Jangan Renggut Kebahagiaanku!

Jangan Renggut Kebahagiaanku!
Menutupi Perasaan


"Ma-maksud Kakak sayang banget sama aku, i-itu apa?" tanya Becca terbata-bata. Badannya terasa kaku dengan pandangan mata menatap ke arah Rio penuh keseriusan.


Setelah mendengar semua itu dari bibir Becca, seketika Rio langsung melepaskan genggaman tangannya sambil membolakan matanya. Lalu, secepat mungkin Rio membuang wajah ke arah samping.


Rio memejakan matanya secara terpaksa, lantaran dia telah menggerutukki kebo*dohannya sendiri saat kelepasan untuk mengatakan kalimat tersebut.


Mungkin, kalimat itu memang berasal dari hati Rio. Hanya saja, Rio pikir ini bukanlah waktu yang tepat, serta perasaan yang timbul sekarang, tidak boleh sampai terus tumbuh di antara mereka. Itu bisa akan mengganggu persahabatan mereka yang sedang di jalankan.


"Astaga, Rio bodoh! Kenapa kau mengatakan seperti itu pada Becca, bagaimana jika dia berpikir kalau kau itu suka dengannya, hem? Bisa-bisa persahabatan kalian akan hancur*!"


"Ingat, O! Persahabatan bila di bumbui oleh kasih sayang, jatuhnya tidak akan benar. Niatmu dari awal hanya menganggap Becca sebagai adikmu. Maka jadikan rasa sayang itu sebatas sahabat atau adik, tidak lebih dari itu. Paham!"


Rio berusaha menanamkan rasa sayang itu agar tidak sampai keluar pada jalan yang seharusnya. Rio hanya takut, jika perasaan yang ada di dalam hatinya bertepuk sebelah tangan.


"Ja-jangan bilang kalau Kakak itu sudah men---"


Rio langsung menyambar sebelum Becca selesai mengatakan sesuatu, di mana Rio sudah tahu arah perkataan Becca akan lari ke mana. Sebelum menimbulkan kesalah pahaman lagi, Rio segera meluruskannya.


"Ti-tidak, apa yang ada di pikiranmu itu tidak benar! Me-memangnya kalau aku sayang sama kanu tidak boleh? Toh, sa-sayang i-itu banyak artiannya bukan? Bisa jadi sebagai pasangan, teman, dan juga saudara. Nah, sa-sayang yang aku ka-katakan tadi itu sebagai saudara. Ka-kamu itu sudah aku anggap sebagai adikku, jadi wajar saja bila aku sayang kamu. Ja-jadi, jangan ge'er dululah!"


Perkataan Rio ini memang masuk akal, tadinya Becca berpikir kalau Rio sudah menaruh hati padanya. Akan tetapi, ketika mendengarkan penjelasan itu malah membuat Becca salah menanggapi rasa sayang yang Rio katakan.


"O-oh begitu, ma-maaf kalau aku sudah berpikir yang tidak-tidak tentang rasa sayang itu hihi ...."


Becca terkekeh kecil untuk membuat suasa di


dalam mobil agar tidak menjadi tegang. Melihat Becca tertawa, hatinRio menjadi sangat tenang, usaha dia buat mengalihkan Becca, ternyata berhasil. Rio tidak ingin Becca kembali berpikir yang tidak-tidak tentangnya.


Padahal, kenyataannya. Rio memang sudah memiliki perasaan pada Becca. Hanya saja dia selalu mencoba membuang semua perasaannya, demi kenyamanan mereka bersama.


"Huhh, ada-ada saja. Mana mungkin aku suka sama kamu, udah cerewet, berisik, aneh pula. Bisa-bisa rumahku yang tadinya tenang malah jadi pasar!"


"Hyaak ... Kakak pikir aku juga mau nikah sama Kakak, gitu? Idishh ... Ogah! Kakak itu tidak termasuk tipeku, udah enggak romantis, kaku, terus juga enggak pernah peka lagi. Bisa-bisa nanti aku hidup kaya manekin, lempeng aja!"


"Dihh, enak aja! Kamu itu yang tidak peka, kenapa jadi ke aku-aku, dasar!"


"Nahkan, kaya gini mau jadi suamiku? Huhh, malas! Pria enggak ada ngalah-ngalahnya sama perempuan, yang ada nanti kita akan berantem terus setiap hari!"


"Mana ada, ya? Kamu aja itu yang cerewet!"


"Loh, kok aku?"


"Ya, kenapa? Masalah buat loh, wleep!"


"Hem, mulai meledek ya, mulai!"


"Apa? Bodo amat, wleep, wleep!"


Becca terus menjulurkan lidahnya bagaikan anak kecil yang sedang mengambek sambil meledek. Rasa gemas di lubuk hati Rio membuat dia langsung mengelitiki Becca hingga mereka kembali tertawa bersama.


"Huaa ... Hahah, geli, Kak. Geli!" pekik Becca, saat tubuhnya mulai tidak terkontrol akibat kelitikan dari tangan Rio.


"Haha, bodo! Siapa suruh terus meledekku, hem? Rasakan ini!" tegas Rio, sambil tertawa melihat wajah lucu Becca.


"Haha, ampun, Kak. Ampun! Nanti aku ngompol di sini bahaya, mobilmu bisa bau pesing, hihi ...." ucap Becca, terus tertawa.


"Gapapa, kapan lagi aku melihat seorang Becca ngompol, hem? Pasti seru, haha ...." sahut Rio.


Becca yang sedikit kesal, mencoba untuk berusaha melepaskan tubuhnya dari terkaman Rio. Akan tetapi tidak, bisa sampai suatu seketika entah ada apa. Tiba-tiba tangan Becca memegang sesuatu hingga membuat kursinya langsung berubah posisi menjadi tiduran.


Rio pun spontan ikut terjatuh di mana wajahnya dekat sekali dengan wajah Becca. Untungnya, kedua tangan Rio langsung menahan tubuhnya sendiri sampai akhrinya hidung mereka menempel satu sama lain. Jika tidak, kemungkinan bibir mereka sudah menempel untuk kedua kalinya.


Keduanya saling menatap satu sama lain, di mana matanya memancarkan sesuatu yang tidak bisa mereka jelaskan. Napas keduanya juga mulai tidak beraturan, bahkan tubuhnya pun menjadi kaku. Sedikit saja melakukan pergerakan maka, sudah di pastikan bibir mereka kembali bersentuhan.


Kurang lebih 1 menit pada posisi yang sama, seseorang mengetuk kaca pintu mobil milik Rio dengan cukup kasar.


Dengan penuh keterkejutan, Rio langsung bangkit duduk secara normal sambil menetralkan perasaannya. Sama seperti Becca, dia juga berpura-pura untuk membenarkan pakaiannya padahal tidak terjadi sesuatu pada mereka.


.......


.......


.......


...***💜💜>Bersambung