Jangan Renggut Kebahagiaanku!

Jangan Renggut Kebahagiaanku!
Ayang


Sayangnya, sentuhan cantik itu tidak mendarat cantik seperti yang di duga sebelumnya. Becca malah memberikan tanda cantik itu bukan menggunakan bibirnya, melainkan tangan mungilnya.


Maka, bisa di pastikan bukan. Rio melotot karena apa? Itu karena dia terkejut, dia kira Becca akan memberikannya. Hanya saja, dia salah menduga. Becca malah menampar kecil tepat di bibirnya.


Sakit sih, tidak. Hanya sedikit perih yang membuat Becca tertawa gemas ketika melihat Rio mengusap bibirnya.


"Ishh, kok di tabok sih. Jahat sekali, ayangku ini," ucap Rio cemberut.


"Dihh, dihh hahah ... Lagian nyebelin banget sih, udah akhh, jangan bercanda! Aku laper," jawab Becca, tertawa geli saat menyaksikan ekspresi wajah Rio yang sangat lucu.


"Ihh, ayang jahat. Sungguh, ayang tidak cinta sama aku lagikah? Padahal beberapa saat lalu, ayang bilang cinta sama aku. Terus----"


"Yang, yang, yang. Palamu peang! Dahlah, jangan sok romantis, Kak. Aku geli dengernya, kakak tuh enggak cocok begitu. Malah kesannya kaya anak kecil lagi pengen dimanja sama ibunya hahah ..."


"Hyaaak, bisa-bisanya aku di samain kaya anak keci!"


"Kakak juga gitu tadi sama aku, 'kan? Jadi, jangan marah kalau aku bales!"


"Hehe ... Ma-maafkan aku ayang, pis!"


Rio tertawa receh sambil jarinya membentuk huruf V, persis seperti Yola ketika dia sedang meminta maaf atas kesalahannya sendiri.


"Ihh, apaan sih kakak. Ayang, oyang, ayang mulu. Udah kaya anak ABG aja gayanya," sahut Yola, kesal. Beda, sama di dalam hatinya yang berbunga-bunga mendapatkan panggilan menggemaskan itu.


"Biarin aja, enak tahu lucu. Kaya ada manis-manisnya gitu, hehe ... Kalau kamu tidak percaya, cobain deh. Sekali aja panggil aku ayang, pasti ketagihan!" titah Rio, tersenyum.


"Ayang?" ucap Becca, dengan wajah polosnya.


"Nahkan, gimana?' tanya Rio, penasaran.


"Hem, biasa aja tuh. Enggak ada manisnya atau ketagihan," jawab Becca spontan.


"Iyakah, manis. Hem?" tanya Rio kembali, menaik-naikkan alisnya seraya menggoda Becca.


"Heeh, beneran ayang. Ngapain aku bohong," jawan Becca tanpa sadar.


"Nahkan, nahkan!" Rio membolakan matanya sambil tersenyum lebar.


"Apa?" tanya Becca, bingung.


"Coba ulangin lagi kata-kata kamunyang tadi!" titah Rio, penuh semangat.


"Ngapain aku bohon?"


"Bukan, yang sebelumnya coba!"


"Eee ... Beneran, ayang. Itu?"


"Nah iya, tadi nyebut aku apa?"


"Ayang? Ehhh!"


Becca langsung menutup mulutnya ketika dia batu menyadari kepolosannya yang cukup memalukan. Berulang kali dia menyebutkan kata 'Ayang' hanya untuk mengikuti apa yang Rio katakan.


Ternyata benar, apa yang dibilang Rio tidak main-main. Kata-kata 'Ayang' memang selalu terngiang-ngiang diingatan Becca, tanpa berhenti.


Melihat Rio tertawa membuat Becca harus menahan malu, meskipun wajahnya sudah mulai memerah. Akan tetapi, Becca berusaha menyudahi semuanya agar mereka hanya fokus pada makanannya.


Selesai makan, mereka berdiri sambil menikmati suasana yang sepi. Tiba-tiba, Rio berteriak sekencang mungkin yang membuat Becca terkejut dan langsung menoleh ke arah Rio.


"Aku sangat-sangat mencintaimu, Becca!" teriak Rio, kedua tangannya melingkah di dekat mulutnya sambil mendongak ke atas.


"Kakak, ishh ... Berisik!" ucap Becca, memukul paha Rio.


"Ini hutan, Ayang. Jadi jangan khawatir, tidak ada yang mendengar selain penghuni hutan hihi ...." ucap Rio, cengengesan.


"Ihh, dasar menyebalkan!" seru Becca, menyembunyikan wajah yang kembali memerah.


"Coba deh, sekali saja. Kamu keluarin semua unek-unek kamu selama ini, aku yakin pasti perasaanmu akan lega. Aku janji deh, aku akan menutup kuping supaya tidak mendengar semuanya. Serius!"


Becca sedikit bimbang, apa dia bisa mengeluarkan yang ada di dalam hatinya tanpa merasakan kesedihan. Karena, selama ini Becca selalu menangis saat sudah mengeluarkan unek-uneknya di malam hari dengan langit cerah.


Namun, tangan Rio yang menggenggam tangan Becca seakan mentransfer kekuatan super yang membuat Becca mengangguk penuh keyakinan. Kalau dia bisa jauh lebih baik saat semua unek-uneknya keluar begitu saja di hutan yang sepi.


Perlahan Becca menarik napasnya sambil menutup kedua mata, lalu menghembuskannya bersamaan dengan kedua matanya yang terbuka. Senyuman di bibir Becca mewakilkan keberanian yang membuat Rio terus menyemangatinya.


"Huhhh, aku pasti bisa! Anggaplah, ini adalah jalan utama menuju kebahagiaan. Jadi, kamu harus bisa mengeluarkan semua unek-unek agar langkahmu tidak sampai terhambat," ucap Becca di dalam hatinya.


Kedua tangan Becca mulai melingkar di sekitar mulutnya, kemudian memejamkan badannya mendongak ke atas.


"Selama ini aku sudah berusaha untuk mengabdi dan mencintai mantan suamiku dengan segenap hatiku yang paling dalam. Tapi, apa yang aku dapatkan? Perselingkuhan dan sakit hati? Apa itu bayaran yang pantas aku terima ketika aku telah memberikan semua jiwa ragaku padanya? Apa itu setimpal? Tidak!"


"Dia sudah berhasil mengahancurkan kebahagiaanku juga anaknya, sehingga kami harus kembali menjalani kehidupan mulai dari nol tanpa dirinya! Susah payah aku bangkit, meski rasanya berat. Berat banget!"


"Jika di bilang sakit? Ya, itu pasti sangat sakit. Hatiku hancur berkeping-keping tanpa tersisa sedikit pun. Seandainya, saat itu aku menyerah. Mungkin, anakku sudah menjadi pendendam yang luar biasa pada ayahnya sendiri. Maka, dari itu izinkan aku untuk membahagiakan anakku dan merawatnya sampai dia tumbuh menjadi anak yang sangat menyayangi keluarganya!"


"Aku lelah, Tuhan. Aku lelah! Bisakah aku kembali meminta bahagia untuk memiliki keluarga yang lengkap? Aku ingin merasakan kebahagiaan, di cintai oleh suami dan juga anak-anakku. Aku ingin semua itu terwujud!"


"Jadi, aku mohon. Berikan aku dan Kak Rio jalan agar kamu bisa hidup bersama tanpa halangan sedikit pun. Dengan begitu, semua rasa sakit yang aku rasakan selama ini perlahan bisa menghilang begitu saja. Aku mencintai, Kak Rio. Sangat-sangat mencintainya, aku ingin dia yang menjadi alasanku ubtuk bahagia dan dia yang bisa mendampingiku di masa tuaku. Aku mohon!"


"Hahh, hahh, hahh ...."


Becca menarik napasnya yang sedikit tidak beraturan akibat dia berteriak sekuat tenaga untuk menunpahkan semua harapan dan isi hatinya. Rio sendiri tidak menyangka, kalau harapan Becca yang terakhir ingin bersama dengannya.


"Minum dulu, kasihan. Pasti haus 'kan?" ucap Rio, memberikan segelas air pada Becca. Tanpa menolak, Becca langsung meminumnya sampai titik penghabisan.


Terlihat sekali, Becca terlalu ngos-ngosan untuk mengeluarkan semua yang mengganjal di dalam hatinya.


Setelah selesai melakukan semua itu, Becca menatap Rio sebentar. Dan, tiba-tiba dia langsung memeluknya sangat erat membuat Rio sedikit terkejut.


Namun, perlahan tangannya membalas pelukan dari Becca. Di situ Becca menangis penuh kebahagiaan, karena sudah berhasil menemukan pria yang sesuai dengan harapannya selama ini. Meski, dia belum tahu langkahnya tidak mudah. Setidaknya Becca tidak sendiri, dia akan terus bersama pria yang selama ini telah menjadi super hero. Sehingga, mereka yakin. Suatu saat nanti, batu yang keras itu akan terkikis secara perlahan.


Beribu-ribu kata terima kasih Becca ucapkan, dia juga mengutarakan kebahagiaannya setelah mengetahui bahwa mereka memang saling mencintai satu sama lain.


Hanya tinggal satu langkah lagi, mereka bisa bersama. Apakah kelak, langkahnya akan terhalang oleh restu Naku? Atau mereka akan tetap kekeh bersama demi mewujudkan cinta mereka, meski Naku tetap menolaknya.


.......


.......


.......


...💜💜>Bersambung<💜💜...