Jangan Renggut Kebahagiaanku!

Jangan Renggut Kebahagiaanku!
Termasuk Orang Penting


"Kenapa diam?" tanya Rio, bingung ketika melihat Becca mematung dengan pandangan mata menatap ke arahnya tanpa berkedip.


"Ahya, a-apa? A-aku? A-aku gapapa, kok hehe ...."


Becca tertawa receh penuh rasa gugup di dalam hatinya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan menunjukan sederetan giginya. Lalu di persekian detik langsung berubah menjadi salah tingkah ketika wajah Rio mendekati wajahnya.


Perlahan wajah Becca kembali memerah akibat rasa malunya saat Rio seakan-akan ingin mendekati bibirnya dengan jarak kurang lebih 1 jengkal orang dewasa.


"Jangan pernah sekali lagi, kamu ulangi kejadian ini! Aku tidak suka apa bila kamu sedang menghadapi suatu masalah, kemudian langsung pergi begitu saja tanpa ingin mendengarkan penjelasan terlebih dahulu. Mending kalau kamu pergi ke tempat yang aman, lah ini kamu pergi ke tempat yang cukup berbahaya. Bagaimana jika tidak ada aku di saat kejadian? Apakah kamu masih bisa membuka mata seperti ini?"


"Ingat, Ca! Kamu itu sudah sangat dewasa, seharusnya kamu bisa memberikan contoh baik pada anakmu agar ketika kelak saat anakmu menghadapi masalah dia tidak lari begitu saja, seperti apa yang kamu lakukan ini!"


"Kalau pun, seandainya kamu ingin sendiri tanpa di ganggu oleh siapa pun. Itu tidak masalah, aku tidak akan melarangmu. Hanya saja, satu pesanku! Pergilah ke tempat yang jauh lebih aman dari sebuah bahaya, dan jangan coba-coba sekali lagi kembali mengulanginya. Mengerti?"


Tatapan tajam yang tidak pernah Becca lihat dari sisi Rio, kini berhasil membuatnya menjadi takut. Untuk yang pertama kalinya Becca bisa melihat kemarahan Rio yang tidak pernah sama sekali dia lihat.


Becca hanya tahu, kalau Rio tipikal pria yang tidak mudah marah jika dia sedang menghadapi masalah besar sekalipun. Akan tetapi, kemarahannya bisa muncul ketika bersangkutan oleh nyawa atau kesehatan orang-orang penting di dalam kehidupannya.


Maka dari itu, Becca benar-benar syok. Rio rela memarahinya itu artinya Becca salah satu orang yang beruntung. Dikarenakan Becca telah masuk ke dalam daftar golongan orang-orang yang sangat penting di dalam hidup Rio.


Becca menganggukan kepalanya perlahan di selimuti oleh getaran hati yang cukup kencang. Belum lagi, jantungnya memompa cepat ketika Becca bisa merasakan napas Rio secara dekat.


"Ma-maaf ka-kalau aku sudah me-membuat Kakak marah, a-aku tidak bermaksud ingin mencelakakan diriku sendiri. A-aku juga tidak menyangka jika perahu yang aku tumpangi mengalami kebocoran. Seandainya perahu itu baik-baik saja, mungkin aku juga tidak akan tenggelam. Ja-jadi, se-sekali lagi maafkan aku. A-aku sudah membuat Kakak khawatir,"


Mata Becca berkaca-kaca, rasanya dia sangat takut sekali kalau sampai Rio marah besar padanya. Hatinya mulai tidak enak, melihat Rio hanya terdiam menatapnya.


Mungkin, bagu Becca yang tidak tahu apa-apa akan berpikir bahwa Rio benar-benar marah padanya. Berbeda sama yang ada di isi kepala Rio karena saat melihat bibir Becca, Rio malah kembali teringat momen di mana dia memberikan napas buatan untuknya.


Becca tidak berani menegur Rio, sebab dia masih sangat segan dan merasa takut. Jadi, dia memilih untuk tetap diam menatap wajah Rio yang datar.


Sampai akhirnya suara pintu yang terbuka membuat mereka berdua terkejut bukan main, lalu Rio langsung berdiri tegak sambil berpura-pura membenarkan pakaiannya. Sementara Becca mengalihkan wajahnya dari Rio akibat merasa malu.


Suster yang baru masuk sambil membawa troli makan untuk Becca pun terkejut, dia mengira kalau Becca dan Rio akan melakukan adegan yang cukup romantis.


"Ma-maaf, Tuan, Nyonya. Apa bila kedatangan saya kurang tepat, tapi dari tadi saya sudah mengetuk pintunya. Hanya saja, tidak ada jawaban. Saya kira pasien sedang tidur, makannya saya masuk dan tidak sengaja malah menggagalkan aksi Tuan dan Nyonya, sekali lagi maafkan saya!"


Suster itu berulang kali meminta maaf, dia tidak sengaja mengganggu adegan yang dia kira mereka berdua adalah suami-istri.


"Ti-tidak apa-apa, Sus. Masuklah, ka-kami juga tidak melakukan apa-apa kok," jawab Becca tersenyum kikuk, di ikuti oleh Rio.


Suster itu mengangguk kecil, lalu dia mendorong troli mendekati Becca dan menaruhnya tepat di atas meja kecil yang menyatu dengan bangkar. Setelah selesai, suster itu pun berpamitan.


"Selamat menikmati, Nyonya. Jangan lupa obatnya di minum setelah 5 sampai 10 menit setelah makan dan sekali lagi saya minta maaf jika sudah mengganggu kalian."


"Jika, nanti apa bila ingin melakukannya lagi. Jangan lupa untuk mengunci pintu terlebih dahulu, agar tidak ada satu pun orang yang tiba-tiba masuk seperti saya hihi ... Ya sudah, saya pamit permisi dulu. Selamat sore, Tuan, Nyonya!"


Ketika Becca ingin mencoba menjelaskan pada suster tersebut, sang suster sudah keburu pergi. Sehingga suster itu masih mengira kalau Becca dan Rio adalah suami istri. Sama seperti sejumlah orang yang melihat kemesraan atau kecocokan di antara merek berdua.


Becca dan Rio langsung menatap dengan tatapan kesal, di mana mereka malah menyalahkan satu sama lain atas kejadian yang berhasil membuat banyak orang menjadi salah paham.


Ketika peperangan akan terjadi, tiba-tiba saja terhenti saat seseorang menelepon Rio berulang kali membuat Becca hanya menghembuskan napas kasar, lalu memakan makanan sambil melirik kesal ke arah Rio.


.......


.......


.......


...***💜💜>Bersambung