Jangan Renggut Kebahagiaanku!

Jangan Renggut Kebahagiaanku!
Pertanyaan Rio


Mereka bermain dengan wajah yang sangat serius, apa lagi Naku. Sehingga mereka tidak menyadari kalau Becca sudah duduk tepat di belakang mereka di sofa panjang.


Canda-tawa, teriakan kesal dan sebagainya erhasil memecahkan suasana hati Becca. Matanya perlahan mulai berkaca-kaca ketika mengingat kebersamaan diantara Naku, Becca dan juga Gala.


Namun, semua itu berubah setelah Gala diam-diam memiliki istri di belakangnya. Sehingga perdebatan itu mampu merubah sikap Naku menjadi anak yang lebih tertutup dan memilih memendam semuanya seorang diri. Sampai sikap Naku yang awalnya terkenal sebagai anak yang manja dan juga lucu, sekarang telah berubah menjadi datar dan cuek.


Suasana seperti ini memang benar-benar berhasil menyentuh hati Becca. Dia mulai menyalahkan dirinya sendiri, karena sudah menghancurkan impian anaknya.


Akan tetapi, Becca juga sebenarnya tidak ingin ada di posisi yang sulit ini. Apa daya, Becca hanya menerima kenyataan jika takdir kebahagiaan memang belum berpihak kepadanya.


Perlahan Becca tersenyum sambil mengusap air matanya. Lalu menyemangati semuanya dengan penuh keceriaan. Pada akhirnya, Yola menyerah dan tidak ingin lagi main permainan yang menyebalkan itu.


"Huhh, Buma ...."


Suara rengekan Yola membuat Becca merasa gemas. Dia langsung menyingkir dari pangkuan Rio, dan segera berjalan ke arah Becca di belakang.


"Apa, Sayang? Kenapa, hem?" tanya Becca, membalas pelukan Yola.


"Yola capek, kita main yang lain yuk!" seru Yola, di angguki oleh Becca.


"Mau main apa? Buma tidak punya mainan perempuan di sini, jadi--"


"Ndak apa-apa, Buma. Yola unya poncel, kita main di poncel Yola aja ya. Oteh?"


Becca mengangguk perlahan, lalu melihat Yola mengeluarkan ponselnya dari tas kecilnya. Semenjak Yola sekolah, dia memang sudah di bekalkan ponsel, agar kemana-mana Yola bisa menghubungi Rio. Semua itu masih dalam pengawasan Baby sitternya.


Yola menunjukkan beberapa mainannya yang ada di ponselnya. Becca pinb tersenyum, dia merasa sangat kagum dengan Rio yang sudah berhasil mendidik Yola menjadi anak baik. Walaupun, tumbuh tanpa seorang Ibu di sampingnya.


Ponsel yang di berikan juga tidak sampai membuat Yola menjadi kecanduan, semua itu tidak lepas dari pengawasan orang dewasa. Akankah Becca bisa seperti Rio, untuk mengurus Naku seorang diri dan juga membesarkannya tanpa membuatnya menjadi anak yang kurang kasih sayang? Itulah yang masih banyak Becca pelajari dari Rio, bagaimana cara mendidik anak supaya bisa tumbuh dengan baik.


Beberapa jam kemudian, Yola sudah tertidur di paha Becca. Rio yang melihat itu menjadi kasihan, sehingga saat dia ingin memindahkan anaknya. Becca malah menyuruh Rio untuk mengangkat dan membawanya ke kamar tamu meninggalkan Naku yang masih asyik bermain PS.


Setelah menaruh Yola di atas kasur dan di selimuti, tiba-tiba Rio mengatakan sesuatu yang membuat Becca terdiam tidak tahu harus menjawab seperti apa.


"Ke-kenapa, Kakak nanya seperti itu padaku?" tanya balik Becca, untuk menyembunyikan kegugupannya.


"Ya, aku hanya bertanya saja. Apa lagi kamu tinggal menunggu peresmian di persidangan, dan kalau memang kamu masih mencintainya. Ini belum terlambat kok, kamu bisa memperbaikinya, selagi kamu belum benar-benar siap berpisah dengannya. Jadi, apakah tidak ada niatan untuk kamu rujuk atau memperbaiki semuanya sama Gala, gitu? Bagaimana kalau wanita itu hanya menguasai harta suamimu, apa kamu tidak kasihan dengannya?"


Pertanyaan-pertanyaan yang Rio lontarkan kepada Becca, sangatlah sulit untuk di jawab. Dia sendiri pun masih ada sedikit keraguan, akankah harus tetap bertahan atau menyusahi semuanya.


Namun, rasa sakit di dalam dirinya tidak bisa membuat dia bertahan jauh lebih lama. Seakan-akan, Becca ingin hidup bebas tanpa ikatan suami-istri yang pada akhirnya melukai dirinya sendiri.


"Jika kita membicarakan masalah cinta, tidak mungkin aku menjadi orang munafik yang tidak mengatakan kalau aku masih mencintainya sampai detik ini."


"Namun, untuk masalah memperbaiki hubungan. Maaf saja, Kak. Aku tidak bisa! Hatiku benar-benar hancur saat dia telah mengingkari janjinya sendiri, terlepas dia bersalah atau tidak. Jika dia sendiri tidak memberikan peluang, maka pelakor itu tidak akan bisa masuk ke dalam rumah tangga kita."


"Dan jika masalah wanita itu hanya ingin mengambil hartanya. Ya, itu sudah bukan urusanku lagi. Setidaknya aku pernah berjuang untuk menemaninya dan bila wanita itu yang menikmatinya ya sudah. Aku tidak masalah, setidaknya aku bisa bahagia dengan caraku sendiri. Fokusku saat ini hanya ada pada Naku, aku ingin membahagiakan serta memberikan kehidupan yang layak untuknya."


Rio hanya memanggut-manggutkan kepalanya sambil tersenyum. Bukan berarti Rio sedang melihat nasib Becca, melainkan dia takjub atas jawaban Becca yang masih pada pendiriannya sendiri. Padahal Rio tahu, di dalam hatinya pasti dia tidak ingin berpisah. Hanya saja, tekat Becca sudah benar-benar bulat meski terkadang masih suka goyang.


Becca sedikit mengalihkan pandangannya dari Rio, agar dia tidak bisa melihat bola matanya yang sudah mulai berkaca-kaca saat membahas mengenai Gala.


Rio bisa memaklumin semua itu karena Becca menikah sudah 13 tahun lamanya, jadi itu bukanlah waktu yang sedikit. Jadi wajar saja bila masih ada rasa cinta dan kesedihan di dalam lubuk hatinya.


Sampai pada akhirnya, 1 pertanyaan dari Rio lagi-lagi membuat Becca mematung. Dia tidak menyangka pertanyaan itu busa terlontar sebelum waktunya.


.......


.......


.......


...***💜💜>Bersambung