Jangan Renggut Kebahagiaanku!

Jangan Renggut Kebahagiaanku!
Terbawa Emosi


Percecokan terus berlanjut sampai akhirnya, Gala yang sudah tidak tahu harus bagaimana lagi menjelaskan pada istrinya. Langsung bersiap-siap mencari kunci mobil, ketika dia sudah kehabisan kata-kata untuk melawannya.


"Jangan kamu kira aku tidak tahu apa-apa soal permainan kalian di belakangku. Walaupun aku hanya Ibu rumah tangga, tapi aku tahu, Gal. Aku tahu!" pekik Becca penuh emosi.


Dia terus mengikuti kemanapun langkah Gala, tanpa membiarkannya lengah sedikitpun. Becca tidak henti-hentinya selalu berbicara apa pun yang ingin dia utarakan, sampai telinga Gala terasa mulai memanas.


Gala membalikan tubuhnya menatap Becca, lalu menatapnya seakan tidak pernah melakukan apa-apa di belakang istrinya.


"Kamu tahu apa soal aku, hahh? Tahu apa! Kamu itu hanya sedang cemburu sama Lola, makannya kamu bisa berpikir sejauh ini!"


"Coba kalau kamu tidak merasa cemburu, tidak akan kamu menuduh suamimu sendiri melakukan hal yang tidak pernah dia lakukan!"


Suara Gala terdengar sedikit meninggi, begitu juga dengan Becca. Dia tidak ingin terkalahkan suaminya, sehingga emosinya semakin memecak-mecak.


"Apa kamu bilang, cemburu? Cihh, ngapain juga aku cemburu sama wanita seperti dia!"


"Yayaya, terserah kamu aja. Aku mau pergi!"


Dengan cepat Gala langsung memakai jaketnya, lalu mengambil kunci mobil. Ketika Gala mulai meraih pegangan pintu, tiba-tiba Becca kembali menarik tangan Gala dan berusaha untuk menghalangi jalannya.


"Mau kemana?" tanya Becca, manatap tajam.


"Minggirlah, aku mau cari angin!" sahut Gala, menyingkirkan perlahan tubuh istrinya.


"Dari pada aku di rumah harus menghadapi pikiranmu yang tidak jelas itu, mending aku pergi!" sambung Gala.


"Aku belum selesai bicara, Gala!" pekik Becca, terus menghalangi suaminya dengan berbagai cara.


Gala yang benar-benar sudah kehabisan tenang untuk berdebat dengannya, seketika mulai pasrah. Kemudian menatap istrinya sambil berkata. "Apa lagi, Becca? Apa lagi?"


"Astaga, aku itu capek loh, aku capek! Kenapa sih kamu itu tidak bisa mengerti sedikit saja kondisiku?"


"Aku ini kurang apa sama kamu, hem? Kenapa kamu tega berbicara sejahat itu pada suamimu sendiri? Padahal kamu sendiri tahu, aku ini sangat mencintaimu. Jadi, tidak mungkin aku menyakitimu. Lebih baik sekarang kamu buang jauh-jauh pikian itu. Oke?"


Suara tepukan tangan mulai mengiringi suara Gala. Dimana Becca berjalan sambil memutari suaminya, lirikan matanya semakin membuat Gala bingung.


"Coba ulangi lagi, Sayang? Tadi apa katamu? Kamu tidak akan mungkin menyakitiku? Waw, ucapan yang sangat manis."


"Semanis anak yang ada di dalam perut istri mudamu. Sayangnya, kehadirannya tidak membawa kabahagiaan. Melainkan sebuah duka yang sangat menyakitkan bagi semua orang!"


Plak!


Satu tamparan keras mendarat tepat di pipi kanan Becca, hingga dia tersungkur dan terjatuh dalam keadaan duduk tepat di pinggir ranjang.


Terlihat sekali kalau Gala tidak terima, jika anak yang ada di dalam kandungan istri mudanya di anggap sebagai sebuah bencana bagi semua orang.


Becca melirik suaminya dengan tatapan yang sangat menyakitkan. Lalu dia berdiri sambil mengelap sudut bibirnya yang sedikit terluka.


"Sa-sayang, ma-maaf--"


"Jangan dekati aku!"


"A-aku ti-tidak sengaja, a-aku---"


"Menjauhlah!"


"Tidak, aku tidak akan menjauhimu. Mau bagaimanapun aku salah, tidak seharusnya aku terbawa emosi seperti ini. Jadi, aku mohon maaf--"


"Wajar bila kamu terbawa emosi, itu artinya kamu tidak rela jika aku mengatakan hal buruk mengenai anak kesayanganmu!"


"Cukup, Becca. Cukup! Aku ingatkan sekali lagi, kalau aku ini tidak selingkuh dengan Lola. Ngerti kamu!"


"Gala, Gala. Sudah ketahuan, masih saja berbelit. Dasar penge*cut!"


"Becca!"


Tangan Gala hampir saja terangkat, akan tetapi masih bisa dia kendalikan dan menurunkannya. Dimana kedua tangannya mengepal cukup kuat, di penuhi oleh sorotan mata yang sangat tajam menatap istrinya.


"Apa? Kamu mau nampar aku lagi, ya? Ini, tampar aku, Gal. Tampar!"


Becca memukul pipinya sendiri berulang kali. Meski dia terus menantangi suaminya, tetapi Gala bisa melihat dari tatapan Becca kalau dia sangat terluka atas semua kejadian yang menimpanya.


Sampai akhirnya, Gala memutuskan untuk pergi dari rumah dalam keadaan yang penuh emosi. Dia takut bila ketidak stabilan amarahnya bisa kembali melukai istrinya.


Apa lagi ini yang pertama kalinya, Gala mengangkat tangannya untuk menyakiti wanita yang sangat dia cintai. Seumur hidupnya, ketika Gala sedang marah atau pun setres dia tidak akan pernah menyakiti siappun kecuali dirinya sendiri.


Namun, kali ini berbeda. Dia telah lepas kendali, tanpa di sadari perlakuannya yang seakan membela istri mudanya malah semakin menyakiti wanita yang dia cintai.


Luka yang ada di dalam hati Becca kian melebar. Dia sendiri tidak menyangka, kalau suaminya lebih memilih simpanannya dari pada dirinya sendiri. Seolah-olah, Gala telah melupakan siapa yang telah menemaninya bertahun-tahun dalam keadaan suka maupun duka.


Tangis Becca pecah ketika dia menyaksikan suaminya pergi dengan membela wanita yang jelas-jelas sudah merusak rumah tangganya.


Becca berteriak keras untuk meluapkan semua emosi di dalam tubuhnya, hingga kamar yang selalu terlihat rapi kini telah menjadi kapal pecah layaknya terombang-ambing di tengah laut.


.......


.......


.......


...***💜💜>Bersambung