Jangan Renggut Kebahagiaanku!

Jangan Renggut Kebahagiaanku!
Salam Kenal, Kak!


"Hai, ada apa denganmu Nona? Kok wajahnya terlihat sedih?" ucap seseorang, berjongkok di hadapan Yola. menatap ke arah Yola yang sedang duduk di lantai, dalam keadaan tidak semangat.


Yola menoleh menatap orang tersebut, dahinya mulai berkerut lantaran Yola tidak mengenai siapa oramg yang saat ini ada di hadapannya.


"Siapa kau? Mau ngapain ke sini, hahh? Mau meledekku, iya!" tanya Yola penuh penekanan. Orang tersebut sudah bisa membaca dari sorot mata Yola, jika dia memiliki masalah.


Bagaimana tidak, Yola sudah menghabiskan segitu banyaknya isi saldo yang ada di kartunya hanya demi mendapatkan 1 boneka impiannya.


Jika di pikir-pikir, dengan harga segitu Yola sudah bisa membelinya langsung dari toko. Bahkan boneka yang lebih besar berkali-kali lipat tanpa harus melewati proses yang sulit ini.


Namun, apa daya. Bagi Yola bukan tentang harga dari boneka, melainkan usaha yang akan dihasilkan ketika dia berjuang untuk mendapatkan apa yang dia inginkan tanpa menggunakan cara yang salah.


Ini adalah permainan pertama yang cukup sulit Yola taklukkan. Apa lagi butuh proses kesabaran yang amat panjang, tahu sendiri semakin ke sini kesabaran Yola semakin setipis tisu yang dibelah dua.


Terkadang Yola berusaha untuk bisa mengerti, sabar dan terkadang emosinya juga bisa meledak-ledak layaknya betasan kretek, jika Yola tidak bisa mengendalikannya.


"Aku?" ucap seseorang sambil menunjuk dirinya sendiri.


"Ya, iyalah kau. Siapa lagi coba, masa iya pembantumu! Udah tahu di sini cuman ada kita, bukan pembantumu!" jawab Yola, kesal.


"Kalau kamu mau tahu pembantuku. Ayo aku kenalkan, tapi dia tidak pernah ikut aku ke mana-mana. Selalu di rumah mengurus dapur, sedangkan yang bersamaku itu perawatku. Tuh, dia ada di sana. Kamu mau kenalan?"


Orang itu langsung menunjuk ke arah belakang, di mana mata Yola langsung menangkap seorang wanita yang sedang tersenyum ke arahnya. Sesekali memainkan ponselnya, untuk memberikan kabar tentang kegiatan anak asuhnya kepada sang majikan.


"Yakkk ... Apaan sih! Gaje deh," sahut Yola.


"Loh katanya tadi---"


"Sssttt, berisik! Udah sana pergi, ngapain juga di sini!"


"Dih, malah ngusir. Dasar gadis aneh! Padahal niatnya mau nolongin, eh malah begini reaksinya. Dahlah, bye!"


Orang itu langsung berdiri di hadapan Yola, kemudian berbalik. Ketika kakinya ingin melangkah, Yola langsung bangkit berdiri kemudian menghentikan langkahnya.


"Tu-tunggu! Ja-jadi, Kakak beneran mau nolongin aku?" tanya Yola, membuat orang itu segera berbalik menatapnya.


"Tadinya, tapi sekarang udah enggak minat. Malas juga ngurusin orang yang sombong, di tanya baik-baik malah ngomel-ngomel. Bye!" jawabnya, langsung berbalik lalu berjalan beberapa langkah meninggalkan Yola.


Rasa bersalah membuat Yola segera menahannya, dia berlari lalu merangkul tangannya sambil menunjukkan wajah sedihnya.


"Ma-maafkan aku, Kakak. Tu-tunggu, jangan pergi! A-aku tadi kebawa emosi saja, soalnya dari tadi aku selalu kalah,"


Pria itu berhenti, lalu menoleh ke arah Yola yang sedang mengemis padanya untuk minta maaf karena sudah memarahinya.


"Namanya jug permainan, menang kalah itu sudah biasa. Jika kamu nerasa lelah, masih banyak mainan lainnya kok. Tidak harus fokus pada satu permainan. Jadi, kamu tidak akan merasa kecewa hanya karena masalah sepele."


"Ma-maafkan aku, Kak. Ma-maaf ya, please ... Jangan marah dong!"


"Aku tidak marah, hanya kesal saja. Habisnya aku datang baik-baik, malah kamunya begitu."


"Ya, aku 'kan udah minta maaf tadi, Kak. Ingat loh, kalau kakak tidak mau maafkan itu dosa yerus masuk neraka. Mau?"


"Pintar sekali merayu seseorang ya?"


"Hehe ... Ya-ya maaf, ayolah jangan marah. Katanya tadi kakak mau nolongin aku, jadi tolonginlah ya. Please!"


"Ayolah, kakak orang baik bukan? Jadi, sudah pasti akan menolongku. Lagian kalau menolong seseorang itu dapat pahala loh, masa kakak enggak mau sih?"


"Hem, yayaya. Baiklah, aku akan menolongmu. Ada satu syarat!"


"Apa?"


"Jangan marah-marah lagi, kalau sewaktu-waktu kamu kalah dalam permainan. Setuju?"


"Oke, setuju. Asalkan Kakak bisa membantuku,"


Yola tersenyum lebar sambil bergelayut di lengan seseorang yang belum dia kenal. Matanya berkedip beberapa kali untuk menggodanya.


"Ya, ya. Aku akan bantu, terus sekarang apa yang harus aku bantu?"


Yola menariknya untuk berbalik, lalu tangannya menunjuk ke arah mesin pencabit boneka, "Aku mau boneka itu, boleh bantu aku?"


Pria tersebut menganggukan kepalanya perlahan, "Itu soal gampang, terus hadiah apa yang aku dapat jika aku bisa mengambil boneka itu?"


Yola berpikir sejenak untuk menemukan jawabannya, tetapi dia tidak menemukanya. Maka dari itu, Yola menyerahkan semua padanya.


"Apa ya? Aku bingung. Gimana kalau misalkan Kakak berhasil mengambilkan 1 boneka, Kakak boleh minta satu permintaan padaku. Aku janji, aku akan mengabulkannya. Suer!


"Apapun itu?" tanyanya meyakinkan.


"Ya, apapun itu, Kak!" jawab Yola penuh penekanan.


"Tanpa terkecuali?" tanyanya kembali.


"Ya, astaga! Kakak enggak percaya banget sih," ucap Yola sedikit kesal.


"Oke, baiklah. Aku akan menolongmu!"


"Yes, makasih Kakak baik. Ohya, nama Kakak siapa?"


"Aku, Joey. Kamu?"


"Aku, Yola. Salam kenal, Kakak."


"Salam kenal juga, ya sudah ayo kita ambil bonekanya!"


"Let's go!"


Yola terlihat begitu bahagia ketika ada seseorang yang hadir untuk membantunya mewujudkan keinginannya. Sementara mata Yola menatap kesal ke arah Naku yang masih asyik. Sesekali melihat ke arah Rio, yang lagi seru bercanda dengan Becca membuat Yola enggan untuk mengganggunya.


Mungkin, kedekatan yang perlahan di mulai akan membawa pengaruh baik untuk Yola. Jadi, Yola hanya bisa berharap semoga Rio dan Becca akan menjadi keluarga yang utuh.


.......


.......


.......


...💜💜>Bersambung<💜💜...