
Sungguh, Becca tidak habis pikir. Dia juga benar-benar syok atas apa yang sudah dilihatnya saat ini, Becca tidak percaya jika seorang Rio bisa melakukan semuanya lebih rapi dari pada Gala.
Kekecewaan yang sangat mendalam kembali Becca rasakan, ketika orang yang dia cintainya benar-benar tidak bisa mencintainya seperti apa yang Becca lakukan padanya.
Hatinya begitu hancur, remuk bahkan tidak lagi tersisa. Rasanya Becca benar-benar tidak di izinkan untuk kembali merasakan kebahagiaan, di mana dia bisa di cintai oleh satu pria yang melebihi cintanya pada dirinya sendiri.
Air mata sudah tidak bisa Becca bendung, layaknya bendungan yang langsung jebol begitu saja. Derasnya air mata yang mengalir sebagai bukti, jika Becca memang sungguh-sungguh untuk memulai hidup baru membuka lembaran baru bersamanya. Akan tetapi, pemandangan yang Becca lihat saat ini membuat semua impiannya seketika hilang begitu saja.
Perlahan Becca melangkah mundur untuk menjauhi Rio, meski tatapan mereka tidak lepas satu sama lain. Sama halnya seperti Rio, dia juga terus berusaha untuk menggapai Becca. Akan tetapi, Becca terus mencoba menghindar.
"Ay, kamu harus dengerin aku dulu. Aku bisa menjelaskan semuanya, kalau ini bukan seperti apa yang kamu lihat tadi. Ini---"
"Sudah cukup, Kak. Sudah cukup! Hentikan semua sandiwara ini, aku sudah cukup hapal dengan pria-pria yang memang tidak cukup dengan satu wanita!"
"Terima kasih, karena kakak sudah menyadarkanku kalau semua laki-laki itu ternyata sama. Dia tidak bisa melihat adanya kesempatan sedikit pun, sehingga ketika ada peluang di situlah dia akan berulah!"
"Untungnya aku di sadarkan sekarang, bukan ketika kita sudah menikah. Jika itu kembali terulang, mungkin aku akan lebih hancur dari pada saat itu kakak pertama kali bertemu denganku. Niatku ke sini ingin memberikan kejutan sama kakak, kalau Naku sudah mengizinkan kita untuk menikah. Dan nyatanya? Setelah susah payah aku berjuang meminta izin pada anakku, tahunya kakak sudah memiliki wanita lain."
"Sungguh, licik permainanmu, Kak! Aku benar-benar kecewa. Aku pikir kakak beda dari pria lainnya termasuk mantan suamiku sendiri, ternyata kakak sama saja. Sama-sama baji*ngan. Aku benci kakak, aku benci!"
"Stop, mengejarku. Dan jangan pernah lagi-lagi kakak mendekatiku atau keluargaku! Cukup sampai di sini hubungan pertemanan kita, persahabatan atau pun pasangan. Karena, mulai saat ini dan detik ini aku tidak sudi mengenal kakak. Aku benci semua ini, aku benci!"
Becca berteriak sambil keluar dari restoran, kali ini langkah Becca benar-benar sangat lincah. Sekuat apapun Rio berlari, Becca jauh lebih gesit darinya. Padahal, setahu ini Rio tidaklah lebih kencang dari Becca jika mereka berlari. Dan nyatanya sekarang, akibat emosi yang tidak bisa di kontrol membuat Becca tanpa sadar berlari memangis tanpa henti. Dia hanya mengikuti ke mana langkah kakinya tanpa tahu tujuannya.
"Becca, tunggu aku! Kamu hanya salah paham, Sayang. Aku tidak pernah mengkhianatimu, apapun alasannya aku tidak akan pernah memilih wanita lain ketimbang dirimu!"
"Aku tidak mau kehilanganmu untuk kedua kalinya, aku mohon. Kembalilah, Sayang. Kembalilah! Aku bisa jelasin semuanya, kita bicara baik-baik. Jangan seperti ini, tidak baik pergi dalam keadaan marah."
"Aku berani bersumpah, jika aku tidak sedikit pun mengkhianatimu atau berniat untuk mencintai wanita lain selain kamu. Aku berani bersumpah untuk itu, asalkan aku mohon jangan pergi untuk kesekian kalinya!"
Rio berteriak sekeras mungkin sambil berlari untuk menggapai Becca. Baru kali ini Rio kembali menangis setelah kepergian mendiang ibunya, istrinya dan sekarang Becca. Jika Rio memang sampai meneteskan air matanya, maka sudah bisa dipastikan kalau dia benar-benar tulus mencintai orang tersebut.
Banyak orang yang melihat adegan mereka, bahkan ada pula yang berusaha untuk menahan Becca agar tidak sampai berlari dalam keadaan yang kurang baik. Akan tetapi, mereka gagal. Becca tetap berlari ke mana pun kakinya melangkah meski itu tidak tahu arahnya.
Becca berlari tanpa melihat situasi dan akhirnya dia keserembet oleh salah satu mobil yang melaju kencang seperti orang ugal-ugalan. Di situ Becca jatuh berguling hingga terluka dan tidak sadarkan diri.
Rio yang melihat kejadian tersebut, kembali berlari sekuat tenaga sambil berteriak hingga suaranya benar-benar seperti orang yang memiliki kekuatan super.
Saking jarak mobil Rio jatuh, dia langsung meminta pada beberapa warga untuk menghentikan taksi yang ada atau apapun demi membawa Becca ke rumah sakit. Rio takut jika sesuatu terjadi padanya karena cairan merah sudah mengalir dari dahinya.
...🌟🌟🌟🌟🌟...
15 menit berlalu, akhirnya Becca dan Rio sampai di rumah sakit. Rio langsung membayar ongkos taksinya dengan uang yang ada di sakunya, tidak peduli itu berapa lembar uang 100 ribuan. Setidaknya yang ada di pikiran Rio saat ini bagaimana Becca bisa terselamatkan tanpa mengalami sesuatu yang membahayakan.
Wajah panik, cemas, gelisah bahkan badan bergetar membuat Rio tidak tenang. Berulang kali dia menyalahkan dirinya sendiri sambil memukuli kepalanya dan memukul tembok sekeras mungkin.
Andaikan pada saat itu Rio hanya berusaha menghindar tanpa harus mencari tahu siapa pelaku yang sudah merencanakan semua ini. Kemungkinan saat ini mereka akan baik-baik saja, tidak ada pertengkaran atau kecelakaan seperti sekarang yang Becca alami.
"Maafkan aku, Ca. Maaf, aku gagal menjaga kamu aku gagal! Aku memang bo*doh, karena aku telah menyakiti perasaanmu. Sekali lagi maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk seperti ini. Aku hanya penasaran, siapa orang yang ada di balik semua ini!"
"Jika aku tahu orang itu, mungkin aku akan mengajaknya untuk berduel secara jantan. Bukan main belakang seperti apa yang terjadi padamu, jika tujuan dia ingin menyingkirkan aku. Harusnya aku yang menjadi targetnya, dia bisa membunuhku, menculikku, dan sebagainya. Hanya saja, jangan pernah menyentuhmu atau membuatmu menjadi seperti ini. Aku tidak terima semua ini, aku tidak terima!"
Emosi yang tidak terkontrol dari Rio, berhasil membuat seorang suster merasa khawatir ketika melihat luka yang ada di tangan Rio akibat melampiaskan rasa kesalnya pada tembok yang tidak bisa memberikan solusi.
Sang suster segera memanggil beberapa perawat untuk menghentikan aksi Rio agar tidak membuat kegaduhan di depan ruangan UGD. Terlebih, sang suster dan perawat juga harus membantu Rio mengobati lukanya yang cukup terlihat mengerikan.
Rio hanya bisa duduk sambil meredakan emoainya yang mulai tidak karuan di dalam hatinya. Sebisa mungkin Rio bersabar, karena jika dia bersikap seperti ini semua masalahnya tidak akan selesai, yang ada malah menambah masalah baru kembali.
.......
.......
.......
...💜💜>Bersambung<💜💜...