Jangan Renggut Kebahagiaanku!

Jangan Renggut Kebahagiaanku!
Rasa Takut Naku


"Keluarin semua apa yang kamu rasakan, jangan di tahan. Om tahu ini semua menyakitkan, tapi kamu harus ingat. Kamu itu anak laki-laki, jadi apa pun ujian yang Tuhan berikan kamu harus kuat. Sebab, Mommymu hanya punya dirimu sebagai kekuatannya bukan kelemahannya!"


Nasihat itu membuat Naku malah semakin menangis di dalam pelukan Rio. Hanya Rio, orang yang bisa menyaksikan betapa hancurnya Naku saat dia baru saja menyaksikan perpisahan kedua orang tuanya.


Beberapa saat kemudian, Naku menyudahi semua itu dan menghapus air matanya secara kasar. Rio memberikan sapu tangannya, tetapi di tolak olehnya yang mengalihkan wajah sembabnya.


"Ma-maaf, aku terlalu cengeng untuk menjadi seorang laki-laki. Jadi, kalau Om mau ketawa. Silakan saja, dari pada di tahan!" seru Naku, masih berusaha menstabilkan isak tangis yang terdengar sesegukan.


Rio hanya tersenyum mengusap kepala Naku berulang kali, "Laki-laki sejati memang tidak boleh menangis, tetapi bukan berarti seorang laki-laki tidak bisa menangis!"


"Om juga kalau tidak tahu harus bagaimana lagi untuk menjalani ujian dari Tuhan, pasti akan menangis. Hanya saja, saat Om sudah selesai menangis. Om kembali bangkit dan tunjukkan pada dunia, kalau Om bisa melewati semua cobaan ini dengan baik-baik saja."


Naku melirik Rio,p matanya terlihat memerah habis menangis. Akan tetapi, rintikan air hujan yang mulai turun membuat Rio segera membawa Naku untuk berlari ke arah mobil.


"Cepat lari, Naku. Sebelum bajumu basah!" pekik Rio. Naku pun berlari bersama Rio, hanya saja Rio malah terjatuh dan membuat Naku berbalik.


"Astaga, Om Rio ngapain tiduran di situ. Mau cosplay jadi putri duyung, hahah ...." Naku meledek Rio yang terjatuh, bagaikan seseorang yang sedang tiduran.


"Hyaakk, dasar! Bukannya di tolongin malah di ledekin, benar-benar anak menyebalkan!" seru Rio, kembali bangun dan mengejar Naku.


"Huaaa, lari!" teriak Naku. Larinya benar-benar seencang kilat, kemudian dia masuk ke dalam mobil. Berselang beberapa detik, Rio pun masuk mobil dalam keadaan basah kuyup. Sementara Naku masih terkekeh saat mengingat wajah Rio yang begitu lucu ketika jatuh.


Rio berpura-pura untuk memasang wajah kesal, dan segera menggelitiki Naku persis seperti sedang mengajak Yola bercanda.


Tawa Naku pecah sambil mencoba menghindari tangan Rio. Hujan yang lebat tidak membuat mereka menyudahi aksinya, sampai terdengar suara petir yang cukup besar menggelegar, barulah mereka menghentikan tawanya.


Naku dari kecil memang sangat takut akan suara petir atau geluduk yang cukup keras, bahkan dia spontan memeluk Rio untuk melindungi tubuhnya dari kilat tersebut.


"Aaaa ... Mommy!" teriak Naku, berhasil membuat Becca yang ada di rumah menjadi khawatir. Gelas yang ada di genggamannya pun terjatuh pecah, saat dia mendengar suara petir yang sangat kencang.


"Na-naku? Di-dia 'kan takut sekali dengan petir, ba-bagaimana nasibnya di taman? Apakah dia akan menangis ketakutan? Tidak, aku tidak bisa diam begitu saja. Pokoknya aku harus menjemput, Naku!"


Becca langsung berlari mencari payung untuk dia gunakan menjemput anaknya. Tidak lupa asisten rumah tangga juga ikut mencarikannya, setelah ketemu Becca segera keluar rumah sambil memakai payung tersebut.


"Saya mau jemput Naku di taman, Pak. Ayo cepat buka pagarnya, saya tidak bisa lama-lama!" teriak Becca, hujan yang sangat deras membuat mereka berbicara harua menggunakan suara yang lebih keras.


"Jangan, Nyonya. Hujannya sangat lebat, petir juga sangat kencang, bagaimana kalau Nyonya nanti kesamber. Lebih baik Nyonya masuk saja, biar saya yang mencari Den Naku di taman!" titah security tersebut, wajahnya begitu khawatir.


"Tidak, Pak. Naku itu takut sama petir, pasti dia sedang menangis ketakutan, jadi saya tidak bisa berdiam diri di rumah sedangkan anak saya dalam bahaya!" seru Becca.


"Tapi-----"


Belum selesai security menjelaskan pada majikannya, Becca langsung keluar pagar dalam keadaan menangis. Akan tetapi, langkah Becca terhenti saat melihat mobil Rio berhenti di depan rumahnya.


Rio membuka kaca mobilnya sedikit dan berteriak agar Becca mendengar apa yang akan dia sampaikan, "Masuklah, Naku ada bersamaku!"


Becca melihat ke dalam mobil, Naku menutup kedua matanya sambil menangis dan memeluk lengan kiri Rio. Perlahan Becca menganggukan kepalanya, lalu dia masuk bersamaan pintu pagar yang terbuka lebar.


Rio kembali melajukan mobilnya memasuki rumah Becca, lalu menghentikannya setelah sampai di halaman rumah. Becca segera membuang payungnya, lalu memeluk Naku di dalam mobil dalam keadaan pintu terbuka lebar.


Disitu Becca berusaha keras untuk menenangkan anaknya. Rio hanya mengusap kepala Naku yang ada di pelukan Becca, untuk beberapa menit mereka pun turun dari mobil. Posisi Rio turun lebih dulu, lalu di susul oleh Becca yang di peluk oleh Naku dari arah samping.


Mereka masuk ke dalam rumah menuju ruang tengah, di sana Becca meminta asisten rumah tangganya membawakan 2 handuk bersih, lantaran pakaian mereka sedikit basah. Tidak lupa menyuruhnya membuatkan minuman hangat.


Naku tidak pernah lepas dari pelukan Becca, layaknya seorang anak kecil yang takut di tinggal pergi oleh Ibunya sendiri. Ya, inilah Naku. Dia mungkin terlihat dingin, kasar atau pun galak, bahkan cuek sekali pun. Akan tetapi, di balik sifat itu dia pun manusia biasa yang masih memiliki rasa takut akan sesuatu yang hampir semua orang miliki.


.......


.......


.......


...***💜💜>Bersambung