
Baru saja Yola melangkah ingin meninggalkan taman, dari arah belakang terdengar suara yang sangat dia kenali.
"Yola!" teriak seseorang menghentikan langkah mereka. Yola langsung berbalik dan perlahan terjatuh pingsan.
Ternyata tanpa di sadari di lapisan permen tersebut, telah di taburi sesuatu sehingga Yola langsung tidak sadarkan diri.
Sang Nenek yang mulai panik, bergegas ingin menggendong Yola, tetapi keburu orang tersebut sampai dan tanpa basa-basi lagi langsung memarahinya.
"Hei! Kau apakan adikku, hahh? Dasar penculik!"
"Tolong, ada penculik!"
"Dia ingin menculik adikku, tolong, tolong, tolong!"
Suara teriakan begitu tegas menggema di taman, tidak ada satu pun yang ingin membantunya. Keadaan taman begitu sepi, sang Nenek yang sudah ketakutan pergi begitu saja. Sementara orang itu bergegas menggendong Yola.
"Bertahanlah, Yola! Kakak di sini, Kakak akan membawamu pulang dan kita akan ke rumah sakit!" ucap orang itu, yang tidak lain adalah Naku.
Ya, Naku. Dia melawan rasa egois pada dirinya sendiri ketika rasa khawatir terus menghantuinya. Ternyata memang benar, Yola hampir saja di culik oleh seseorang yang tidak di kenal.
Anehnya, Yola malah tidak merasa takut dan dia mengikuti apa yang di katakan oleh penculik itu. Dari situ, Naku segera menggagalkan aksi penculikan itu. Apa pun yang terjadi pada dirinya, Naku tidak peduli. Asalkan Yola tidak sampai di bawa pergi bersama orang yang tidak jelas asal-usulnya.
Sesampainya di rumah, Naku berteriak sekeras mungkin untuk memanggil Rio dan Becca agar mereka bisa secepatnya ke rumah sakit, supaya Yola bisa segera di tangani.
"Mommy, Om Rio! Cepatlah turun!"
"Kita harus ke rumah sakit! Yola tidak sadarkan diri!"
"Mommy, Om Rio! Cepatlah, jangan sampai kita terlambat menyelamatkan Yola!"
Suara teriakan itu langsung menggema di seluruh ruangan. Semua orang menjadi panik ketika Naku menggendong Yola. Apa lagi Babysitter Yola langsung mengkhawatirkan kondisinya, serta menanyakan apa yang terjadi.
Naku hanya sekedar mengatakan bila Yola hampir saja di culik, dan suara itu terdengar oleh Rio serta Becca. Mereka bergegas turun dari atas, dalam keadaan Becca yang masih kurang sehat. Akan tetapi, Becca memaksakan semua itu demi rasa paniknya saat mengetahui Yola pingsan.
"Yola!" pekik Rio, mengambil alih Yola dari gendongan Naku.
"Apa apa ini, Naku? Katakan sama Om, kenapa Yola seperti ini!" seru Rio, wajahnya terlihat begitu panik dan juga bingung.
"Astaga, Yola! Dia kenapa, Kak?" tanya Becca menatap Yola yang ada di pelukan Riom
"Kenapa Yola bisa sampai bisa seperti ini, Naku? Katakan pada Mommy apa yang terjadi sama kalian!" ucap Becca, kembali. Wajahnya terlihat begitu menyudutkan anaknya sendiri sambil menangis.
"Kita bawa Yola ke rumah sakit, nanti akan aku ceritakan semuanya!" titah Naku.
Tanpa basa-basi mereka pun ke rumah sakit, di mana Becca kekeh untuk tetap ikut. Dia tidak ingin berada di rumah, di saat pikirannya selalu mengkhawatirkan keadaan Yola.
Rio mengemudikan mobilnya sangat cepat, sesekali matanya melirik ke arah Becca yang memangku Yola. Lalu, menatap ke arah Naku sekilas dan kembali pada laju mobilnya.
Sesampainya di rumah sakit, Yola segera di bawa ke ruangan UGD beserta permen yang ada di tangan Naku.
Di saat pintu tertutup, semuanya pun duduk di kursi panjang sejajar sambil kembali menanyakan apa yang telah terjadi pada Yola.
"Bagaimana Yola bisa seperti ini, Naku? Apa yang sudah kamu lakukan padanya? Sejak kapan Mommy mengajarimu untuk menyakiti orang, hahh!"
Becca menangis dalam keadaan marah, panik semua bercampur di dalam isi kepalanya. Rio yang tadinya juga ingin menyalahkan Naku, seketika dia mulai mencoba mengontrol emosinya dan menarik napasnya perlahan.
"Jangan menyusutkan anakmu seperti itu, Becca! Ini tidak sepenuhnya salah Naku. Pasti ada sesuatu di balik semua ini, jadi bisakah kamu jelaskan semuanya pada Om? Bagaimana cerita sesungguhnya?" ucap Rio, menggunakan suara yang lembut.
"Tidak, Om. Apa yang di katakan Mommy benar, semua ini salahku! Aku yang jahat, aku yang sudah menyakiti Yola!"
"Jika aku tidak membentaknya, mungkin Yola tidak akan menjadi seperti ini. Naku, minta maaf sudah kembali membuat kesalahan. Naku hanya tidak ingin, Yola terus meminta agar Mommy nikah sama Om Rio. Naku tidak setuju, bagi Naku Daddy tidak bisa tergantikan!"
Dari penjelasan yang Naku katakan, membuat Becca dan Rio perlahan mulai mengerti. Konflik permasalahan memang masih pada tema yang sama, sampai akhirnya Naku kembali menceritakan kejadian yang dia lihat di taman.
Setelah menceritakan semua itu, Becca hanya menangis. Dia tidak bisa membayangkan, apa bila Naku tidak ada pasti saat ini mereka semua sudah kehilangan Yola untuk selamanya. Entah, kapan Yola akan di temukan. Setidaknya mereka sedikit lega karena penculikan itu bisa di gagalkan oleh Naku.
Rio, tersenyum dan mengucapkan banyak-banyak terimakasih. Bagi Rio, meskipun Naku bersalah. Dia tetap bertanggung jawab untuk melindungi Yola, walau posisinya Naku masih sangat marah padanya.
Naku merasa aneh, karena di sini hanya Becca yang memarahinya. Sementara Rio, selaku orang tua kandung Yola malah tidak marah sama sekali. Dia terlihat tenang, serta bersyukur karena Naku anaknya bisa selamat.
"Kenapa Om tidak marah? Ini semua salahku, jadi marahi aku. Atau kalu perlu hukum aku, aku siap!" seru Naku, wajahnya terlihat begitu serius.
"Tidak, buat apa Om marah? Apa yang di lakukan kamu dan Yola memang tidak bisa Om benarkan. Akan tetapi, Om bisa tahu di balik marahmu, kamu masih tetap peduli pada Yola. Sementara Yola yang masih sangat kecil, dia belum bisa berpikir jernih. Mungkin dia begini karena dia menganggap kalau kita tidak ada yang sayang lagi sama dia. Baginya, jika dia meminta sesuatu lalu tidak di turuti itu artinya orang tersebut sudah tidak sayang lagi. Itulah kesalahan, Om. Om selalu memanjakannya, sehingga dia memiliki pemikiran yang begitu pendek."
Rio duduk sambil membungkukkan punggungnya lalu memainkan kedua tangannya. Wajahnya terlihat begitu sedih, ketika dia melakukan kesalahan telah memanjakan anaknya meski tidak setiap saat.
"Sudahlah, jangan menyalahkan diri kalian sendiri. Ini sudah bagian dari takdir-Nya, kita doakan saja semoga Yola baik-baik saja dan tidak ada sesuatu yang terjadi padanya. Setidaknya Yola masih bersama kita, dan ini bisa kita jadikan pelajaran agar kita ke depannya bisa bersikap lebih baik lagi kepada Yola yang belum tahu apa-apa."
Becca mencoba menenangkan semuanya yang tiba-tiba saling menyalahkan satu sama lain atas kondisi Yola. Jika begitu adanya, maka semuanya pun ikut salah. Tidak ada satuorang yang benar, tetapi Becca mencoba memposisikan perasaannya pada Yola. Dia masih belum mengerti apa-apa. Jadi wajar saja, apa bila dia melakukan sesuatu di luar dugaan semua orang.
.......
.......
.......
...***💜💜>Bersambung