Jangan Renggut Kebahagiaanku!

Jangan Renggut Kebahagiaanku!
Menghancurkan Mood


Di taman rumah sakit. Terdapat seorang pria dan wanita yang sedang duduk sambil menatap langit. Di mana langit terlihat jauh lebih indah ketika malam hari, tidak seperti biasanya.


Suasana hati keduanya juga sudah mulai membaik. Mereka telah kembali mengukirkan senyuman satu sama lain dengan tatapan bahagia. Siapa lagi kalau bukan Naku dan Naila. Mereka sedang menikmati malam berdua dengan udara yang sangat menyejukkan.


"Gimana, udah senang?" tanya Naku, cuek.


"Hehe ... Udah, Oppa. Seneng banget, makasih ya, Oppa. Selama ini Oppa selalu ada buat Nainai. Pokoknya Nainai seneng banget punya sahabat kaya Oppa dan adik kaya Yola. Kalian semua memang the best, baik banget sama keluarga Nainai. Nainai janji, Nainai tidak akan pernah melupakan kebaikan kalian semua. Sekali lagi terima kasih, Oppa. Nainai sayang Oppa."


Naila merangkul lengan kiri Naku, lalu menyandar di pundak sambil tersenyum lebar. Wajah gadis itu benar-benar bersinar setelah Vivi terbangun dari tidur panjangnya. Padahal sebelumnya, Naila terlihat lebih murung, pendiam, dan irit sekali berbicara seakan-akan dunianya sudah hancur.


Namun, malam ini tepat di hari ulang tahun Naila keajaiban datang untuk memberikan semangat baru. Naila juga begitu senang sebab keluarga Naku sangatlah baik kepada keluarganya.


Hari ini Naila telah kembali menjadi gadis penuh warna. Sifat manja dan keceriaannya sungguh membuat Naku tidak bisa berkata apa-apa selain merasakan getaran di dalam hati, serta detak jantung yang kian mencepat.


Sabar, Naku, sabar! Ingatlah, semua ini terjadi karena dia lagi happy. Kamu harus bisa maklumin, kalau gak sebahagia ini juga dia gak akan melakukan hal konyol ini. Jadi, tenang oke, tenang!


Tarik napas, buang. Tarik napas, buang. Fiuuhh ... Selamatkan jantungku, Tuhan. Aku tidak ingin ma*ti konyol hanya karena pelukan gadis ini. Please ... Selamatkan aku, Tuhan. Semoga ini yang aku rasakan bukan cinta, dengan begitu aku bisa fokus menuntut ilmu dan mengejar impianku terlebih dahulu!


Sebisa mungkin Naku terus mengontrol napas dan detak jantungnya agar tidak lepas kendali. Walaupun, sesak Naku tetap berusaha bagaimana caranya menahan semua perasaan itu agar tidak semakin mendalam.


Naila yang terlalu senang, tidak menyadari bahwa wajah Naku perlahan memerah akibat menahan sesuatu di dalam hati. Gadis tersebut malah semakin erat memeluk Naku sampai-sampai tidak sengaja Naila meletakkan pipinya tepat di dada Naku.


Degh!


Dari situlah, Naila baru merasakan suara detak jantung Naku dengan keras. Telinga kanan mendengar jelas bahwa, Naku sedang tidak baik-baik saja. Kekhawatiran Naila pada pria yang sudah dianggapnya sebagai sahabat, langsung melepaskan pelukan tersebut. Lalu, wajah Naila menatap lekat manik mata Naku tanpa berkedip sedikit pun.


"O-oppa, a-apa Oppa sakit?" tanya Naila dengan wajah polosnya.


"A,akh ... E-enggak. A-aku baik-baik aja," jawab Naku, terbata-bata. Kegugupan yang Naku rasakan semakin bertambah ketika wajah Naila mulai mendekat dan hanya berjarak kurang lebih 5 sentimeter.


"Wajah Oppa merah, Oppa demam? Atau Oppa sakit jantung?" tanya Naila kembali.


"Ma-mana ada, jangan ngada-ngada, ya! Aku gak ada penyakit jantung dan aku tidak sakit. Paham!" seru Naku, memasang wajah kesal agar wajah Naila segera menjauh darinya.


"Masa, iya? Coba ...." Naila kembali menempelkan telinga kanan tepat di dada Naku, membuatnya terkejut. "Nahkan ... Suara jantung Oppa masih kencang, kalau gak percaya pegang aja!"


Naila menarik tangan kiri Naku dan menempelkan ke dada dalam waktu beberapa detik, "Kenceng, 'kan? Bedain deh, sama jantung Nainai, gimana?"


Wajah Naku seketika melongo. Dia tidak tahu harus berkata apa ketika tangannya menempel di dada seorang wanita untuk pertama kali. Tidak ingin membuat kesalah pahaman di antara mereka ketika orang lain melihat adegan itu, Naku segera menarik paksa tangannya dan menggeser posisi sedikit menjauh dari Naila.


"Astaga, Naila! Apa-apaan kamu, hahh? Lancang sekali menaruh tanganku di situ, gimana kalau ada yang melihat kita, terus mereka semua jadi salah paham. Gimana!"


Tanpa disengaja Naku membentak Naila, hingga membuatnya tersentak membuat tubuhnya sedikit memberikan respon secara cepat.


"Ma-maaf ... A-aku tidak bermaksud untuk melakukan hal itu. Aku tidak berpikir sejauh itu, maafkan aku Oppa. Aku salah," ucap Naila menundukkan pandangan. Wajah gadis itu langsung bersedih setelah mendengar Naku kembali membentak setelah sekian lama Naila tidak mendengarnya.


Melihat Naila seperti itu, seketika Naku langsung menyadari atas apa yang diucapkan pada gadis di hadapannya itu.


Dasar Naku bo*doh! Kenapa kau malah membentak dia sih, astaga ... Lihatlah, gara-gara dirimu moodnya langsung berubah drastis! Padahal, beberapa saat lalu gadis itu begitu happy atas apa yang terjadi di hari ulang tahunnya. Cuma karena kepolosannya, kau langsung mengatakan kalimat yang sangat menyakiti hati Naila. Bod*doh!


Kalau sudah begini, bagaimana caramu untuk mengembalikan moodnya seperti sedia kala. Di mana wajahnya bisa ceria, semangat, dan tidak lagi merasakan kesedihan seperti sekarang ini. Bisa? Gak, 'kan! Udah tahu mood cewek itu susah dikendalikan malah cari gara-gara. Sumpah, ini mulut rasanya pengen gua cabein biar pedes-pedes sekalianlah!


Naku langsung menyalahlan dirinya sendiri. Dia telah berhasil menghancurkan mood Naila yang baru saja merasakan kebahagiaan setelah 4 bulan lebih hidup dalam rasa bersalah.


"Hiks, hiks ...."


"E,ehh ... Ka-kamu nangis?" tanya Naku diselimuti rasa bersalah.


"E-enggak, aku eng ... hiks gak nangis," jawab Naila disertai suara isak tangis yang berusaha disembunyikan dari Naku.


"Yakin?" tanya Naku, memastikan.


"Iy--- akhh, Oppa. Apa sih," sahut Naila sedikit terkejut atas apa yang Naku lakukan padanya. Di mana tangan pria itu langsung memegang dagu Naila dan mengangkatnya supaya wajah mereka bisa saling berhadapan satu sama lain.


"Mana, katanya enggak nangis. Terus ini air apa, hem? Air hujan!"


"Isshh ... Apa sih, Oppa ini. Lepasinlah!" pinta Naila. Raut wajah gadis itu benar-benar terlihat kesal, tetapi begitu menggemaskan. Sehingga, Naku harus menahan tawanya di dalam hati.


Astaga, kenapa wajah gadis ini imut banget sih, kalau lagi marah. Aakhh ... Sumpah ingin rasanya aku menggrogoti pipi Naila yang chubby sampai tidak tersisa hihi ....


Menyadari kepolosan Naila semakin membuat Naku harus kuat menahan tawa. Sampai akhirnya, Naku melepaskan tangannya dari dagu Naila dan mencubit hidung sampai gadis tersebut mengeluh sakit.


"A-awsshh, sakit, Oppa. Astaga!" pekik Naila dengan suara yang sedikit mendengung.


"Ini sebagai hukuman untukmu karena sudah membohongiku!" jawab Naku.


Naila tidak tinggal diam, tangannya langsung membalas Naku dengan cara menjewer telinga kiri sampai membuat Naku terkejut dan mengeluh kesakitan.


"Hyaakk ... A-awshh, sakit!"


"Biarin aja, biar impas. Aku kena hukum karena bohongi Oppa dan Oppa kena hukum karena udah buatku nangis. Hihi ...."


"Yaakk, dasar menyebalkan."


"Oppa juga sama. Lebih, lebih, lebih, lebih, lebihh ... Menyebalkan!"


"Loh, kenapa aku lebihnya banyak banget?"


"Iyalah, 'kan, spesial haha ...."


"Spesial tapi, ujungnya gak enak."


"Emang eakk? Hahah ...."


Naila kembali tertawa membuat Naku kesal dan langsung mengelitikki pinggang gadis itu sambil berjaga-jaga agar Naila tidak terjatuh dari kursi.


Kesedihan yang hadir beberapa saat lalu, kini sudah tergantikan oleh canda gurau dari mereka berdua. Ternyata, membalikkan mood Naila tidaklah sulit. Selagi Naku bersamanya, Naila akan tetap bahagia meski pria itu juga yang sempat menghncurkan moodnya.


.......


.......


.......


...💜💜>Bersambung<💜💜...