
Naku msih berdiri di tempat menyaksikan Yola digendong oleh Rio, dan kembali diturunkan secara perlahan. Kemudian, Yola mengajak Rio untuk segera menemui Becca yang masih dalam keadaan tertidur.
Rio beserta kedua orang tua Joey mulai mengikuti Yola pergi ke kamar Becca, meninggalkan Naku dan Joey yang masih ada di ruang depan.
Perlahan Joey mendekati Naku dalam keadaan tersenyum, "Kak, duduk dulu, yuk!" Satu kalimat perintah itu, mampu membuat Naku menoleh ke arahnya dengan wajah yang sangat datar.
"Tidak perlu sok, baik denganku!" ucap Naku penuh penekanan.
"Sudahlah, duduk dulu biar Kakak tenang. Aku tidak mau emosi Kakak ini kembali melukai perasaan mereka," jawab Joey, sedikit memaksa Naku supaya duduk.
"Ck! Gua bisa sendiri!" seru Naku menjauhi tubuh Joey dan duduk dalam keadaan emosi.
"Kalau Kakak lagi emosi sebaiknya, Kakak duduk dulu sampai emosi Kakak mulai mere---"
"Jangan pernah ngatur hidup gue, paham lu!" potong Naku, tatapan matanya sangat tajam hinga benar-benar menusuk ke jantung Joey.
Namun, Joey tetap menghadapi Naku dengan penuh senyuman, dan kesabaran hatinya. Meskipun, Joey merasa takut akan tatapan tersebut, tetapi dia tetap berusaha untuk tidak menunjukkannya karena takut Naku akan semakin merasa sombong.
"Aku paham kalau Kakak tidak pernah menyukai keberadaanku di dekat Yola, tapi aku bisa merasakan betapa sakitnya hati Kakak ketika menerima penolakan itu dari adik Kakak sendiri. Cuman, mau bagaimana lagi, Kak? Saat ini mungkin Yola masih kesal setelah mendengar alasan Kakak yang seakan-akan seperti ingin menjauhi Yola dari adiknya yang baru lahir, sehingga---"
"Lu tahu apa dengan perasaan gua, hahh? Lu itu cuman anak bau kencurz tiba-tiba datang dikehidupan Yola seolah-olah super hero yang sangat berjasa. Kalau lu haus akan pujian, lebih baik lu tolong orang-orang yang lebih membutuhkan!"
"Di luaran sana masih banyak orang yang butuh lu tolong, tapi bukan adik gua. Ngerti, lu! Gua tahu lu anak orang kaya sama kaya Daddy Rio, tapi gua gak suka cara lu yang seolah-olah ingin mencuci otak adik gua dengan berpura-pura menjadi super heronya. Apa lu lupa, hahh? Yola itu udah punya seorang kakak yang akan selalu menjaga tanpa membiarkannya sendirian, ataupun bersedih. Yola juga punya Daddy yang tidak pernah lupa untuk memberikan perlindungan kepada keluarganya!"
"Sekarang gua tanya. Lu itu siapanya Yola, hahh? Kerabat, saudara, apa sepupu? Haah, lu itu bukan siapa-siapa, Bro. Lu hanya teman slewatan yang Yola kenal secara tidak sengaja, jadi jangan berlaga super hero kalau lu sendiri aja masih ada dibawah ketek emak lu!"
"Apa sih, untungnya buat lu nolong adik gue? Gak ada, 'kan? Lu hanya akan dapet hinaan dari gua, jadi mending lu jauh-jauh deh, dari pada lu sakit hati sama ucapan gua, terus depresi, meninggoy. Gua yang di salahin, padahal lu sendiri yang cari gara-gara, dasar aneh!"
"A-apa jangan-jangan lu suka sama Yola? Lu cinta sama dia, 'kan? Wahh, kalau sampai itu benar-benar terjadi. Gua sebagai Kakak gak akan pernah ngerestui, ataupun memberikan celah untuk lu dekati adik gua! Ingat, baik-baik. Sampai Yola belum bisa mencapai cita-citanya, maka dia tidak akan memikirkan soal percintaan. Bagi gua, kesuksesan adik gua lebih dari segalanya. Daripada masa depan adik gua hancur hanya karena cinta mo*nyet kek lu!"
Sungguh, kata-kata yang sangat menyakitkan di dalam hati Joey. Sayangnya, pria itu tidak bisa melawan karena apa yang Naku lakukan untuk Yola adalah bukti rasa sayang seorang kakak pada adiknya.
Bulir-bulir air yang sudah memenuhi bola mata Joey tidak bisa terjatuh, sebab pria itu berusaha menahannya agar tetap terlihat baik-baik saja. Semua Joey lakukan demi terlihat kuat di depan Naku supaya tidak dianggap pria lemah.
Padahal, jika Naku bisa melihat ke dalam hati Joey. Sudah banyak sayatan yang dia ukir demi menjaga Yola agar tidak salah dalam memilih pergaulan, ataupun terbawa perasaan yang bisa dikatakan cinta mo*nyet.
Joey tetap terus mengukirkan senyuman untuk menutupi luka di hati yang sudah terasa begitu sesak. Pria kecil tersebut tidak boleh kalah oleh Naku, meskipun perkataan pedasnya sangat menyakitkan.
Biarpun, Naku berbicara tanpa tata krama dalam menyampaikan unek-unek, tetapi Joey begitu salut akan rasa sayang yang Naku berikan pada Yola. Dia menjaga Yola sebagaimana dia menjaga adik kandungnya sendiri dari orang-orang yang kelak akan menghambat masa depan, juga cita-citanya.
Sekuat tenaga Joey berusaha untuk tetap tenang, santai, dan jangan pernah kepancing atas apa yang Naku ucapkan. Naku sendiri benar-benar bingung karena setiap kali dia melontarkan kata-kata kasar, Joey tidak pernah sedikitpun membalasnya.
Sebenarnya, hati Joey terbuat dari apa? Kenapa dia bisa sesabar itu dalam menghadapi setiap hinaan yang menyakitkan dari Naku? Terlepas niat Joey itu baik, atau tidak tetap saja Naku akan menganggap Joey seperti ingin menjerumuskan adiknya ke dalam hal-hal negatif.
Sebenarnya, dibalik semua itu Joey hanya melakukan apa yang dikatakan oleh hati nuraninya. Tidak pernah berniat merebut Yola dari keluarganya, ataupun menghancurkan masa depan gadis itu dengan cara mencuci otak untuk menyebarkan virus cinta-cintaan ke dalam pikiran Yola.
.......
.......
.......
...💜💜>Bersambung<💜💜...