
Perlahan Ragil mulai mendekati sang istri yang sudah dalam keadaan tengkurep di atas ranjang, lalu tangan Rani langsung mengambil guling sebagai penyanggah kepala. Isak tangis Rani yang begitu mendalam membuat dadanya terasa sangat sesak.
Rani hanya bisa menangisi penyesalannya karena sudah mengatakan semua kalimat itu kepada suami, hingga sang anak menjadi salah paham. Salah satu tangan Rani memukul ranjang berulang kali demi melampiaskan semua rasa kesal yang ada di dalam hati.
Isak tangis sang istri terdengar sangat menusuk hati Ragil, baru kali ini Rani menangis layaknya anak kecil yang habis dipukul orang tua menggunakan benda tumpul begitu keras. Akan tetapi, tangis Rani jauh lebih menyayat hati Ragil yang jarang sekali melihat sang istri menangis.
Tangisan Rani berhasil membuat hati Ragil seperti tertampar, walaupun dia tidak pernah melakukan KDRT tetap saja tangis Rani pecah melebihi seperti tamparan keras baginya.
Ragil merasa sangat menyesal karena hari ini dia sudah melewati batasan yang seharusnya yidak boleh dilewati. Rasa gugup dan takut mulai menyelimuti Ragil membuat dia segan untuk menyentuh sang istri.
Jantung Ragil terus berdebar jika dia hanya terdiam diri melihat sang istri menangisi bagaikan seseorang yang lagi dipukuli. Tidak tahu mengapa ketika Ragil sudah duduk di tepi ranjang lalu salah satu tangan Ragil mulai terangkat untuk mengelus kepala Rani, tiba-tiba saja kembali dia urungkan niat tersebut akibat kesal pada dirinya sendiri.
"Suami macam apa kau, Ragil! Semua pekerjaan yang seharusnya dilakukan bersama, kau limpahkan semua pada istrimu, dasar egois!"
Ragil memukul kepalanya secara terus-menerus, sesekali menjambak keras rambut sampai ada beberapa helai yang rontok akibat tarikan tangan yang sangat kuat.
"Kau benar-benar tidak becus jadi suami mau pun ayah, kelakuanmu bahkan melebihi penjahat yang hanya bisa menyiksa batin juga mental keluargamu sendiri. Suami tidak berguna!"
Suara tamparan, pukulan semua terdengar sangat nyaring membuat Rani menghentikan tangisnya lalu refleks menoleh ke arah Ragil. Betapa terkejutnya dia saat mengetahui sang suami terus menyikasa diri demi melampiaskan rasa amarah.
Rasa kesal juga tekanan yang ada di dalam hati Ragil, membuat dia tidak tahu harus melakukan apa selain menyakiti dirinya sendiri. Rani langsung bangkir lalu menahan kedua tangan Ragil dengan cara memeluk seerat mungkin.
"Stop, Gil. Stop!" teriak Rani terus menahan tubuh Ragil supaya tidak lagi melakukan adegan berbahaya.
"Biarkan saja, Ran. Aku ingin memberikan hukuman karena mulut ini, anak serta istriku menjadi tersakiti!" sahut Ragil berusaha melepaskan diri, meskipun Rani sekuat tenaga menahan kedua tangan Ragil agar tidak mengulanginya.
"Jangan lakukan ini lagi, aku mohon, Gil. Sudahi tingkah konyolmu itu, aku tidak ingin kamu lukai dirimu sendiri hanya karena kamu kecewa. Aku tidak mau, Gil. Aku tidak mau!" seru Rani.
Tangis Rani kembali pecah ketika melihat suaminya yang lebih memilih menyakiti diri daripada mencari solusi agar masalah tidak semakin berlarut. Segenap kekuatan Rani kerahkan demi melindungi wajah Ragil dari tangannya sendiri yang terus berusaha memberikan pelajaran.
Semua Ragil lakukan supaya tidak mengulangi semua perkataan kasar, guna menyakiti keluarganya sendiri. Akan tetapi, tanpa Ragil sadari perkataan kasar hanya bisa dicegah apabila Ragil berniat sedikit saja ingin meredakan emosi setiap kali mendapatkan masalah. Bukan berarti semata-mata mulutlah yang menjadi biang kerok, jelas-jelas mulut itu sebagai alat komunikasi yang baik agar Ragil bisa mengutarakan apa yang ingin disampaikan.
Namun, tetap saja Ragil keras kepala untuk menyalahkan semua yang terjadi pada mulutnya yang memang tidak memiliki salah apa pun. Wajah Ragil terlihat sangat bingung, satu sisi dia tidak ingin kembali melukai hati Rani dengan perkataannya yang selalu menyudutkan sang istri.
Akan tetapi, di satu sisi lainnya lagi Ragil juga tidak mengerti bagaimana cara mengungkapkan kata maaf yang baik dan benar supaya sang istri bisa kembali memaafkan kesalahan yang dia lakukan.
Sampai akhirnya Ragil memilih untuk menyakiti diri, lantaran dengan begitu Ragil bisa merasa puas. Dia berharap, ini adalah perkataan menyakitkan terakhir yang dia katakan pada sang istri. Dikarenakan Ragil ingin kembali merasakan kebahagian saat awal-awal pernikahan mereka, sebelum Rani mendapatkan jabatan bagus di Perusahaan tempat dia bekerja.
"Lepaskan aku, Ran. Lepasin!" titah Ragil terus mencoba melepakan diri dari pelukan Rani.
"Aku tidak pantas kau bela, jelas-jelas aku sudah menyakiti kalian dengan mulutku ini. Jadi, biarkan aku melukainya supaya dia tidak bisa berbicara lagi!" ucap Ragil yang sudah berhasil melepaskan diri dari Rani.
Suara tamparan pipi dan mulut kembali terdengar membuat Rani berulang kali berteriak agar sang suami menghentikan adegan konyol tersebut. Sayangnya, Ragil tidak menggubris sang istri sampai membuat pipinya terdapat bulatan merah yang pasti terasa panas. Ditambah sudut bibir Ragi terluka cukup parah lantaran ada sirup marjan yang sudah mengalir.
"Cukup, Gil. Aku bilang cukup, ya cukup! Jangan seperti ini aku tidak mau kamu terluka, maafkan aku hiks ...."
Tangis Rani kembali pecah, dia terus berusaha menahan kedua tangan sang suami meski beberapa kali kembali terlepas. Akan tetapi Rani tidak menyerah begitu saja, sampai seketika Ragil tidak sengaja mendorong Rani hingga terjatuh di ranjang.
Melihat suaminya tetap tidak ingin menyudahi semua itu, Rani kembali duduk menatap Ragil yang masih berulah. Tidak ada jalan lain menghentikan Ragil selain jalan yang Rani ambil saat ini.
Plak!
Terdengar satu tamparan keras mendarat di pipi cantik Rani sampai membekas tato lima jari secara instan. Betapa lembutnya kulit perempuan, padahal baru sekali pukul sudah langsung berefek. Berbeda sama Ragil yang harus berulang kali baru bisa mendapatkan hasil maksimal.
Kejadian tersebut membuat Ragil terkejut bukan main, dia syok berat melihat sang istri terluka. Ketika Rani ingin kembali menampar pipi satunya lagi, tangan Ragil spontans menahan kedua tangan Rani sekaligus.
"Kenapa kamu tahan tanganku, Gil. Kenapa?" tanya Rani penuh penekanan, kedua matanya melotot akibat kecewa terhadap sikap Ragil yang tidak bisa mengendalikan diri.
"Tatap aku, Ran. Tatap mataku!" titah Ragil sambil menahan kedua tangan Rani sekuat tenaga, hingga Rani tidak bisa mencari celah untuk melepaskan. Meskipun Ragil menggenggam tangan sang istri cukup kuat, tetap saja dia tidak sampai menyakiti Rani dengan tangannya.
Rani menatap Ragil sesuai perkataannya. Mata mereka beradu satu sama lain yang membuat Ragil kembali memberikan pengertian pada sang istri.
"Ada apa denganmu, Sayang? Kenapa kamu malah ikut melakukan ini, kamu itu tidak salah, Sayang. Kamu tidak salah, aku yang salah, aku!"
"Jadi, please ... please, jangan lakukan ini lagi. Biar aku saja, aku begini karena aku sadar aku salah. Mulutku ini sudah sangat menyakiti kalian secara langsung atau pun tidak, intinya. Kamu tidak salah, aku yang salah. Jangan lagi seperti ini, aku mohon!"
"Lihatlah, bibirmu yang tipis ini tidak lagi terlihat manis seperti sebelumnya. Akibat luka kecil yang menempel, seakan membuat bibi itu tidak lagi terlihat indah dipandang. Sekali lagi jangan lakukan ini, aku tidak bisa melihatmu terluka. Hatiku sakit, Sayang. Sakit!"
Ragil menepuk berulang-ulang dadanya dengan perasaan yang sedih melihat kondisi sang istri seperti ini. Walaupun, luka Rani tidak sebanding dengan lukanya tetap saja luka Rani seperti kobaran api neraka yang langsung membakar tubuh Ragil.
.......
.......
.......
...💜💜>Bersambung<💜💜...