Jangan Renggut Kebahagiaanku!

Jangan Renggut Kebahagiaanku!
Melihat Bintang


Setelah selesai tertawa, mereka pun terdiam menatap langit satu sama lain. Naila tersenyum melihat banyaknya bintang bersinar menghiasi gelapnya langit. Namun, adakala di mana mata Naila melihat dua bintang yang paling terang di antara yang lain.


Tangan gadis itu langsung menunjuk ke arah langit untuk memberitahukan pada Naku, jika dia melihat sesuatu di langit yang sangat cantik.


"Oppa, Oppa. Lihatlah ke sana!" pinta Naila, membuat Naku langsung melihat ke arah yang ditunjukkan.


"Kenapa?" tanya Naku, bingung. Kedua matanya melihat langit yang biasa saja seperti tidak menemukan apa-apa.


"Itu loh, lihat baik-baik, Oppa. Di sana ada dua bintang yang paling cantik. Oppa tahu itu siapa?" tanya Naila, meyakinkan Naku agar dapat menemukan titik di mana kedua bintang itu berada.


Setelah Naku memperhatikan baik-baik ke mana arah jari Naila menunjuk ke langit, akhirnya dia menemukan bintang tersebut memang paling terang memberikan cahaya pada langit.


"Oh, itu. Ya, bintanglah. Masa iya, siapa. Aneh!" jawab balik Naku cuek, sekilas menatap ke arah langit dan kembali melihat wajah Naila yang tersenyum lebar.


"Ishh, maksudku bukan begitu, Oppa. Ya, memang aku tahu itu bintang, tapi bukan kaya gitu." Wajah Naila langsung cemberut meneh ke arah Naku.


"Terus?" tanya Naku, semakin membuat Naila kesa.


"Teras terus, teras terus emang aku tukang parkir apa!" seru Naila, melirik sinis.


"Bisa jadi." Kecuekan Naku benar-benar berhasil mengeluarkan dua tanduk di samping kepala Naila bagaikan banteng yang ingin menyeruduk.


"Oppa ...." Naila merengek layaknya anak kecil ketika sudah tidak kuat menahan rasa kesalnya.


"Hihi, ya, ya. Udah lanjut lagi, ceritanya. Kenapa sama bintang itu?" Naku tertawa kecil ketika tidak kuat menahan kelucuan di wajah Naila. Gadis itu hanya menarik napas, serta membuangnya secara kasar.


"Huhh ... Aku tahu itu memang bintang, Kak. Cuma aku ngerasa kalau bintang kembar itu kaya ngasih senyuman buat aku karena dia bersinar paling terang di antara yang lain,"


"Bisa jadi 'kan, bintang yang kembar itu Ayah dan Bunda kandungku, mereka pasti begitu karena senang lihat Naila bahagia di sini. Apalagi, Naila diurus baik sama Ayah Leon dan Bunda Vivi. Kalau benar mereka, Naila ingin berdoa supaya Ayah dan Bunda di sana bahagia sama kaya Naika di sini. Semovmga suatu saat nanti Naila bisa ketemu sama mereka di surga. Aamin ...."


Doa dan harapan yang Naila ucapkan membuat Naku ikut mengaminkan. Mereka berdua tersenyum menatap bintang tersebut. Namun, beberapa menit Naila terkejut ketika pria yang ada di sampingnya mengatakan sesuatu padanya.


"Tutup matamu sekarang!" titah Naku mengalihkan pandangan Naila dari menatap bintang, langsung melihat wajahnya.


"Hah, tu-tutup mata? Bu-buat apa?" tanya Naila terbata-bata dalam perasaan bingung.


"Udah, ikuti aja, jangan banyak tanya!" sahut Naku, tetap enggan membuat Naila menutup mata.


Wajah gadia itu masih bingung apa yang akan Naku lakukan, kenapa juga dia harus menutup mata. Apalagi, keadaan gelap seperti ini. Begitulah pemikiran Naila yang masih tanda tanya besar.


Bukan Naku namanya, kalau tidak menemukan seribu cara menaklukkan gadis di hadapannya. Tanpa basa-basi Naku mengeluarkan sebuah kain kecil dari saku celana, kemudian mengikatnya dikepala Naila dengan cukup erat.


"Astaga, Oppa. Apa-apaan ini, Oppa mau culik Naila, iya? Wah, pelanggaran. Naila bilangin Om dan Tante ya, kalo Oppa adalah salah satu komplotan penculik anak tercantik kaya aku ini. Aaa ... Buka Oppa, masa iya, mata Naila ditutup sih, gelap tahu!"


Celoteh Naila tidak ada henti-hentinya, membuat Naku berusaha keras menahan tangan gadis itu supaya tidak membuka kain yang sudah diikatkan di belakang kepala untuk menutupi kedua mata.


"Ssstt ... Berisik, udah diam! Awas aja kalau sampai dibuka sebelum aku bilang, aku akan marah padamu seumur hidup!"


Naku tersenyum menahan tawa melihat Naila, sebisa mungkin dia berusaha mengumpulkan apa yang sudah direncanakan supaya tidak berantakan. Naku berlari tanpa mengelurkan suara, kemudian kembali ke taman dalam waktu 2 menit sambil mengajak beberapa orang.


"Cepatlah lakukan, susun yang rapi!" titah Naku. Suaranya terdengar seperti orang berbisik supaya Naila tidak mendengarnya.


"Oppa bicara sama siapa? Apakah ada orang selain kita di sini?" tanya Naila, bingung menoleh ke kanan dan kiri tanpa membuka penutup mata.


"Akhh, ti-tidak. Sebentar, jangan dibuka sebelum aku bilang buka. Paham!"


Naila hanya pasrah sama apa yang Naku akan lakukan. Bingung sih, cuma tidak ada cara lain. Jika Naila memaksa untuk membuka kain penutup mata, sudah pasti Naila akan menerima akibatnya.


Selagi apa yang Naku lakukan tidak akan membahayakan dirinya, Naila terlihat santai. Akan tetapi, perasaan di dalam hati sudah mulai tidak karuan.


Apa yang sedang Oppa lakukan, kenapa dia terdengar sibuk sekali? Terus juga ada apa dengan mataku, apa harus ditutup seperti ini? Huhh, menyebalkan. Udah kaya di film-film romantis di chanel TV aja.


Meskipun, mata Naila tertutup tetap saja dia dapat memperhatikan keadaan sekitar dari kedua telinga yang berfungsi secara baik. Langkah kaki yang terdengar ketika menginjak rumput, sungguh membuat Naila penasaran. Rasanya ingin sekali gadis itu membuka kain penutup mata, tetapi dia tidak ingin membuat Naku marah padanya.


Kurang lebih sekitar 5 menit, apa yang Naku rencanakan selesai. Dia langsung mengurus pembayaran, lalu kembali duduk di samping Naya dalam keadaan gugup.


"Oppa ngapain sih, lama banget. Dari tadi Naila dengar ada bunyi grusak-grusuk kaya ada orang lari-lari gitu, emangnya ada apa, sih? Jangan bilang Oppa sedang merencanakan hal buruk buat Nai---"


Gadis itu menghentikan perkataannya ketika merasakan sesuatu pada bibir. Itu semua akibat kebawelan Naila membuat Naku menjadi gemas dan menepuk pelan bibirnya.


"Awsshh ... Ishh, sakit tahu!" keluh Naila berpura-pura kesakitan, padahal hanya terkejut sedikit saja.


"Elehh, lebay. Udah, sekarang buka tutup matanya setelah ...." Naku menggantungkan ucapannya, setelah melihat Naila sekilat itu membuka penutup mata tanpa aba-aba darinya.


"Hyaaa ... Kenapa dibuka, aku belum hitung astaga bocah ini!" Terlanjur terbuka, Naku langsung refleks menutup mata Naila menggunakan telapak tangan.


"Loh, loh, kok, ditutup lagi, sih. Tadi bilangnya suruh buka, ya udah Naila buka. Jadi, gak salah dong," jawab Naila terkejut.


"Bodo amat. Udah diam!" Naku menutup mata Naila, lalu mengarahkan badan Naila supaya melihat ke arah depan, "Dalam hitungan ketiga, buka matamu secara perlahan. Dengar, 'kan?"


"Iya, ya ...." Naila begitu lesu menjawab apa yang dari tadi selalu membuatnya kesal, penasaran, juga bingung.


Untuk mempersingkat waktu, Naku tidak lagi berkata apa-apa. Dia langsung menghitung dari satu sampai tiga, lalu melepaskan telapak tangannya. Setelah itu, Naila membuka mata secara perlahan.


Betapa terkejutnya gadis itu ketika melihat apa yang dlihatnya sangatlah membuat hati berbunga-bunga. Naila benar-benar tidak percaya apa yang Naku lakukan diluar dari sifatnya. Dia langsung menoleh ke arah pria tersebut yang sedang tersenyum kecil.


.......


.......


.......


...💜💜>Bersambung<💜💜...