Jangan Renggut Kebahagiaanku!

Jangan Renggut Kebahagiaanku!
Kenaikan Kelas


3 bulan telah berlalu, Joey tidak pernah bertemu kembali dengan Yola dikarenakan mereka tidak saling berkomunikasi. Terakhir Joey memberikan nomor kepada Becca, tetapi nomor tersebut hilang begitu saja lantaran ponsel yang Becca miliki tertinggal disalah satu Restoran. Sehingga Yola hanya bisa berharap kelak akan dipertemukan kembali oleh Joey seperti biasanya.


Bertepatan di hari ini, semua murid sedang berlomba-lomba menunjukkan bakat di atas panggung demi memperlihatkan pada guru dan kedua orang tua untuk kenang-kenangan setelah kenaikan kelas.


Sayangnya, Yola tidak ikut karena kaki yang cedera sudah berangsur pulih. Sehingga dia tidak boleh banyak bergerak untuk menunjukkan bakat menari kesukaan Yola.


Tidak terasa Yola sudah memasuki usia 9 tahun. Saat ini dia telah naik ke kelas 3 SD dengan nilai yang sangat baik juga mendapatkan peringat ke-3. Sungguh, bahagianya Becca dan Rio bisa memiliki anak-anak secerdas mereka.


Sama seperti Naku yang naik ke kelas 2 SMA dengan usia 16 tahun. Seharusnya Naku naik ke kelas 1, hanya saja pada waktu SMP Naku mendapatkan kesempan yang tidak semua orang dapatkan. Yaitu, loncat kelas lantaran Naku memiliki nilai IQ di atas rata-rata anak SMP pada umumnya.


Semua ini suatu kebanggaan tersendiri bagi Rio sama Becca lantaran tidak ada kebahagiaan yang diinginkan selain melihat anak-anaknya tumbuh besar dan sukses untuk meraih prestasi dimasa muda.


Siapa sangka, dimasa-masa kebahagiaan Yola dan Naku telah berhasil meraih nilai terbaik, ternyata ada satu keajaiban lain yang tidak diduga. Setelah mereka selesai makan malam, semua berkumpul di ruang keluarga seperti biasa.


Namun, ditengah-tengah keseruan Yola menjadi suporter juga juri untuk Naku dan Rio bermain PS, tiba-tiba Becca datang membawakan cemilan serta minuman. Hanya saja, mereka tidak ada yang menyadari kalau Becca membawa kotak hadiah untuk semuanya.


"Wah, kayanya seru banget pertandingan malam ini. Siapa yang menang, Sayang?" tanya Becca, lalu duduk sesekali menatap Yola sambil menaruh cemilan dan minuman di atas meja dengan bantuan Bibi.


"Kayanya Daddy, Mom. Lihat saja, skor Daddy lebih banyak dari Kakak. Daddy tiga, sedangkan Kakak cuman satu. Jadi, pasti Daddy dong, pemenangnya. Yeyy ... Akhirnya, setelah sekian lama Daddy bisa menang juga. Kasihan deh, Kakak tersaingin wlee ... Hahah."


Yola begitu bersemangat ketika Rio sudah menunjukkan jati dirinya yang selama ini selalu dikalahkan oleh Naku. Lain cerita dengan sang kakak, kedua mata mulai melirik sinis ke arah Yola yang sedang asyik meledeknya.


"Yola, Sayang. Enggak boleh gitu sama Kakak, menang kalah di dalam permainan itu sudah biasa, Daddy enggak suka Yola ngejek-ngejek kaya gitu. Ayo, sekarang minta maaf dulu sama Kakak!" titah Rio sedikit menekan kata-katanya, tetapi masih dalam suara yang lembut.


Naku yang merasa dibela oleh Rio, langsung tersenyum penuh kemenangan. Sedangkan Yola, wajahnya mulai cemberut lantaran Rio tidak bisa diajak bercanda.


"Ishh, sebel deh, Daddy enggak bisa bercanda nih! Udahlah, Yola males mau ke kamar aja. Percuma, di sini kalau enggak seru!" sahut Yola yang sudah mulai ancang-ancang untuk pergi meninggalkan mereka.


"Ckkk ... Dasar cewek, kerjaannya ngambek mulu!" gumam Naku dengan suara kecil, tetapi masih bisa didengar oleh telinga Yola yang cukup sensitif.


Yola spontan berdiri sambil bertolak pinggang sedikit membungkukkan badan, menatap bola mata sang kakak yang sedang duduk di lantai bersama Rio dengan alas karpet berbulu halus.


"Apa tadi yang Kakak bilang, hahh? Ngambek?" tanya Yola mulai kesal.


"Ya, memang gitu kenyataannya, 'kan? Namanya juga cewek, dikit-dikit ngambek, dikit-dikit sensi. Kalau udah marah maunya dialem, pengen menang sendiri. Itulah yang namanya batu, egois!" sahut Naku, semakin membuat suasana mulai memanas.


"Hyaakk ... Dasar pria nyebelin, cuek, ngeselin, bisanya cuman nyakitin aja!" pekik Yola, tidak terima.


Naku mulai mencibirkan bibir persis seperti orang yang lagi ngerumpi. Melihat perdebatan yang memang sudah mulai terbiasa membuat Rio menggelengkan kepala sekilas, lalu membantu Becca untuk memisahkan Yola dan Naku agar tidak kembali terjadi peperangan.


Ledekan demi ledekan yang terdengar membuat Becca dan Rio merasa pusing, jalan satu-satunya Becca harus menarik Yola agar duduk bersama di sofa panjang bersama Rio yang juga menarik Naku untuk duduk tepat di sampingnya.


"Ya, terus aja mulutnya, udah dipisahin masih aja. Lama-lama Mommy potong sekalian lidahnya biar gak bisa saling ngejek kaya gitu!" ucap Becca menakuti kedua anaknya.


"Sekali lagi Daddy lihat kalian masih saling ngejek kaya gini, Daddy langsung bawa Mommy pergi keluar negeri selama 3 hari. Setuju?" tanya Rio berhasil membuat kedua anaknya terdiam saling melirik satu sama lain.


"Astaga, benar-benar kalian ini. Lama-lama aku bisa kena darah tinggi ngadepin mereka!" geram Becca langsung mengusap wajah Yola dan Naku secara gantian agar tidak ada lagi tatapan sinis diantara keduanya.


"Aaa ... Mom----" Yola menghentikan perkataannya ketika kedua mata tidak sengaja melirik ke arah sebuah kotak yang berukuran sedang. Lalu, tangannya menunjuk ke arah kotak sambil menatap Becca. "Mommy, itu kotak apa? Kok, ada pitanya? Apa itu jangan-jangan ...."


"Jangan-jangan apa?" tanya Naku, jiwa penasarannya mulai meronta-ronta.


"Hadiah buat Yolalah, 'kan Yola peringkat ke-3. Betul 'kan, Mom?" tanya Yola langsung menatap ke arah Becca penuh rasa senang.


"Dihh, jadi orang jangan terlalu ke'PD'an! Lagi pula kamu cuman peringat ke3 ya, sedangkan aku ke-1. Jadi, sudah jelas itu punya aku!" cicit Naku, lagi-lagi membuat kegaduhan hingga akhirnya ketika Yola ingin membalas perkataan Naku, tiba-tiba saja Becca langsung mengambil kotak itu sambil berdiri diantara mereka semua.


"Stop!" ucap Becca sangat tegas menoleh ke arah mereka semua secara bergantian.


"Niatnya kotak ini akan Mommy berikan kepada kalian bertiga sebagai hadiah. Bukan berarti Mommy ingin membandingkan kalian, bagi Mommy baik Naku, Yola atau pun Daddy semua sama. Sama-sama kesayangan Mommy, paham kalian!" sambung Becca sambil menunjukkan kotak tersebut ke atas.


"Namun, berhubung Yola sama Naku terus bertengkar, tidak bisa adil. Mommy ralat semuanya! Selama ini Mommy sama Daddy berusaha menanamkan sifat adil supaya kalian tidak bertengkar kaya gini, tapi apa yang mommy dapat? Kalian tetap saja berantam, 'kan?"


Kemarahan Becca langsung membuat Naku dan Yola langsung menundukkan kepala. Mereka tidak pernah berani meneruskan keributannya jika Becca sudah marah seperti ini.


Sebenarnya Becca tahu, mereka bertengkar bukan berarti mereka tidak suka. Melainkan pertengkaran tersebut sebagai bukti kasih sayang Naku dan Yola, meskipun caranya selalu membuat pusing kepala. Akan tetapi, Becca sama Rio memang sudah paham sifat anak-anaknya.


Namun, jika semua ini dianggap sepele takutnya sesuatu hal buruk akan terjadi. Di mana kedua anak mereka akan tumbuh menjadi anak yang tidak baik karena ketika ada sesuatu yang salah tidak segera diperbaiki.


.......


.......


.......


...💜💜>Bersambung<💜💜...