
Ketika Vivi sedang kritis-kritisnya, ternyata satu bantuan datang untuk mendonorkan da*rah yang sangat-sangat diperlukan oleh dokter. Kini, hanya tinggal tersisa satu kantong da*rah lagi untuk menjaga-jaga agar kondisi tekanan da*rah Vivi bisa segera stabil.
Entah, mereka harus mencari satu kantong da*rah ke mana lagi supaya Vivi berhasil diselamatkan. Padahal, tanpa mereka sadari nyawa Vivi berada ditangan Tuhan dan Vivi sendiri.
Jika Vivi mampu bertahan, maka wanita paruh baya itu bisa kembali membuka matanya. Akan tetapi, jika Vivi tidak kuat sebanyak apa pun kantong da*rah yang terkumpul untuknya, tidak akan menjamin kalau Vivi bisa langsung selamat dari maut.
Selama operasi berjalan, Leon terus mencoba menghubungi rekan kerjanya untuk mencarikan satu lagi kantong dar*rah untuk sang istri. Tidak hanya Leon, Naila juga segera menghubungi semua teman-teman sosial media saat ponselnya baru diantar oleh seorang supir.
Om baik hati juga begitu bersemangat mencarikan pendonor, sampai harus membatalkan semua meeting penting hanya demi menemani mereka berdua bersama seorang polisi yang masih berjaga-jaga.
"Tuan sudah terlalu lama di rumah sakit, pasti di kantor banyak pekerjaan yang menunggu. Jika Tuan ingin kembali ke kantor silakan saja, nanti Tuan bisa ke sini setelah urusan Tuan selesai. Tenang saja, saya dan Naila akan baik-baik saja di sini, kami juga sudah banyak merepotkan Tuan. Saya tidak mau pekerjaan Tuan tertunda akibat keluarga kami, jadi----"
"Tidak perlu pikirkan itu, Tuan. Saya membantu Naila bukan karena sekedar rasa kemanusiaan. Akan tetapi, saya melihat Naila seperti melihat anak saya sendiri. Kalian tidak perlu khawatir tentang pekerjaan, itu tidak penting. Terpenting sekarang keadaan Nyonya Vivi di dalam yang sedang berjuang."
Leon tersenyum lebar melihat pria itu duduk tepat di sampingnya. Leon merasa terharu atas pertolongan om baik hati. Pantas saja Naila selalu memanggilnya dengan sebutan itu, sebab pria tersebut memang memiliki hati bagaikan malaikat.
"Sekali lagi saya ucapkan terima kasih, Tuan. Tuan sudah banyak membantu kami. Saya sendiri tidak tahu bagaimana cara membalasnya nanti, pokoknya saya berhutang nyawa dengan Tuan ...."
Leon menghentikan ucapannya ketika menyadari kalau dia belum mengetahui siapa nama om baik hati yang selalu Naila sebutkan itu. Untungnya pria tampan yang hampir seusia Leon itu langsung paham. Dia segera menjulukan tangan sambil tersenyum.
"Perkenalkan nama saya ...." Belum selesai menyebutkan namanya, ponsel pria itu berdering kembali membuat Leon segera melepaskan tangannya sambil memberikan kode untuk mengangkat sambung telepon dari seseorang.
Tanpa basa-basi, om baik hati bergegas mengambil ponsel di dalam saku celana. Kemudian, mengangkat dan mulai berbicara dengan seseorang. Sementara Leon, kembali fokus melihat ponsel dengan harapan masih ada orang baik yang akan menolongnya.
Begitu juga Naila, gadis itu duduk anteng dikursi roda sambil terus mengotak-atik ponsel kesayangan miliknya demi mencarikan satu malaikat yang akan membantu menyelamatkan nyawa bundanya.
[Hallo, Sayang. Ada apa? Aku baik-baik aja, kok. Sudahlah, jangan khawatir seperti itu. Aku sengaja memposting semua itu demi menolong seseorang, bukan untuk diriku.]
[Ya, Sayang. Ceritanya tadi setelah aku selesai meeting, aku kembali ke arah kantor untuk melanjutkan meeting berikutnya tepat di jam 5 sore, cuma pas di pertengahan jalan aku menemukan korban kecelakaan. Tidak ada satu orang yang berniat menolong korban, bahkan ambulan sama polisi juga lama sekali datangnya. Aku langsung membawa mereka ke rumah sakit, meskipun aku tahu resiko besar akan menerpaku. Cuma, aku tidak peduli. Bagiku usaha dan niat harus tetap jalan, hasilnya nanti kita lihat saja.]
[Akhirnya Tuhan merestuiku, keadaan anaknya sekarang sudah baik-baik saja. Tubuhnya hanya ada luka lecet-lecet dan tulang kaki kirinya sedikit geser, sehingga harus memakai kursi roda untuk beberapa minggu kedepan. Sayangnya, keadaan ibu dari anak itu sangat kritis dia membutuhkan satu kantong da*rah lagi. Sekarang dojter lagi melakukan operasi besar untuk menyelamatkan Nyonya Vivi. Maka dari itu, aku membutuhkan satu kantong da*rah. Kalau bisa, kamu bantu aku mencari satu pendonor lagi. Aku tidak punya banyak waktu, Sayang. Please, bantu mereka dan bilang anak-anak juga untuk membantunya!]
Mendengar percakapan om baik hati, membuat Naila dan Leon segera mengalihkan pandangan untuk menatapnya. Mereka tidak menyangka, pertolongan Tuhan memang nyata. Jelas-jelas mereka tidak ada hubungan persaudaraan, bahkan kerabat jauh. Hanya saja, hati tulusnya membuat mereka tidak bisa berkata-kata banyak selain bersyukur pada Tuhan dan berterima kasih.
[Kamu mau video call sama gadis itu? Baiklah, sambungkan saja. Aku akan memberikannya.]
Awalnya om baik hati melakukan sambungan telpon biasa, sekarang sudah berganti video call karena sang istri ingin memberikan suport pada Naila agar tidak merasa sendiri.
"Istri Om ingin kenalan sama kamu, apakah boleh?" tanya Thoms meminta izin terlebih dahulu. Leon menganggukan kepala sambil tersenyum menatap Naila, kemudian Naila menerima ponsel dari tangan om baik hati.
"Na-naila? I-ini benar kamu 'kan, Cantik?"
"Ta-tante Be-becca?"
Keduanya benar-benar syok ketika mereka langsung mengenai wajah secara bersamaan. Becca tidak menyangka jika suaminya ternyata menolong keluarga gadis yang sudah lama tidak dia temui.
Leon dan om baik hati yang tidak lain adalah Rio, terlihat begitu bingung saat mereka saling mengenal satu sama lain. Mungkin, untuk Rio sudah mengenal sedikit tentang Naila dari cerita singkat yang Becca ceritakan, tetapi Rio belum melihat bagaimana wajah Naila. Jadi, tidak heran juga kalau mereka semua menjadi terkejut.
"Astaga, Cantik. Ya ampun, Tante rindu sekali sama kamu, gimana kabarnya, hem? Kamu baik-baik aja, 'kan? Kenapa semua ini bisa terjadi, Sayang. Pasti kamu sedih banget melihat kondisi ibumu. Ya, sudah, Tante ke rumah sakit sekarang ya, kamu tunggu di sana sampai Tante datang, oke. Itu rumah sakit mana? Berikan alamatnya, Tante akan langsung meluncur ke sana!"
"Ti-tidak usah, Tante. Naila baik-baik aja, kok. Tante bantu doa saja supaya bunda Naila selamat, Naila tidak mau kehilangan Bunda. Naila sayang Bunda, Tante. Bantu Bunda, tolong Bunda, Tante. Carikan donor da*rah terakhir. Naila takut Bunda kenapa-kenapa di dalam, Naila takut hhiks ...."
"Tenang, Sayang. Tante ke situ sekarang, kamu baik-baik ya, Tante mau bicara sama suami Tante. Boleh?"
Naila menganggukan kepala, lalu menyerahkan ponsel kepada Rio. Setelah itu, Rio kembali berbicara dengan Becca untuk memberikan saran agar ke rumah sakit menggunakan mobil dan tidak membawa anak mereka yang kecil. Apalagi rumah sakit adalah biang segala penyakit yang mudah tertular pada bayi, ataupun orang yang memiliki daya tahan tubuh begitu lemah.
Becca menurut, lalu mematikan sambungan telepon karena ingin segera bersiap-siap datang ke rumah sakit untuk menemui gadis kecil yang sudah lama tidak bertemu dengannya.
Selepas sambungan ponsel terputus, Becca segera mengganti pakaian lalu menitipkan si kecil pada pembantu rumah karena dia akan pergi ke luar rumah.
Baru saja Becca ingin melangkah keluar rumah, tiba-tiba dikejutkan oleh kedatangan Naku yang baru saja pulang menjemput Yola les bersama supir.
"Mommy mau ke mana? Tumben buru-buru banget," tanya Naku, curiga.
"Yola ikut dong, Mom. Tunggu Yola ganti baju ya, lima menit aja, oke."
Yola berlari memasuki rumah dan segera pergi ke arah kamarnya. Di situ hanya tinggal Naku dan Becca. Apakah Becca akan mengatakan tentang Naila pada Naku, atau sebaliknya? Becca bingung, dan sedikit takut akan tatapan yang berikan oleh sang anak. Haruskan Becca jujur? Atau tetap bersikeras menyembunyikan keberadaa Naila?
.......
.......
.......
...💜💜>Bersambung<💜💜...