Jangan Renggut Kebahagiaanku!

Jangan Renggut Kebahagiaanku!
Bertemu Teman Lama


Jika di sisi lain Naku mencoba untuk berdamai dengan semua keadaan dan melepas semua beban impian yang selama ini dia pikul. Berbeda sama Becca, dia benar-benar tidak sabar untuk mengatakan semua itu pada Rio.


Sampai akhirnya, Becca duduk di atas ranjang sambil melakukan panggilan kepada Rio. Senyuman di bibirnya tidak pernah pudar, persis seperti seseorang yang sedang jatuh cinta pada pandangan pertama dan tidak terlihat seperti wanita yang sudah cukup umur.


Beberapa menit, Becca menunggu. Sayangnya, tidak sedikit pun ada tanda-tanda jika Rio akan mengangkatnya. Becca berpikir, mungkin Rio sudah tertidur akibat kelelahan jajan-jalan dengannya.


Sedikit sedih sih, tapi ya sudahlah. Tidak bisa di paksakan juga, Becca pun harus bisa mengontrol rasa bahagianya agar tidak berubah menjadi kesal ketika panggilannya tidak di angkat oleh Rio.


Setelah itu, Becca memutuskan untuk merebahkan tubuhnya karena rasanya kepala sudah mulai berat dan pusing. Akan tetapi, baru saja Becca menarik selimut serta memejamkan matanya ponselnya berdering. Ketika di lihat dari notifnya, Becca kembali bersemangat dan langsung duduk kembali ke posisi awal.


[Hallo, Ay. Ada apa telpon jam segini? Belum tidurkah? Bukannya ini sudah larut malam? Nanti kamu sakit loh.]


Baru kali ini Becca mendengar seorang Rio yang selama ini selalu memanggil dirinya dengan panggilan kesayangannya Eca bahkan Caca. Kini, berubah menjadi Ay.


Tidak berhenti di situ, dari nada bicara Rio pun seketika berubah drastis. Dia benar-benar memperlakukan Becca layaknya seorang pasangan, bukan lagi sahabat ataupun adik.


Hari ini Becca benar-benar tidak bisa habis pikir, keajaiban apa yang dia dapatkan malam ini. Kedua pria yang dia sayangi, sikapnya berubah total. Di mana tadi ada Naku dengan segala sifat barunya, dan sekarang ada Rio dengan segala kemanisannya.


Jika di bilang romantis sih, ini masih kurang. Hanya saja, ini sudah lebih dari cukup untuk Becca. Dikarenakan dia lebih suka di manja dengan sisi tidak berlebihan, tetapi tetap berhasil meluluhkan hatinya. Dari pada dengan semua gombalan juga kemanjaan yang berlebihan pada akhirnya menyakitkan.


[Ay, kamu dengar aku, 'kan? Kamu baik-baik aja di sana, 'kan? Kalau tidak, aku langsung meluncur ke rumah malam ini juga!]


[Akh, ya. Kenapa-kenapa, Kak? Ma-maaf, tadi sinyalku hilang. Ya, terus a-ada apa, Kak?]


Becca langsung tersadar dari lamunannya akibat masih syok, ketika mendapatkan perlakuan seperti itu dari Rio. Selama ini Becca tahu, Rio bukan tipe pria yang suka bersikap selembut ini. Dia cenderung lebih dewasa juga nada bicaranya tidak semanis itu.


[Kok aku, harusnya aku yang nanya. Ada apa malam-malam kamu telpon? Kenapa bukannya istirahat, katanya besok kamu ada urusan.]


[Hehe ... I-iya, sih. Tadinya udah mau tidur, tapi aku inget ada sesuatu yang harus aku omongin sama kakak.]


[Apa itu? Pentingkah? Jadi, harus malam ini banget di bicarakannya?]


[Penting, tapi kalau di pikir-pikir enggak enak ngomong lewat telpon. Gimana kalau besok siang kita ketemu? Kakak bisa?]


[Hem, harus besok banget ya?]


[Kenapa? Kakak ada urusankah?]


[Ada sih, aku harus ke luar kota untuk melakukan peninjauan hasil kerja di lapangan sama meeting. Cuman, kalau agak sorean atau malam gimana? Bisa? Atau, nanti aku ke rumah abis dari luar kota. Gimana?]


[Kalau begitu, lusa aja, Kak. Gimana? Bisa? Atau kakak ada meeting lagi? Atau kalau enggak kakak aja yang nentuin, aku ikut aja.]


[Beneran gapapa? Kalau lusa sih bisa, aku free. Nanti paling abis ngecek Perusahaan baru kita ketemu, gimana?]


[Ya, udah. Kalau itu yang terbaik, aku ikut aja. Nanti kakak kabarin aja jam berapanya atau gimana gitu. Aku takut lupa hehe ....]


[Ya, gapapa. Nanti biar aku yang jemput Yola pulang sekolah setelah urusanku selesai. Kakak enggak perlu khawatir, yang penting kakak harus hati-hati di jalannya. Bawa mobilnya jangan kebut-kebutan ya.]


[Siap, calon istriku yang cantik. Ya sudah, istirahat ya. Good night, nice a dream Baby. I love you more.]


[Go-good night to, Kak.]


[I love younya, mana?]


[ikhh, apaan sih. Udah tua juga masih aja tingkahnya kaya anak ABG, dasar!]


[Biarin aja, kalau enggak di jawab pasti nanti aku mimpi buruk. Terus enggak bisa tidur, abis itu mataku kaya panda hitam, belum lagi kalau kurang tidur aku bisa sakit, lalu badanku jadi kurus, jelek dan---]


[I love you to, Ayang! Dah, puas. Bye!]


Becca langsung menutup ponselnya sambil menutupi wajahnya yang begitu malu. Rasanya Becca ingin jerit sekuat tenaga untuk melepaskan rasa gugup di dalam hatinya.


Sama halnya seperti Rio, dia pin tertawa geli saat mendengar suara Becca yang malu-malu kucing. Hanya sedikit di berikan kode, Becca langsung lulu begitu saja. Walaupun, dia masih suka menggemaskan, tetapi Rio benar-benar mencintainya. Bahkan, berkali-kali lipat dengan cinta yang dahulu pernah tumbuh untuk Becca pertama kalinya.


Sudah saatnya Becca dan Rio istirahat di jam yang sudah menunjukkan pukul 1 malam. Keduanya tertidur dalam keadaan wajh yang sangat sumringah penuh kebahagiaan. Ya, meski masih ada keraguan di hati Rio tentang Naku. Akan tetapi, entah mengapa Rio merasa semua itu akan baik-baik saja jika dia selalu melibatkan Tuhan di setiap langkah baiknya.


...🌟🌟🌟🌟🌟...


Selang beberapa hari, akhirnya Becca dan Rio merencanakan pertemuan di sebuah tempat makan favorite mereka.


Ternyata, Becca sedikit terlambat akibat dia ada urusan mendadak akibat ada salah satu pelanggannya yang sedang mengoder pesanan kue ulang tahun cukup besar juga mewah. Sehingga Becca harus turun tangan untuk mengatasinya supaya pesanan tersebut bisa terwujud dengan sempurna sesuai keinginan pelanggannya.


Akhirnya, Rio datang lebih dulu ke tempat makan tersebut sambil menunggu Becca. Dia memesan kopi agar bisa membasahi tenggorokan yang terasa kering.


Di saat Rio sedang asyik memainkan ponselnya, tiba-tiba ada yang memanggilnya dari jarak cukup dekat. Rio segera menoleh dan menatapnya sambil mengingat-ingat tentang wajah asing orang itu.


Akan tetapi, Rio tidak mengingat semua itu. Dia malah terlihat plenga-plongo layaknya orang kebingungan. Bagaimana tidak bingung, Rio tidak mengenalinya, tetapi anehnya orang itu sangat mengetahui namanya.


Apa mungkin karena mereka jarang ketemu, jadi Rio sedikit lupa dengan wajah-wajah orang yang dulu sempat dia kenal. Tapi, semua itu tidak mungkin. Setua apapun umur Rio, dia masih mengingat betul siapa saja tentang semua temannya. Hanya orang ini yang sama sekali tidak Rio kenal.


.......


.......


.......


...💜💜>Bersambung<💜💜...