
"Mom, Dad, aku ke kamar sebelah ya, nemenin Naila kasihan dia ngurusin Juan sendirian. Nanti kalau ada apa-apa kabarin aja, Naku di sebelah."
Becca dan Rio mengangguk kecil sambil melihat Naku keluar dari kamar Yola ke kamar sebelah di mana Naila sedang tiduran di samping Juan sambil memainkan ponselnya.
"Oppa? Gimana kabar Yola, apa dia sudah bangun?" tanya Naila, langsung duduk menaruh ponsel di meja kecil.
"Belum, panasnya masih tinggi. Jadi, dokter habis berikan obat penurun panas tinggal lihat saja satu jam ke depan sekalian nunggu hasil LAB yang akan keluar. Udah kamu tidur aja sama Juan, aku yang jagain."
Naila menggelengkan kepala melihat Justin duduk di sampingnya sambil menatap ke arah Juan. Anak kecil itu benar-benar tertidur pulas ketika berada di dekat Naila tanpa rewel sedikit pun. Memang ajaib, padahal gadis itu sama sekali tidak memiliki pengalaman untuk mengurus anak. Hanya saja, dia punya adik kecil yang memang sangat dekat dengannya. Mungkin karena itu apa yang dilakukan pasti terasa nyaman untuk Juan.
"Tidurlah, pasti kamu capek. Setengah hari kita jalan cari buku, ditambah harus menggendong adikku. Pasti badanmu lelah. Nanti sore aku antar pulang biar Bunda gak terlalu khawatir," ucap Naku menatapnya.
"Tidak usah, Oppa. Nanti sore Bunda sama Ayah mau ke sini, biar aku pulang sama mereka setelah menjenguk Yola. Oppa tenang aja, Naila nginep di sini bobo nemenin Juan sama Oppa pun Naila siap kok, hihi ...."
Wajah Naku langsung memerah akibat mendengar jawaban dari gadis kesayangannya yang mulai nakal. Tanpa basa-basi, pria tersebut menyentul kening Naila dan membuatnya mengeluh kesakitan.
"Awsshh ... Oppa ishh, kejam banget sih, belum apa-apa udah KDRT dasar suami macam apa ini," sahut Naila kembali mendapatkan jeweran yang tidak biasanya Naku lakukan.
"Terusin aja, siapa yang ngajarin kamu ngomomg gitu? Masih kecil udah bilang suami-suami, belajar tuh, yang bener. Lama-lama aku minta dokter juga nih, buat cuci otakmu biar bersih!" jawab Naku, wajahnya terlihat kesal dan merah merona akibat rasa malu mulai menyelimuti hatinya.
"Isshh, lepasin, Oppa. Sakit tahu, awshh ... Aaa, udah, Oppa, udah. Astaga malah diterusin, sakit loh, sakit!" pekik Naila membuat kedua mata Becca dan Rio membelalak.
Tanpa berlama-lama mereka langsung berlari ke kamar sebelah ketika mendengar suara yang berhasil menjebak pikiran keduanya.
"Apa yang kalian lakukan berdua di kamar?" tanya Becca khawatir. Namun, setelah melihat Naku dan Naila dalam posisi aman dia langsung menoleh ke arah sang suami yang juga terkejut.
"Huhh, syukurlah. Untung dugaan kita salah, Ay. Aku sampai berpikir terlalu jauh," ucap Rio dengan suara kecil.
"Aku pun sama, By. Tapi, beruntunglah mereka baik-baik saja. Kalau sampai itu terjadi aku langsung geret Naku dan menghukumnya seharian berendam di bak kamar mandi biar kapok gak asal masukin tongkat," jawab Becca diangguki oleh suaminya.
Meskipun, suara mereka seperti orang berbisik. Naku dan Naila tetap dapat mendengar sedikit samar. Naku menyudahi aksinya ketika mereka masuk ke kamar secara tiba-tiba, padahal pintu kamar saja terbuka lebar mana mungkin keduanya melakukan adegan yang sama sekali mereka tidak terpikiran diusia seperti itu.
Maklum saja, Becca dan Rio sangat takut apabila anak-anak mereka melakukan hal yang buruk hingga membuat nama keluarga tercoreng.
"Apa maksud Mommy dan Daddy ngomong begitu? Emang kalian pikir kami ngapain?" tanya Naku, berhasil mengalihkan tatapan orang tuanya untuk menatap dirinya.
"E,ehh heheh ... E-enggak kok, Sayang. Itu tadi, kami kita kamu ingin menyakiti Naila makanya langsung ke sini. Ternyata benar, kamu malah jewer telinganya. Ada apa sih, kenapa, hem? Kok, bisa kamu jewer Naila. Apa salah dia? Coba ngomong, jangan sampai menantuku lecet karena tanganmu. Awas aja!"
Sebisa mungkin Becca mengalihkan pikiran mereka untuk tetap fokus pada permasalahan, bukan sama pemikirkan kedua orang tua yang sangat meleset.
"I-itu, Mom. Oppa jewer Naila cuma gara-gara bilang suami, padahal memang bener 'kan, nanti juga Oppa itu bakalan jadi suami Naila. Terus kenapa dia marah dan jewer Yola, ishh ... Parah, belum sah jadi suami masa udah KDRT. Kalau begini mah, Naila gak jadi deh, jadi istri Oppa. Naila mau cari suami baru aja nanti yang baik, tampan, kaya, lembut, gak jahat, gak nyebelin, gak resek, pokoknya yang sayang banget sama Naila. Gak kaya Oppa, wleep!"
"Nah, kalau udah begini Mommy sama Daddy tidak ikut campur. Mending kita balik ke kamar Yola ayo, Dad. Biarin aja Naku urus sendiri masalahnya, siapa suruh cari gara---"
"Aaa ... Mommy, Daddy! Anaknya lagi kena masalah bukannya dibantu, ini malah lepas tangan. Bagian tadi aja, sok ikut campur. Udah begini kabur, ngeselin banget sih!"
Naku memekik keras diserta rasa kesal dan marah. Tanpa disadari Naila malah tertawa di dalam hati, apalagi melihat aksi Becca yang sangat random menggoda sang anak.
"EGP. Emangnya Gue Pikirin, hahah ...." Becca langsung kabur menarik sang suami ke kamar Yola membuat Naku benar-benar kesal.
"Aaaa ... Dasar orang tua menyebalkan! Awas aja kalau akau gak sampai nikah sama Naila, aku akan boom semua pendeta!" teriak Naku berhasil membuat Becca dan Rio tertawa di dalam kamar Yola.
Sementara Naila, tertawa kecil untuk beberapa detik dan kembali menunjukkan wajah datarnya ketika Naku menoleh ke arahnya.
"Jangan marah, aku cuma bercanda. Lagian aku mau jadi suamimu, aku janji akan berubah, tapi nanti ya. Aku cicil dikit-dikit berubahnya sampai aku lulus kuliah dan punya pekerjaan. Please ... Jangan marah dong, iya, iya, maaf deh, maaf. Aku gak lagi-lagi kaya gitu, aku janji. Tapi, jangan cari lagi ya, tunggu aku sukses nanti. Oke?"
Wajah Naku terlihat cemas saat Naila membuang muka ke samping tanpa ingin menatapnya. Sebenarnya Naila bukan marah, melainkan menahan tawa ketika tidak kuat melihat wajah lucu pria yang ada di sampingnya ini.
"Nunggu sukses, mau sampai kapan? Sampai aku nudah jadi enek-nenek tapi, pera*wan tua gitu? Malas banget, mending cari Oppa lain. Percuma nungguin lama-lama nyatanya sia-sia, lebih baik cari yang pasti aja udah!"
Naila menjawab perkataan Naku dengan nada cuek, nyatanya di balik itu semua dia sudah tidak kuat menahan tawanya ketika harus mengerjai Naku separah inj.
"Ckk, ya, udah, iya. Habis lulus sekolahmu kita nikah, puas!"
Degh!
Sungguh, jawaban yang keluar dari mulut Naku berhasil membuat Becca dan Rio yang mendengarnya merasa terkejut atas keputusan yang diambil oleh anak pertamanya. Di luar ekspetasi Naila, jika orang yang dia sayang ternyata memang memiliki tekad kuat untuk menjadikannya istri.
Akan tetapi, anehnya. Naku tidak ingin memiliki hubungan apa pun dengan Naila layaknya sepasang kekasih, tetapi saat Naila ingin menjadi pria lain dia malah bertekad untuk menikahinya tanpa berpikir panjang.
Ya, memang itulah Naku. Dia tidak ingin banyak basa-basi menunjukkan perasaan yang nanti akan terikat janji, tetapi dia tetap memperlihatkan perasaan memalui bukti yang tidak semua orang lakukan demi menjaga perasaan satu sama lain untuk tidak menyakiti.
.......
.......
.......
...💜💜>Bersambung<💜💜...