Jangan Renggut Kebahagiaanku!

Jangan Renggut Kebahagiaanku!
Terkilir


Seseorang yang berhasil menabrak Yola langsung segera menolongnya, dia berjongkok dalam keadaan sedikit panik juga bingung. Tidak lupa kata-kata maaf selalu dia ucapkan sampai Yola ingin memaafkan atas kecerobohan yang dia lakukan, sampai-sampai Yola bisa terjatuh seperti saat ini.


"Awsshh ... Aduh, sakit banget!" keluh Yola sambil memegangi kakinya yang sedikit tergelincir.


"Ma-maafkan aku, Nona. Aku tidak sengaja, aku lagi buru-buru. Sekali lagi maafkan aku, sini aku bantu!" titah orang tersebut yang sudah menjulurkan tangannya dalam posisi Yola masih membelakanginya.


"Gak usah, makasih! Lain kali kalau kalau lari itu liat ke depan bukan kebelakang. Pa ... ham?" Yola sedikit menjeda perkataan lantaran saat menoleh, kedua mata Yola membelalak melihat siapa orang yang sudah menabrak tubuh mungilnya.


Orang itu mulai menunduk tanpa melihat ke arah wajah Yola, dia merasa sangat bersalah karena sudah membuat seorang gadis kecil terjatuh. "Ya, aku paham, Nona. Sekali lagi maafkan sa ... ya." Dia terkejut ketika mengangkat wajahnya langsung berhadapan dengan Yola.


"Ka-kamu?"


"Kakak?"


Yola dan seorang pria spontans menunjukkan jari telunjuk tangan kanan kedepan wajah masing-masing. Mereka tidak menyangka kalau Yola dan pria itu ternyata saling mengenal satu sama lain.


"Kamu Yola, 'kan? Gadis kecil yang pernah aku tolong pas main capit boneka." Pria itu masih sedikit menerka-nerka karena dia harus meyakini kembali apakah itu benar gadis yang dia kenali atau bukan.


"Ya, benar, Kak. Aku Yola yang pernah kakak tolong waktu itu. Ohya nama kakak itu, hem, aduh ... a-aku lupa lagi, siapa sih?" Yola mencoba kembali mengingat nama pria yang kini masih setia berjongkok dihadapannya.


"Aku, Joey. Apa kamu ingat?" tanya Joey, tersenyum.


"Nah, iya, itu, Kak Joey hehe ... ma-maaf aku lupa," jawan Yola cengengesan ketika merasa malu terhadap Joey, karena sudah melupakan jasanya yang sudah pernah menolong Yola sampai membuat Naku menjadi cemburu.


"Tidak apa-apa, harusnya aku yang minta maaf soalnya sudah nabrak kamu. Ayo, sini aku bantu!" Joey menjulurkan tangannya kembali yang langsung disambut hangat oleh tangan Yola.


Perlahan Yola bangkit dari lantai untuk berdiri dengan bantuan Joey disisinya. Sedikit meringis, tetapi Yola tetap berusaha kuat. Sampai seseorang datang untuk menghampiri mereka berdua dalam keadaan kelelahan juga panik.


"Hahh, hahh ... aduh, Den Joey. Sus, capek tahu ngejarnya. Sudah Sus bilang 'kan, Den Joey tidak boleh lari-lari, nanti sakit lagi. Den tidak boleh kecapean, ingat pesan dok---"


"Aku gapapa, Sus. Maaf kalau udah buat Sus kecapean, Joey cuman kebelet aja jadi lari-lari. Ehh ... malah nabrak Yola, terus kakinya kaya terkilir gitu."


Perawat Joey langsung melihat gadis kecil yang sedang berdiri di samping anak majikannya dalam posisi wajah menatap bingung ke arah perawat tersebut. Yola hanya tidak percaya, pria yang berusia jauh diatas dia masih harus menggunakan perawat atau babysitter. Sementara Yola, tidak lagi menggunakan perawat karena sekarang sudah memiliki Becca yang akan selalu mengurusi dan memperhatikan Yola.


Perawat Joey langsung mengambil alih Yola, lalu menuntunnya secara perlahan untuk mencari tempat duduk. Setelah itu, dia mendudukan Yola di kursi panjang khusus untuk orang-orang beristirahat. Kemudian perawat itu berjongkok dihadapan Yola, memegang salah satu yang terkilir.


Perlahan perawat tersebut mulai mengurut kaki Yola untuk mengurangi rasa sakit, meskipun dia bukan tukang pijit. Akan tetapi perawat Joey cukup tahu tentang urat-urat yang cedera, terkilir atau keseleo. Hanya patah tulang yang bukan ahlinya.


"A-awssh ... sa-sakit, Sus. Aduh ... a-awsshh!" Yola meringis kesakitan ketika kakinya sudah mulai di urut.


"Tahan ya, Non. Sedikit lagi kok, ini hanya terkilir biasa jadi setelah di urut semoga bisa lebih membaik." Sus tersenyum mendongak melihat wajah Yola sedang menahan rasa sakit.


"Sabar ya, percayakan sama Sus Rini. Dia ahlinya kok, kalau aku keseleo juga Sus Rini yang selalu menolongku. Setelah di urut pakai tangan ajaibnya pasti langsung sembuh."


Perkataan Joey langsung diangguki oleh Yola, serta membuat Sus Rini sedikit tersenyum melihat anak majikannya selalu memuji tentang kebaikan kecil yang dia berikan.


Hanya butuh waktu 5 menit saja Sus Rini sudah selesai memijit kaki Yola, kemudian meminta Yola untuk berdiri supaya bisa menggerakan kakinya sendiri. Mengetahui bahwa kaki yang terkilir sudah jauh lebih baik, Yola tertawa senang dan langsung memeluk Sus Rini sambil mengucapkan terima kasih.


Ya, walaupum Yola belum bisa kembali berlari. Dia tetap merasa senang, dikarenakan kaki yang baru selesai diurut masih butuh proses. Kemungkinan besok kaki Yola sudah bisa digerakkan dengan leluasa seperti sebelumnya.


Yola kembali duduk di samping Joey. Dia tersenyum melihat tangan ajaib Sus Rini memang tidak diragukan lagi. Andaikan tangan ajaib itu bisa menyembuhkan penyakit didalam tubuh, kemungkinan saat ini Joey tidak lagi memerlukan perawat seperti anak kecil yang dititipkan penuh oleh kedua orang tua untuk mempercayakan pada pengasuhnya.


"Yola, Sus. Namaku Yola, salam kenal Sus Rini." Senyuman kecil Yola berikan membut Sus Rini juga ikut membalasnya.


"Oalah, Non Yola. Ya, sudah. Susu ke kamar mandi dulu ya, kalau ada apa-apa Den Joey telepon Sus, ingat! Jangan ke mana-mana, kalau Den Joey hilang Sus Rini bisa-bisa di penjarakan sama Tuan dan Nyonya."


"Ya, Sus. Tenang aja, kalau nanti aku mau ke mana-mana pasti ngabarin, Sus. Ya, sudah sana pergilah! Jangan di tahan, nanti jadi penyakit."


Sus Rini menganggukkan kepalanya, lalu berpamitan sama Yola dan Joey. Kemudian dia berjalan ke arah kiri untuk mencari toilet yang berada di ujung, maklum sana Sus Rini sudah terlalu sering pergi ke Mall. Sehingga dia pasti hapal dengan telat toilet yang ada di setiap Mall.


Selepas perginya Sus Rini, Yola ingin kembali berdiri untuk membeli minum lantara haus. Akan tetapi, Joey malah menahannya dan tidak membiarkan Yola untuk banyak bergerak.


"Mau ke mana? Kakimu baru di urut, jadi enggak boleh banyak gerak untuk beberapa menit kedepan supaya uratmu yang terkilir tidak kembali keposisi terjepit."


"Aku haus, Kak. Tadi 'kan niatku mau beli minum, ehh ... malah di tabrak orang ganteng jadi tambah haus aja ini tenggorokan haha ...."


Yola tertawa saat melihat Joey sedikit terkejut, anak seusia Yola sudah bisa menggombal bagaikan anak dewasa. Wajah kemerahan mulai menghiasi Joey mmebuat Yola terus menggodanya.


"Cie, ciee ... ada yang merah mukanya nih, hihi ...." Yola terus tertawa sebab dia sangat senang menggoda seseorang yang mudah merasa malu.


"Ishh .. dasar centil! Udah diem di sini, aku mau beliin minum dulu. Mau minum apa?" tanya Joey menahan rasa malu di pipinya.


"Aku mau boba, Kak."


"Rasa?"


"Hem, sugar daddy."


"Ehhh ... Mulutnya minta di tabok ya!"


"Hihi ... canda, Kak. Maksudnya brown sugar gitulah."


"Ckk ... Ya udah, tunggu di sini jangan ke mana-mana. Awas aja kalau turun dari kursi, aku langsung gendong kamu ke mana pun kamu pergi. Ngerti?


"Aaakhh ... Mau dong di gendong hahah ...."


"Hyaakk ... dasar centil!"


"Hahaha ...."


Yola tertawa puas ketika melihat Joey sudah berlari untuk membelikan minuman akibat salah tingkah. Entah sifat siapa yang Yola turunin, sehingga dia bisa menjadi anak semenggemaskan ini. Sifat jahilnya benar-benar meresahkan.


.......


.......


.......


...💜💜>Bersambung<💜💜...