Jangan Renggut Kebahagiaanku!

Jangan Renggut Kebahagiaanku!
Perjaka Tong-tong


"Ya-ya, maaf. Lagian Mommy, Naku udah izinin Mommy nikah lagi dengan doa yang baik. Sekarang Mommy malah doa'in Naku yang jelek. Emangnya Mommy mau, anakmu ini yang ganteng dan baik hati tidak sombong jadi perjaka ting-ting? Enggak 'kan, makannya doa'in yang baik!"


"Perjaka tong-tong kali, mana ada ting-ting. Di kata janda ting-ting yang rasanya masih pera*wan kaya Mommy ini, hihihi ...."


"Idihh, udah tua begitu masih ada mengkhayal. Mana ada janda ting-ting, toh Mommy udah enggak pera*wan. Apa lagi sawahnya udah panceklik, hahaha .... Kabur!"


"Hyaakkk ... Dasar anak si*alan! Bisa-bisanya ngomong gitu sama Mommy, awas aja besok enggak akan Mommy kasih uang jajan!"


"Bodo amat, Naku masih ada tabungan sendiri. Jadi tidak takut, wleee!"


Naku meledek Becca dari balik pintu, ketika satu bantal ingin Becca lemparkan. Naku sudah kembali berlari ke arah kamarnya, kemudian tidak lupa untuk menguncinya rapat-rapat. Agar Becca tidak sampai mengejarnya ke dalam kamar.


"Dasar anak kurang asem, bisa-bisanya ngatain sawahku panceklik. Ehh, tapi iya juga ya. Pasti dia sudah kering, secara usiaku tidak muda lagi. Apa nanti Kak Rio bisa nerima sawahku?"


"Hyaakk ... Apaan sih, Becca! Ngapain jadi mikirin itu sih, akhhhh ... Ini semua gara-gara anak itu, dasar ngeselin!"


"Ehh, tunggu! A-aku baru kali ini melihat Naku suka bercanda, biasanya dia terlihat datar dan lempeng-lempeng aja. Tapi, kok sekarang dia? Hihi, gapapalah. Ada kemajuan, itu tandanya hubunganku sama Kak Rio membawa perubahan buat Naku. Dia yang biasanya terlihat lebih cool, kini sudah mulai bisa menyeimbangi dan bisa memposisikan kapan dia harus bercanda dan kapan dia harus serius."


"Terima kasih, Tuhan. Engkau sudah menjawab doa-doaku, aku sendiri tidak menyangka. Ternyata berbicara dari hati ke hati dengan Naku, benar-benar bisa membuatnya luluh. Dan aku sadar, bahwa anakku tidak sekeras apa yang aku pikirkan pada saat itu. Jika dia di berikan kenyamanan, cinta kasih pasti dia bisa luluh. Berbeda jika aku gunakan emosi dan sedikit nada tinggi pasti Naku akan semakin memberontak dan tidak bisa di kendalikan."


Becca tersenyum lebar, lalu dia beranjak dari ranjang pergi ke kamar mandi untuk membersihkan wajahnya agar sedikit segar ketika tertidur. Dan, bisa juga mengurangi kebengkakan di matanya saat bangun tidur di pagi hari.


Sementara Naku, dia langsung merebahkan dirinya di kasur sambil tertawa sekilas. Kemudian dia terdiam dengan air mata yang mulai menetes di pipinya. Tatapan mata Naku, melihat ke atas langit-langit kamarnya yang hanya terlihat putih bersih tanpa sedikit pun noda.


Namun, bukan itu masalahnya. Tanpa di sadari bayang-bayang masa lalu mulai tersetel di langit-langit kamarnya seakan-akan rekaman memori semua kebahagian mereka bertiga kembali beterbangan.


Di mana masa kecil Naku yang sangat bahagia selalu berputar. Mereka tertawa, bermain, juga bercanda selalu ada di kenangan-kenangan masa kecil yang penuh keindahan, sehingga tidak bisa Naku lupakan begitu saja.


Naku akan menjadikan kenangan indah itu sebagai pelajaran juga bukti, kalau kelak ketika dia sudah berumah tangga. Tidak akan membiarkan semua itu berlalu, dia akan berusaha menjadi kepala rumah tangga yang akan menyayangi serta melindungi anak dan istrinya. Tidak akan menyakiti ataupun mengkhianati mereka, seperti apa yang Gala lakukan pada mereka.


"Dari dulu Naku tidak pernah minta apa-apa, bukan? Naku hanya minta satu, keluarga yang utuh. Terdiri dari Daddy, Mommy juga Naku. Kalau pun ada adik, itu malah jauh lebih bahagia. Bukan, perpisahan seperti ini yang Naku harapkan. In benar-benar jauh dari apa yang Naku inginkan dari kalian."


"Namun, Naku tidak bisa merubah takdir alam yang sudah Tuhan berikan pada keluarga kita. Naku pikir, Daddy sama Mommy bisa kembali. Nyatanya Naku salah, Daddy sampai detik ini masih mementingkan perusahaan Daddy dari pada kebahagiaan kita. Maka dari itu, maaf jika Naku tidak lagi ada di pihak Daddy!"


"Ya, memang. Sampai kapan pun, Daddy akan tetap Daddy Naku itu tidak bisa di sangkal lagi. Daddy tetap akan ada di hati Naku. Hanya saja, semua rasa kagum yang Naku miliki untuk Daddy sudah benar-benar sinar. Daddy bukan lagi panutan super hero yang selama ini Naku idolakan. Maaf, bila Naku salah dalam menjadikan Daddy sebagai contoh baik yang kelak akan Naku pegang semasa hidup Naku. Tapi, kali ini. Naku akan hidup sesuai dengan kebenaran yang Naku yakini, tidak lagi terfokus pada idola yang selama ini sudah berhasil mengecewakan Naku."


"Terima kasih, Dad. Selama bertahun-tahun Daddy berusaha untuk membahagiakan Naku dan Mommy, sekali lagi terima kasih. Akan tetapi, tekad Naku sudah bulat. Naku telah mengizinkan Mommy kembali memilih pilihannya. Dan, Naku juga akan mendoakan Daddy agar Daddy bisa kembali menjadi pria yang baik serta bisa meneruskan hidup meskipun bukan bersama Mommy."


"Naku ikhlas, jika impian Naku berhenti sampai di sini. Setidaknya Naku sudah berusaha mengingatkan kalian untuk tidak melakukan sesuatu yang bisa membuat kita berpisah. Nyatanya, salah satu telah menggalang semua itu. Maka, ini sudah resikonya untuk kita berpisah. Daddy tenang aja, Naku akan jaga Mommy sampai kapan pun itu. Dan, Naku juga tidak akan melupakan kalau Daddy tetaplah Daddy yang dulu pernah Naku banggakan."


Senyuman itu terukir jelas di bibir Naku. Dia berusaha untuk melepas semua beban yang selama ini dia pikul agar tetap mewujudkan mimpinya, demi mereka bisa kembali hidup bersama dalam kebahagiaan.


Mungkin, sudah saatnya Naku berubah menjadi pria yang jauh lebih dewasa lagi. Di mana dia akan menjadi tiang bagi Becca ke mana saja dia melangkah. Baik jatuh atau tidak, Naku akan tetap akan berada di dekatnya menjadi satu-satunya penolong di saat semua orang tidak lagi bersamanya.


Setelah lega melepaskan semua beban pundaknya. Perlahan Naku memejamkan kedua matanya karena di rasa tubuh dan pikirannya sudah tidak kuat lagi untuk melanjutkannya. Biarlah semua ini Naku pasrahkan pada Tuhan, jalannya yang kelak akan menunjukkan Naku langkah apa yang harus dia tempuh agar keluarganya yang baru tidak kembali pupus seperti dulu.


Lama kelamaan, Naku tertidur dalam posisi air mata masih menetes. Sebenarnya, dia begitu rindu dengan keadaan di masa kecil. Hanya saja, kenyataan saat ini tidaklah sama seperti dulu. Sehingga, Naku harus tetap kuat untuk mendampingi Becca sampai kapan pun dan sebagai penolong Gala ketika dia salah dalam mengambil langkahnya.


.......


.......


.......


...💜💜>Bersambung<💜💜...