
Yola terkekeh kecil membuat semuanya ikut tersenyum. Tidak hanya itu, Yola juga diberikan satu pelukan hangat oleh dokter cantik tersebut sambil mendoakan agar cita-cita Yola sebagai dokter bisa terkabul.
Wajah Yola terlihat begitu senang saat mendapatkan suport dari dokter. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan itu, Yola meminta Naku untuk memfotokan dirinya bersama dokter dan suster cantik tersebut.
Beberapa foto Naku ambil dengan bagus agar bisa dijadikan dokumentasi tersendiri dialbum khusus si kecil. Tidak hanya Yola yang berfoto dengan sang dokter. Becca juga ikutan, sampai satu keluarga. Untuk beberapa menit suster beralih profesi menjadi fotografer mereka penuh rasa senang.
Selepas itu, Becca diberikan satu resep yang harus ditebus untuk menjaga kandungan Becca agar tetap sehat sampai menjelang kelahiran nanti. Apa lagi usia Becca tidak semuda wanita hamil lainnya, sehingga akan ada banyak kemungkinan hal buruk bisa terjadi pada kandungan kalau tidak dijaga dengan baik.
Mereka langsung berpamitan pada dokter beserta asistennya, lalu keluar dalam keadaan wajah terlihat bahagia. Ternyata, kebahagiaan sesungguhnya bukan hanya ketika mereka bisa melihat ataupun mendengar detak jantung si kecil yang ada di dalam kandungan Becca, melainkan mereka juga berhasil memancarkan sinar kebahagiaan membuat orang lain ikut serta merasakan, meskipun dilakukan secara tidak sengaja oleh Yola.
...🌟🌟🌟🌟🌟...
Setelah obat ditebus oleh Rio, mereka semua kembali berjalan meninggalkan rumah sakit. Hanya saja, ketika lift terbuka lebar, tiba-tiba seseorang muncul menampakkan wajah tampannya membuat Yola terpanah.
"Loh, Joey?" ucap Becca terkejut.
"Ehh, Tante, Om. Silakkan masuk!" titah Joey menahan pintu lift agar tidak tertutup.
Mereka semua masuk ke dalam membuat Yola tersadar lantaran ulah Naku yang mengusap wajahnya begitu kasar.
"Aaa ... Kakak!" rengek Yola, kesal.
"Apa? Udah ayo masuk! Mau ditinggal?" tanya Naku, datar.
"Huaaa, janganlah. Enak aja, cantik-cantik begini main ditinggal. Dasar nyebelin!"
Yola segera masuk ke dalam lift, lalu lift pun tertutup. Ketika sudah berada di dalam, baru saja Yola ingin berjalan mendekat ke arah Joey. Lagi-lagi, Naku membuat onar dengan menarik baju bagian leher belakang Yola bagaikan kucing.
"Hyaakk, Kakak!" pekik Yola.
"Jadi cewek itu jual mahal dikit, jangan kemurahan. Ya, kali kalah sama bawang, cabai di pasar!" sahut Naku, cuek.
"Astaga anak ini," geram Becca tersenyum menatap kedua orang tua Joey yang ikut tersenyum. "Kakak, ayo lepaskan adikmu itu. Kamu gak malu dilihatin orang tua Joey, kasihan adikmu itu nanti kecekek!" Lirikan maut yang Becca berikan membuat Naku melepaskan Yola.
Setelah itu Yola berhambur memeluk Becca sambil menunjukkan wajah sedihnya, padahal itu kesempatan agar Yola bisa berada di samping Joey. Tatapan tajam Naku pada Joey, sebagai isyarat kalau dia tidak boleh mendekati Yola. Joey hanya menanggapi Naku dengan senyuman kecil.
"Maafkan anak-anak saya, Tuan, Nyonya. Mereka memang suka begitu," ucap Rio.
"Tidak apa-apa, Tuan. Kami bisa memaklumi, namanya juga anak-anak wajar bila bertengkar. Asalkan jangan sampai menimpulkan dendam dan kesombongan hati saja. Itu yang bahaya," jawab Ragil diangguki oleh Rio.
"Oh, ya, Tante, Om. Perkenalkan ini orang tua Joey," sahut Joey membuat mereka saling berjabat tangan satu persatu.
"Wah, cantik sekali. Apa dia Yola yang sering kamu ceritakan pada Mamih, hem?"
Pertanyaan dari Rani berhasil membuat semua terkejut, termasuk Joey sendiri. Demi menjaga pemikiran mereka agar tidak salah paham, Joey langsung menjelaskan apa yang Rani katakan.
"E,eee ... Ma-maksud Mommy, i-itu, Tante, Om. Eee ... Joey---"
"Mommy!" ucap Naku, kesal. Aibnya dibuka oleh Becca yang berhasil membuat mereka semua tersenyum.
Wajah Naku seketika memerah, entah karena menahan rasa malu atau marah atas ucapan yang Becca katakan pada semua orang.
Tidak lama pintu lift terbuka, membuat mereka satu persatu keluar dari lift yang sudah ada di lantai dasar rumah sakit arah keluar.
"Sepertinya kami akan makan siang, apakah kalian ingin bergabung?" ajak Rio, berhasil membuat hati Naku semakin terasa panas. Seakan-akan Rio malah lebih mendekatkan Yola sama Joey, padahal mereka masih sangat dibawah umur.
Namun, itu hanya pemikiran Naku yang terlalu posesif oleh adik tersayang. Jelas-jelas di sini Rio hanya sekedar ingin mengenal orang tua dari teman anak-anaknya agar bisa memastikan, apakah Joey layak berteman dengan Yola atau tidak.
"Boleh, kebetulan kami juga mau makan siang sebelum pulang." Ragil tersenyum lebar sambil berjalan bersebelahan dengan Rio.
"Baiklah, Tuan Ragil nanti ikuti saja di belakang. Saya akan menunjukkan tempat makan favotir keluarga saya yang cukup terkenal enak dari segi rasa, menu juga tempatnya sangat nyaman untuk berkumpul."
"Wah, boleh tuh, hitung-hitung kita saling berkenalan. Habisnya dari kemarin saya dan istri penasaran seperti apa gadis kecil yang sering Joey ceritakan. Sayangnya, dai tidak tahu rumah juga kontaknya. Jadi, apa boleh buat. Kami hanya bisa menunggu keajaiban Tuhan yang mempertemukan seperti Joey bertemu dengan Joey, dan akhirnya Tuha menjawab semuanya."
"Hehe, maafkan istri saya. Waktu itu belum sempat mengontek Joey, hanya menyimpan nomernya karena pada saat itu kami fokus dengan kesembuhan tangan Yola. Sampai seketika, ponsel istri saya hilang entah di mana. Dari situ kami juga tidak bisa menghubungi Joey, saat Yola ingin bermain dengannya."
Penjelasan itu menjawab semua pertanyaan Joey setiap malam yang dicurahkan pada bintang juga langit dibalkon kamarnya. Ternyata, dugaan Joey salah. Keluarga Yola tidak seburuk apa yang ada di dalam isi kepalanya.
Mereka berbincang-bincang kecil sambil terus berjalan menuju parkiran. Setelah itu, mobil mereka saling beriringan satu sama lain menuju rumah makan.
Di dalam mobil Yola terlihat begitu senang, hari ini merupakan hari yang tidak akan bisa Yola lupakan. Dia kembali dipertemukan dengan pria yang selalu menolongnya. Berbeda sama sang Kakak, wajah Naku terlihat murung juga kesal kepada Rio yang malah mengajak mereka semua.
"Ckkk, Daddy ngapain sih, ngajak mereka makan sama kita? Emangnya enggak cukup kita makan beremoat aja di Resto? Lagian ngapain juga ngajak orang luar, ngabisin waktu aja!" ucap Naku, mendapat lirikan dari Yola.
"Kakak kenapa sih, enggak suka banget kalau kita dekat-dekat sama Kak Joey. Memang dia salah apa? Kak Joey itu orang yang selalu tolong Yola loh," jawab Yola, bingung melihat respons ketidak sukaan Naku terhadap Joey.
"Ya, memang dia orang yang menolongmu, sekaligus membuatmu celaka hampir berapa bulan kamu tidak bisa jalan normal. Kaya gitu masih kau sebut penolong, cihh!"
"Astaga, Kakak. Mulai deh, posesifnya. Lagi pula kalau Yola mau berteman dengan siapapun ya, silakkan. Mommy sama Daddy tidak pernah melarangnya, kecuali melebihi dari sekedar berteman. Kamu juga waktu itu begitu, 'kan? Sama siapa itu namanya?"
"Ohh, ya. Mommy ingat, namanya Naila. Gadis berpipi chubby dengan postur tubuh yang gemoy, membuat Mommy terkejut ketika mengetahui kalau putra Mommy yang tampan ini ternyata diam-diam telah menyembunyikan wanita di dalam selimut hihi ...."
Mata Naku membola besar, ketika Becca menceritakan bagaimana pertemuan pertama Naku sama Naila yang sampai saat ini Becca belum melihatnya kembali.
Rio hanya bisa tersenyum melihat reaksi Naku mulai berubah memerah akibat rasa malu lantaran semua dibongkar oleh sang Mommy. Yola yang tidak mau kalah, kembali meledek Naku sambil menyenggol tubuhnya. Semua tertawa bersama saat mendapati Naku telah menyerah dan memperbolehkan Joey untuk ikut makan siang bersama.
.......
.......
.......
...💜💜>Bersambung<💜💜...