Jangan Renggut Kebahagiaanku!

Jangan Renggut Kebahagiaanku!
Skor 1-0


Tanpa harus berlama-lama lagi, Yola langung meminta mereka berdua untuk suit jepang terlebih dahulu. Dengan begitu, Yola bisa menentukan siapa yang akan memulai permainan lebih dulu tanpa adanya perebutan.


"Yes, gua duluan!" seru Naku, begitu semangat untuk mengalahkan Joey.


"Oke, kakak menang. Berarti Kak Naku yang duluan memulai permainan, tapi pertandingan hanya bisa dilakukan sebanyak 3 kali capit. Oke?"


"Misalkan, contoh. Sekali capit kakak tidak mendapatkan boneka, sedangkan Kak Joey mendapatkannya. Itu belum di pastikan menang, karena kakak masih punya 2 kesempatan, begitu juga sebaliknya. Dan kalau misalkan kalian berdua selama 3 kali tidak mendapatkannya atau dikatakan gagal, aku akan kasih keringannya sampai salah satu diantara kalian bisa mendapatkan 1 boneka. Gimana? Sampai sini paham?"


Joey menganggukan kepalanya perlahan. Wajahnya terlihat sangat tenang tanpa menjadikan Naku sebagai saingannya. Joey tidak gentar, walaupun selalu mendapatkan tatapan sinis dari Naku. Dia tetap mengumbar senyuman demi kedamaian bersama.


Entah kenapa, senyuman Joey seperti memiliki arti tersendiri. Apakah dia benar-benar akan menyerah dan membiarkan Naku menjadi pemenangnya? Atau Joey akan tetap memainkan permainan dengan sportivitas, demi membuat Naku sadar apa bila kesombongan yang dimilikinya itu tidaklah baik untuknya.


"Gimana? Udah siap?" tanya Yola penuh rasa senang sambil memeluk bonekanya.


Mereka berdua pun menganggukan kepalanya secara bersamaan. Yola langsung mengatur posisi mereka. Di mana Naku berada tepat di depan Joey, sedangkan Joey sendiri berada di barisan belakang Naku.


Setelah itu, Yola kembali di posisinya yaitu berdiri di samping Naku untuk memantau agar tidak ada kecurangannya di dalam permainan ini.


"Satu, dua, tiga. Let's go!" pekik Yola, setelah menggesekkan kartunya di mesin tersebut.


Tangan Naku perlahan memegang tombol pencapit itu, lalu mengarahkannya. Terlihat sekali keseriusan di wajah Naku untuk berjuang memfokuskan pikirannya supaya mudah menaklukkan mainan tersebut.


Di rasa posisinya sudah tepat, di mana alat pecapit itu berada di atas boneka. Kemudian, Naku segera memencet tombol lainnya penuh semangat. Dia berharap semua ini akan berhasip sesuai prediksinya.


Semua mata segera menatap serius ke arah pencapit, satu boneka berhasil di capit tepat di kepalanya. Lalu, mesin itu kembali bergerak membawa boneka menuju lubang yang akan membawanya keluar dari kotak.


Jantung Naku rasanya hampir saja copot ketika mesin pecapit terus bergoyang. Detik-detik yang menegangkan mulai terjadi, saat boneka hampir saja terjatuh sebelum sampai di sebuah lobang yang akan membawanya kemenangan untuk Naku.


Pada akhirnya, Naku berhasil mengambil 1 boneka yang berukuran kecil. Bagaikan mendapatkan sebuah intan berlian di kobangan lumpur, Naku refleks langsung mengambil boneka penuh semangat.


Naku kembali berulah, dia memamerkan atau menunjukkan kemenangannyabtepat di hadapan Yola. Lalu, berjalan memutari Joey yang saat ini hanya terdiam di tempat sambil memperhatikan Naku.


"Aduh, aduh ... Bonekanya cantik banget ya, kayanya aku pajang di kamar bagus nih, habis itu aku kasih bingkai yang besar banget. Terus di bawahnya aku kasih tulisan, pemenang nomor satu pencapit terbaik. Hahah ...."


Naku tertawa penuh sindiran keras sesekali melirik ke arah Joey. Untungnya Joey tidak mudah terpancing atas adegan yang Naku lakukan. Terlihat jelas, meskipun usianya jauh di bawah Naku. Sikap Joey jauh lebih dewasa berkali-kali lipat darinya. Tidak seperti Naku yang masih suka menunjukkan ambisi, kesombongan ataupun arrogan.


Yola benar-benar terkejut atas kemenangan yang di raih sang kakak, apa lagi melihat sikap Naku sekarang membuat Yola merasa kesal. Ini semua tidak seperti apa yang Yola bayangkan sebelumnya. Yola berpikir Naku tidak akan bisa memenangkan permainan ini, tetapi sekali capit langsung memecahkan skor lebih unggul dari Joey.


"Kok bisa kak Naku semudah itu mendapatkannya? Sementara aku berkali-kali melakukannya tidak dapat apa-apa, lalu Kak Joey? Dia juga melakukannya sampai 3 kali baru mendapatkannya. Aneh!"


"Jangan bilang Kak Naku memiliki kelebihan untuk mencapit, iya? Atau Kak Naku merupakan titisan kepiting macam Tuan crab? Huuaa ...."


Eiits, tidak semudah itu ferguso! Permainan ini belum sepenuhnya berakhir, masih ada 3 kali kesempatan untuk Joey.


Yola sangat berharap keberuntungan ada di pihak Joey, sehingga Yola bisa melakukan hal yang sama pada Naku seperti apa yang Naku lakukan saat ini.


"Dek, lihatlah! Baguskan bonekanya, huhh ... Siapa dulu, Naku. Haha ...." ucap Naku penuh ke sombongan.


"Dihh, jangan sombong dulu. Ingat! Di atas langit masih ada langit. Aku percaya, Kak Joey bisa mengalahkan kakak. Lihat aja nanti, kakak akan gigit jari melihat kehebatan Kak Joey. Ya, 'kan. Kak?"


Yola membela Joey penuh rasa ejekan ketika menatap sang kakak, sementara Joey tidak mau berkata apapun. Dia lebih cenderung terdiam untuk membuktikannya, bahwa tidak semua kemenangan harus ditunjukkan dengan cara menyombongkan diri.


"Tidak apa-apa, kakakmu memang hebat kok. Aku akui itu, jadi selamat ya, Kak. Semoga kakak menjadi pemenangnya," ucap Joey, penuh senyuman.


"Woo, jelas!" jawab Naku, percaya diri.


"Sombong amat! Awas, kalah nangis!" sahut Yola, kesal.


"Oh, tidak mungkin seorang Naku kalah!" ucap Naku, sombong.


"Dihhh, liat aja nanti. Aku yakin, Kak Joey akan menang!"


"Nananana ...."


Naku bernyanyi sambil mengejek Yola dan juga Joey, akan tetapi Joey langsung melerai pertengkaran adik kakak itu agar tidak semakin panjang.


Tanpa berlama-lama, Joey langsung memposisikan dirinya untuk memulai permainan pertamanya. Mungkin ini bukan keberuntungannya, dia gagal di percobaan pertama.


Lagi-lagi, Naku terus mengejeknya tanpa henti. Yola yang sudah tidak kuat melihat sifat sombong kakaknya, segera menyuruhnya untuk kembali memainkan permainan ke dua.


Di permainan sepanjutnya Naku tidak bisa kembali meraih kemenangan. Dia juga gagal, untuk mendapatkan boneka keduam. Hanya saja, Naku masih lebih ynggul dari Joey, sehingga tidak membuatnya ketakutan selagi skor mereka 1-0.


Akankah, Joey berhasil memenangkan pertandingan itu demi memberikan pelajaran pada Naku. Atau Joey memilih mengalah, supaya Naku tidak merasa tersaingi? Saksikan terus kisah Naku dan Yola yang semakin hari semakin tumbuh besar dengan sifat random juga kelabilan mereka.


.......


.......


.......


...💜💜>Bersambung<💜💜...