang perselingkuhan Gala dengan Lola. Disitulah, Naku berubah. Dia lebih memilih diam tanpa banyak berbicara, sekalinya bersuara emosi Naku mulai tidak terkontrol. Dia sering mengamuk, bahkan melakukan percobaan bu*nuh diri.
Namun, kali ini berbeda. Wajah Naku terlihat lebih fress, seakan-akan beban yang selama ini Naku pikul langsung hilang begitu saja. Ternyata, Gala menyadari kalau dia belum bisa dikatakan sebagai seorang daddy sepenuhnya, lantaran dia belum mampu mendidik sang anak seperti Rio mendidik Naku saat ini.
"Ma-maaf, daddy belum bisa menjadi orang tua yang baik buat Naku. Daddy tahu, daddy sudah banyak salah sama kalian. Sekali lagi maafkan aku, Becca. Aku sudah membuat hidupmu semakin menderita karena aku selalu mencoba untuk menghancurkan kebahagiaanmu!"
Gala menundukkan kepalanya karena rasa malu yang kian menyebar di seluruh wajah. Dia tidak tahu harus berkata apa lagi selain meminta maaf. Mungkin, tadi Gala masih bersikap sombong lantaran dia merasa semua yang dilakukan Naku itu adalah suruhan dari Rio.
Akan tetapi, saat mendengar penjelasan dari sang anak Gala malah merasa malu pada dirinya sendiri. Rasa cemburu yang tertanam di dalam hati, membuat Gala iri karena belum bisa merelakan semua kejadian yang sudah terjadi.
Rio tesenyum melihat Gala. Inilah yang dia harapkan, di mana Gala sudah mulai menyadari kesalahannya yang nanti akan kembali membuat hubungan mereka membaik. Rio tidak ingin dibilang pahlawan kesiangan karena dia melakukan semua ini tulus tanpa embel-embel apapun.
Niat Rio hanya ingin mempersatukan mereka dalam ikatan anak dan orang tua. Walaupun Becca dan Gala sudah berpisah, tapi Naku tetaplah anak mereka berdua. Di dunia ini memang ada yang namanya mantan pacar, atau mantan suami/istri. Beda sama anak, sampai kapanpun tidak ada mantan anak, sebab di dalam da*rah sang anak mengalir da*rah kedua orang tua kandung yang tidak bisa disangkal.
"Naku sudah memaafkan daddy, tapi maaf. Untuk sementara, daddy harus menjalani hukuman sampai selesai. Ini bukan semata-mata Naku ingin menghukum daddy layaknya penjahat, cuman Naku ingin semua ini daddy jadikan pelajaran agar tidak terjadi kembali!"
"Naku cuman bisa mendoakan semua yang terbaik untuk daddy juga mommy. Naku tidak akan membedakan juga memilih salah satu dari kalian. Naku ingin kita kembali menjalani hubungan yang baik, seperti apa yang Om Rio katakan. Sebisa mungkin Naku akan bersikap adil, siapa tahu nanti daddy bisa menemukan kehidupan bersama wanita lain. Terpenting, kita harus saling mensuport satu sama lain serta tidak boleh ada lagi rasa iri, cemburu ataupun dendam!"
"Intinya Naku minta sama daddy, agar daddy bisa menjalani semua ini sebagai pelajaran dari kesalahan daddy agar bisa jadi orang yang lebih baik. Maaf kalau Naku sudah membuat daddy ada di tempat ini, sekali lagi maaf. Semua ini Naku lakukan bukan berarti Naku tidak sayang, kalau Naku tidak sayang sudah pasti Naku tidak akan lagi mau bertemu sama daddy. Lebih baik Naku menjebloskan daddy, setelah itu Naku tidak lagi mau berurusan atau kembali melihat wajah daddy. Sampai sini apa daddy sudah paham, kalau Naku masih sayang sama daddy?"
Mata Naku mulai memerah, sebisa mungkin Naku mencoba untuk menahan air mata yang ingin hampir terjatuh. Dia tidak ingin menunjukkan sisi kelemahan dirinya kepada Gala, kalau sampai Naku menangis membuat ketegasan yang sudah di tunjukkan sama Gala seolah-olah hanya bercanda. Sehingga, kemungkinan besar Gala bisa berpikir bahwa Naku akan mencabut tuntutan lalu membebaskan.
Sekuat tenaga Naku menahan semua demi menunjukkan bahwa apa yang dia lakukan dan katakan semua murni keseriusan. Air mata yang mengalir di mata Gala sudah tidak bisa lagi di bendung. Dia menangis sambil menundukkan kepala tanpa ingin melihat ke arah mereka. Rasa malu berkecambuk di dalamnhatinya, sebab dia merasa gagal menjadi seorang suami sekaligus ayah.
Yola yang dari tadi terdiam ketakutan, sekarang sudah tidak lagi. Yola malah merasa kasihan ketika mendengar suara tangisan Gala yang cukup kecil, nyaris tidak terdengar.
"Loh, kok daddy kakak nangis?" Yola melihat Gala lalu beralih menatap ke arah Naku, seakan-akan Yola menuduh Naku yang menjadi datang dari tangisan Gala.
"A-apa lihat-lihat aku?" tanya Naku, bingung.
"Ishh, mana ada ya? Tanya sama mereka sana, orang aku dari tadi ngomong baik-baik, bahkan aku tidak membentaknya sedikit pun. Ya, 'kan Om?" tanya Naku meminta pembelaan dari Rio yang hanya mengangguk penuh senyuman sambil mengusap kepala Naku.
"Terus kalau bukan kakak kenapa daddy kakak nangis? Apa dia sakit?" Yola menoleh ke arah Gala dalam keadaan bingung, hingga membuat Gala mengangkat kepalanya perlahan lalu menghapus air mata sambil tersenyum.
"Aku baik-baik saja, terima kasih sudah perhatian. Naku tidak salah, aku menangis karena aku menyesalin semua kesalahanku pada kalian semua. Keegoisan yang aku pelihara telah menjadi bumerang untuk diriku sendiri. Aku tidak tahu harus bagaimana meminta maaf pada kalian karena kalian sudah sangat baik untuk selalu memaafkan kesalahanku."
"Aku tahu, mungkin aku manusia yang paling egois. Aku melakukan semua itu lantaran aku tidak terima kalau Becca akan menjadi milik orang lain. Rasa cemburu di hatiku begitu kuat sampai-sampai membuat aku berubah jauh dari diriku yang dahulu. Aku rela menggunakan segala cara demi menghancurkan kebahagiaan, dengan harapan aku bisa kembali menjadi bagian dari hidup kalian. Nyatanya salah, kesalahan yang aku perbuat malah membuatku bisa sampai di titik ini."
"Jika dibilang kecewa jelas, aku kecewa. Apa lagi saat aku tahu bahwa anakku sendirilah yang sudah melaporkanku ke tempat menyeramkan ini demi membela mommynya yang akan menikah lagi. Aku berpikir semua ini hasutan dari Rio, tapi hasilnya tidak. Naku melaporkan aku ke sini demi membutku sadar, bahwa apa yang sudah terlepas dari genggaman kita tidak mungkin kembali tanpa persetujuan dari Tuhan."
"Untuk itu, aku ingin meminta maaf pada kalian semua. Terutama Becca, maaf kalau aku sudah sangat egois mencegahmu buat bahagia bersama Rio. Aku pikir kamu masih mencintaiku, ternyata tidak lagi. Semua itu hanya isi dari pikiranku yang berusaha menghasut untuk melakukan semua tindakan kejahatan tersebut."
"Melihat perubahan kamu dengan Naku yang jauh lebih baik, membuatku sadar. Bahwa, Rio memang pria yang kalian inginkan. Berkat dia kalian bisa menghadapi semuanya dengan tenang, meski aku hampir merusaknya tapi, Tuhan tetap tidak merestui untuk kita kembali menjadi keluarga. Sekali lagi maafkan aku, atas semua kesalahanku yang sudah benar-benar keterlaluan sama kalian. Aku sadar, aku sudah jauh dari jalan Tuhan. Sehingga aku lupa, kalau kebahagiaan tidak bisa dipaksakan!"
Becca melirik Rio yang dari tadi tersenyum. Ketenangan yang ada di dalam diri Rio memang tidak bisa diragukan lagi, kalau Becca sungguh beruntung punya suami sepertinya.
Jiwa yang tenang, hati yang baik, sifat yang ramah, pemaaf dan bertanggung jawab, merupakan bagian dari kesatria. Dikarenakan, semua yang Rio lakukan bukan semata-mata ingin disanjung ataupun sekedar menunjukkan kesombongan juga kehebatannya. Hanya saja, Rio melakukan semua itu untuk melindungi, membela dan menjadi sosok kepala rumah tangga yang baik, meskipun masih dalam proses belajar.
.......
.......
.......
...💜💜>Bersambung<💜💜...